Kamis, November 23, 2023

Urgensi Kesepadanan Hijab Materi dan Rohani

Islam merupakan agama yang selalu memberikan hal terbaik bagi pemeluknya. salah satunya mengenai masalah hijab, pada zaman jahiliyah dahulu manusia terbisa untuk tidak menutupi auratnya. Kemudian Islam datang menyempurnakan aturan manusia dalam berpakaian. Yaitu dengan diwajibkannya memakai hijab yang bertujuan memberikan kehormatan bagi pemeluknya dalam berpakaian.

Bagi seorang wanita muslimah, hijab yang hakiki adalah menutup seluruh anggota tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangan, dan tidak menghias dirinya dengan dandanan yang dapat menjerumuskannya kepada fitnah ketika keluar rumah. Dengan demikian terdapat dua bentuk hijab dalam hijab hakiki yakni hijab materi yaitu menutup seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, dan juga hijab rohani dimana sosok wanita sebagai manusia di tengah-tengah masyarakat, tidak berusaha tampil dengan dandanan yang menarik perhatian sebagaimana yang tertera dalam surah al-Nur ayat 31. Namun di zaman sekarang banyak yang beralasan untuk meninggalkan hijab dengan mengatakan bahwa pendidikan dan belajar sudah cukup sebagai jaminan untuk menciptakan hijab rohani yang membuat pria dan wanita tidak memerlukan hijab materi yang pelaksanaannya diharuskan oleh Islam dan banyak pula wanita yang memakai jilbab dengan tidak bersandarkan kepada kaidah komitmen keagamaan, yang mengharuskan adanya keterbukaan (patuh) terhadap perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya yang jauh dari kecenderungan-kecenderungan diri dan perubahan-perubahan situasi sosial. Bagi mereka, jilbab sekadar sebuah tradisi di antara tradisi-tradisi lain. 


Kita juga menemukan sebagian orang tua-meskipun mereka yang religius-membenarkan di depan anak-anak perempuan mereka keharusan memakai jilbab, tetapi mereka hanya menganggap bahwa pencopotan jilbab merupakan aib yang berakibat kepada ancaman kritikan orang terhadap anak-anak perempuan mereka, dan itu merusak kehormatan ayah, keluarga, dan sebagainya, bukan sebagai kewajiban seorang pemeluk Islam. Para orang tua itu menanamkan pada benak anak-anak gadis bahwa masalah jilbab berhubungan dengan adat-istiadat dan tidak berkaitan dengan komitmen keagamaan dan dengan ketakwaan. Oleh karena itu, terkadang kita menemukan para pemudi yang rajin melakukan salat, puasa, dan terikat dengan pelbagai hukum syariat, tetapi mereka tidak peduli dengan jilbab mereka, dengan alasan bahwa jilbab termasuk adat yang sudah usang, dan tidak ada kaitannya dengan agama. 

Oleh karena itu, sistem pendidikan merupakan salah satu faktor yang bertanggung jawab atas respon para wanita terhadap ajakan untuk mencopot jilbab. Oleh karena itu, sistem pendidikan dalam aspek ini harus menggunakan komponen-komponen agama yang menjadikan pemikiran wanita terhadap jilbab sama dengan pemikirannya terhadap salat dan puasa, bukan sekedar keadaan darurat yang diharuskan oleh adat dan budaya sosial, atau di wajibkan oleh situasi-situasi insidetial atau keluarga, dan ia bukan termasuk masalah aib dan sebagainya.

Bila kita perhatikan, pada zaman sekarang ini banyak orang yang melakukan berbagai macam hal hanya bersandarkan kepada pengendalian internal manusia dalam mengekang diri dan menjaga masyarakat. Penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam suatu masyarakat yang membolehkan kebebasan seksual dan menganggap bahwa kansekuen terhadap akhlak adalah pilihan yang bersifat pribadi, jauh lebih banyak dari penyimpangan-penyimpangan yang terdapat pada masyarakat yang memakai hijab. Itu dikarenakan manusia terpengaruh secara psikologis dan perasaan dengan keadaan eksternalnya.


Islam melihat hijab sebagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, di mana ia memperhatikan dua dimensinya, baik materi maupun rohani dengan pertimbangan adanya interaksi yang erat di antara keduanya. Dari satu sisi, Islam menganjurkan dengan sangat agar wanita konsekuen terhadap hijab rohani yang mencegahnya dari penyimpangan dan kemerosotan akhlak dan perilaku, karena sifat hijab ini dengan sendirinya akan mendatangkan kekebalan diri terhadap segala hal yang mengancam wanita dari penyelewengan atau dekadensi moral dan lain-lain. 


"Kekebalan" inilah yang tersembunyi di balik ketentuan hijab materi dalam syariat Islam. Dari sisi lain, Islam menuntut adanya sikap konsekuen terhadap hijab materi dengan pertimbangan bahwa jilbab merupakan bentuk tindakan preventif yang melindungi pria dan wanita dari pengaruh keadaan-keadaan yang dapat mendatangkan hal negatif terhadap spiritualitas manusia dan moralitasnya .Karena itu, meninggalkan hijab materi berarti sebuah ancaman atas hijab rohani, karena ia akan menyebabkan datangnya situasi-situasi yang mendorong kegoncangan hijab rohani dan kelemahannya, dan kemudian akan menyeretnya kepada penyimpangan dan keterpurukan. Hendaklah kedua bentuk hijab itu disejajarkan. Dengan pertimbangan ini, maka hijab bukanlah termasuk masalah individual saja, tetapi juga menyangkut masalah sosial, sebab setiap hal yang dengan sendirinya dapat menjaga individu dari keadaan terperosok dan menyimpang, maka ia juga dapat menjaga masyarakat. 

Sebaliknya, setiap hal yang menggiring individu kepada penyimpangan dan kemerosotan, maka ia juga dapat mengancam masyarakat, karena masyarakat merupakan kumpulan dari individu-individu dan sistem norma dan prinsip serta hukum yang mengatur hubungan di antara sesama mereka. Di samping itu, meninggalkan hijab baik materi maupun rohani merupakan unsur pembangkit naluri seksual secara langsung karena adanya gambar nyata darinya atau gambar imajinatif. la mengingatkan manusia dengan seks dan segala organnya, yang menjadikannya terangsang ke arah yang diharamkan.

Jangan Hidup Tertidur

Rasulullah Saw. Bersabda: “Ada dua nikmat yang didalam keduanya kebanyakan manusia berada dalam kerugian, yaitu kesehatan dan kesenggangan”.
Sesuai dengan judul yang tertera di atas mari kita garis bawahi kalimat kesenggangan dalam hadits tersebut. Benar, coba kita lihat, dari tengah-tengah masalah pengangguran akan lahir beribu-ribu orang yang bermental rendah, virus-virus kehancuran dan kebinasaan akan berkembang biak di dalamnya. Apalagi sekarang ini banyak orang yang mengalami kebimbangan dalam kehidupan ini tanpa ada harapan dan tanpa ada misi yang ingin diraih. Hal ini terjadi diakibatkan motivasi hidup yang menipis dan jarang melakukan kontemplasi. Kita bisa menyebutnya seperti orang yang sedang tertidur. Meraka tidak menyadari betapa kebahagiaan itu tidak akan datang selain dari diri kita sendiri. Namun untuk meraihnya, kita harus memiliki usaha yang terangkum dalam kualitas hidup diri kita sendiri, yaitu keberanian, giat dan rajin, kejujuran, tidak egois, suka bekerjasama dan memiliki hati nurani yang hidup. kesemuanya membutuhkan peran aktif jasmani dan rohani kita. Dan kita perlu mengingat hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah menjadi SADAR.
Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Bermalasan bukanlah hal yang menguntungkan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Kesadaran akan berharganya waktu senggang merupakan salah satu modal utama. Banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut sampai musibah atau peristiwa-peristiwa pahit menimpanya. Kita tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Kita tidak melakukannya. kita baru sadar pentingnya kesehatan kalau kita sakit. Kita baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol kita mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Seorang pelajar baru menyadari betapa pentingnya berusaha dalam ujian, setelah hasil ujiannya jelek. Kita melupakan kewajiban kita sebagai hamba Allah Swt. selama kita hidup dan kita baru akan menyadarinya setelah kematian menjemput kita.
Pelajaran tersebut nampaknya begitu mahal, kita bisa saja menyadarkan diri kita dengan mendengarkan dan mengambil pelajaran dari pengalaman yang pernah dialami oleh orang lain. Bagaimana menurut pendapat anda, bila yang hilang itu adalah umur tanpa manfaat, sedang anda sendiri tidak menyadarinya? Apakah untuk itu manusia diciptakan?. Kita sebaiknya berkaca pada firman Allah Swt.: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka maha tinggi Allah, raja yang sebenarnya (al-Mu’minûn [23]:115-116).
Dari ayat tersebut nampaknya kita harus cepat menyadari tiga hal berikut, siapa diri kita, dari mana kita berasal dan kepada siapa kita akan kembali. Bagi kita seorang muslim sudah sepatutnya mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan di atas lalu kemudiaan merealisasikannya dalam bentuk ibadah kepada Allah Swt. sehingga tidak ada alasan untuk hidup sambil tertidur. Terutama bagi seorang wanita yang merupakan bagian dari komunitas dunia. Seorang wanita seharusnya menyadari betul peran yang dimainkannya dalam kehidupan ini. Peran seorang wanita menurut tingkatan umurnya dibagi menjadi tiga fase, yakni, fase sebagai seorang anak, istri dan ibu. Ketiganya membutuhkan perhatian besar melihat pengaruh yang dimiliki oleh seorang wanita. Ketiga fase tersebut nampaknya mempunyai kaitan yang kuat satu sama lain. Misalnya pada fase pertama, disanalah pembentukan karakter dimulai, apapun karakter yang terbentuk dalam fase tersebut akan berpengaruh pada fase berikutnya terutama bagi fase ketiga yakni fase seorang ibu. Dengan demikian secara tidak langsung seorang ibu mempunyai efek yang sangat besar terhadap pembentukan jati diri seorang anak. Demikian menurut konteks peranan wanita dalam kehidupan. Belum lagi melihat kewajibannya sebagai hamba Allah Swt. Dari sini kita bisa melihat berapa besar peranan kita sebagai seorang wanita muslimah.
Untuk melaksanakan segala hal yang menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang muslimah kita mesti bersikap optimis dan mempunyai motivasi yang kuat serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. kapanpun dan dimanapun kita berada. Ada sebuah ungkapan menarik dari penulis buku As’adu-Imroatin fil ‘Alam, Dr. ‘Âidh Abdullah al-Qarni, MA., “Wahai orang yang sengsara, kau telah mati sebelum datang kematian. Bila engkau menginginkan kehidupan, maka berharaplah kepada-Nya”. Yang berarti, Bila kita mengenali Allah diwaktu lapang kita, maka Allah akan mengenali kita di waktu kita sempit. Kemudian beliau memberikan contoh berdasarkan kisah Nabi Yunus a.s. beliau berdoa dalam firman Allah Swt. Ketika beliau terhimpit dalam perut ikan paus“ maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim” (al-anbiyâ’ [21]:87). Seketika itu pula Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya “maka kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman” (al-anbiyâ’ [21]:88). Sudah saatnya kita menyadarkan diri kita dari tidur panjang kita selama ini, tinggalakan kelalaian masa lalu kita, namun bukan berarti kita meninggalkan pelajaran yang terkandung di dalamnya.