Rabu, Oktober 29, 2008

Catatan mini seorang fakir

Sekedar catatan:
Catatan mini seorang fakir

Awal musim dingin. Arba wa Nush, 28 Oktober 2008
Hari ini saya bangun lebih awal dari biasanya, tepat jam 3.00 pagi. saya tidak mau membiarkan kesempatan ini terlewatkan begitu saja, saya langsung berwhudu, bersimpuh sujud mengharapkan ampunan dan karunia-Nya. Tak lupa saya raih Al-quran mungil pemberian adik saya dan membacanya sambil sedikit mencermati isi kandungannya semampuk saya. Hati saya terenyuh, betapa selama ini saya sangat jauh dari-Nya. Saya lupa untuk berterima kasih kepada-Nya. Padahal di dalam setiap hari-hari yang saya lewati ada saat di mana saya merasa sangat kaya raya atas apa yang  saya miliki, tawa, ketulusan, cinta, kasih sayang, kejujuran, itulah semua kekayaan saya.

Tuhan menghujani saya dengan Rahmat teragung-Nya. Maafkan hamba Tuhan, hamba sangat miskin, fakir kemampuan. Kemampuan untuk berterima kasih, kemampuan membalas seluruh kebaikan-Mu kepada hamba, atau sekedar memberi beberapa kalimat indah untuk-Mu, sungguh hamba sangat fakir.

Sangat beruntung, Tuhan maha kaya, tidak butuh apapun dari hambanya, apalagi hamba semacam saya. Dan untuk inipun saya masih terlambat bersukur “Segala puji hanya untuk-Mu, Tuhanku. Maafkan atas kefakiran hamba”.

Tak terasa sepotong cahaya menyelinap dari balik jendela kamar saya saat tirai kabut membuka panggung bumi.  Saya langsung membuka jendela kamar, udara dingin langsung menerpa wajah saya, menggigil. Saya nikmati wangi embun yang membasahi dedaunan di tambah kicau burung yang gembira menyambut pagi. Meskipun demikian saya memberanikan diri keluar rumah, ada sesuatu yang harus saya beli.

Dingin. Kehidupan di mulai lagi, bus-bus telah memenuhi terminal yang terletak di depan apartemen tempat tinggal saya. Saya tidak tahu apa yang sudah Allah rencanakan untuk hidup saya hari ini. Setelah kemarin, lusa, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu dan bertahun-tahun yang lalu, kesedihan, kesenangan, kekecewaan, rindu, sepi, bahagia dan segala macam rasa telah mewarnai hari-hari saya. Namun demikian, ada satu rasa yang akrab dengan hari-hari saya kini “Rindu”. Dia sseakan tidak mau melewati hari-hari saya. Saya mulai akrab dengannya sejak tiga tahun yang lalu, saat saya memilih untuk melanjutkan kuliah di Kairo, Mesir. Keputusan inilah yang membuat saya kini jauh dari orang-orang yang sangat mencintai saya dan sangat  saya cintai. Sejak saat itu saya merasa kesepian. Meninggalkan adalah hal yang menyakitkan. Tuhan, ku harap hariku ini lebih baik dari hari sebelumnya.

Sambl memperhatikan setiap suara dan gerak kehidupan, disana  saya melihat ada berjuta rasa. Di sana saya melihat nenek tua sedang duduk di atas batu besar yang tergeletak tepat di belakang kios penjual makanan di tengah-tengah terminal. Dia terlihat lelah, ada kerut duka yang menyelimuti wajahnya. Sepertinya dia sedang menunggu bis. Ada sekantung ‘Isy besar di sisi kanannya. Baju hitam yang ia kenakan terlihat begitu lusuh, menandakan hidupnya begitu berat. Ditambah lagi ada bocah cilik disisi kirinya yang sedang merengek sambil menarik-narik baju nenek tua itu, sepertinya dia menginginkan sesuatu, entahlah, apakah ia kedinginan??? dia terlihat hanya mengenakan sehelai baju lusuh dan kotor, wajahnya pucat. Tapi nenek tua itu diam saja tanpa menggubrisnya. Ada bapak tua berjas rapi menghampiri nenek tua itu, diberikannya syal dan jaket miliknya untuk bocah cilik tadi, “Alhamdulillah” batink saya. Betapa saya harus banyak bersyukur.

Setelah itu saya mengalihkan pandangan menerobos jalan raya, di sana terlihat ada anak laki-laki berusia kira-kira tujuh tahun sedang berkeliling apartemen dengan sepuluh bahkan dua puluh ‘Isy di atas kepalanya, sambil berteriak menjajakan ‘Isy-nya. Tuhan, betapa berat hidup ini untuknya. Tapi tidak sedikitpun raut sedih di wajahnya. Senyuman di wajahnya menandakan dia sangat bahagia, entahlah, apakah ia menyembunyikannya???. Saya kembali harus bersyukur.

Tidak terasa sudah hampir jam 7.30 saya harus bersiap-siap untuk kuliah. Setelah siap, saya berangkat menuju terminal, sbelum sampai di sana saya melihat penjaga apartemen tempat saya tinggal, dia terlihat lelah, saya rasa dia belum tidur sejak semalam, matanya terlihat merah, saya menyapanya dan melanjutkan langkah. Sambil menunggu bus, saya mampir sebentar kekios makanan untuk membeli pulsa, di situ saya melihat ada seorang wanita berbadan gemuk sedang memilih makanan, dia tidak berjilbab, ada kalung emas besar di lehernya dan gelang besar di pergelangan tangannya, seakan membuat langkahnya bertambah berat. Polesan make-upnya membuat mata saya silau, apa ini hidup bahagia???.

Senin, Oktober 27, 2008

Sihir dan Perdukunan dalam Perspektif Ulama Syafi'iyah

Sihir dan Perdukunan dalam Perspektif Ulama Syafi'iyah
Oleh:Irfi Syarfiyah

Prolog
Segala puji hanya milik Allah Sang Maha segalanya, yang telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepadanya. Sholawat dan salam bagi baginda besar Nabi Muhammad Saw. Kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba'd.
Bukan hal yang aneh lagi, negara kita Indonesia kini menjadi Negara yang subur untuk istilah-istilah seperti perdukunan, guna-guna, sihir, santet, teluh dan semacamnya. Padahal mayoritas kita beragama Islam. Hal ini terjadi diakibatkan oleh kondisi sosio-historis yang masih terinduksi pesona animisme masa lampau. Sehingga membuat sebagian besar masyarakat kita terbelenggu dan kian mengakrabi istilah-istilah di atas. Prakteknya kini menyebar di segala penjuru. Mereka mempercayakan segalanya kepada dukun semisal ingin mencapai segala kesuksesan, usaha lancar, jabatan bertahan dan naik, mempunyai wibawa dan ditakuti bawahan bahkan ingin jual tanah saja harus pergi ke dukun. Ditambah dengan mitos-mitos yang berkembang di Negara kita nun jauh disana dan diperparah lagi oleh tayangan mistik dan klenik yang berkembang pesat didunia pertelevisian kita dan ironinya tanyangan tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Permasalahan menjadi kian sulit ketika sebagian kita diuji dengan penyakit aneh yang tak kunjung sembuh dan luput dari diagnosa medis, mereka malah justru menjadi korban praktek tersebut.
Dunia sihir dan perdukunan erat kaitannya dengan dunia jin dan setan, bahkan jin dan setan merupakan faktor utama dalam dunia sihir. Maka sebelum beranjak kepermasalahan inti, yakni pembahasan hukum mempelajari sihir, perbedaan antara sihir, karamah dan mu'jizat serta hukum mendatangi peramal dan dukun, ada baiknya jika kita simak terlebih dahulu pandangan Islam tentang dunia jin.

Jin dan Setan dalam Islam
Allah Swt. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-hujurât:1)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzâriyât:56)
“Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahmân:15)
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:”Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. Al-Kahfi:50)
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. Al-An'âm:112)
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Al-Jin:11)
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al-A'râf:27)
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. Al-Jin:27)
Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin:6)
Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. An-Nahl:99)
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An'âm:82)
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. fâthir:6)
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. An-Nisâ:76)
Tidaklah salah seorang dari kalian, kecuali telah didampingi oleh qarinnya dari golongan jin dan malaikat. Para sahabat bertanya, “Dan engkau juga ya Rasulullah/” Rasulullah menjawab, “Demikian juga dengan saya. Tetapi Allah telah membantu saya atasnya. Maka dia masuk Islam. Dan ia tidak memerintahkan saya kecuali dalam kebaikan” (HR. Muslim)
“Sesungguhnya syaitan itu mengalir dari tubuh manusia melalui jalan darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Definisi Sihir dan Perdukunan
Menurut etimologi sihir berarti memalingkan sesuatu dari hakikat yang sebenarnya.
[1] Al-Azhari mengatakan sihir adalah al- Ukhdzah yakni jampi-jampi yang dapat menipu penglihatan seseorang, sihir juga merupakan suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada setan sebab meminta pertolongan darinya. Ibnu Mandzur mengatakan bahwa penyihir seolah memperlihatkan kebathilan dalam wujud kebenaran dan menggambarkan sesuatu diluar hakikat yang sebenarnya.[2]
Sedangkan menurut terminologi Ibnul Khatib asy-Syarbini mengemukakan bahwa sihir merupakan suatu tindakan yang datang dari jiwa kotor untuk memperlihatkan sesuatu diluar batas kewajaran. Para penyihir melontarkan jampi-jampi secara lisan maupun tulisan atau melakukan suatu tindakan, yang kesemuanya itu bertujuan untuk merubah keadaan orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya, sehingga membuatnya sakit atau bahkan mati, bisa juga memisahkan pasangan suami istri dan hal lainnya. Dari definisi di atas dapat di simpulkan bahwa sihir merupakan kesepakatan antara penyihir dan syetan dengan syarat penyihir harus melakukan segala bentuk kemusyrikan dan hal-hal yang diharamkan agama dengan imbalan berupa pertolongan dan kesediaaan setan untuk mengabulkan segala yang inginkannya.
Kâhin (Dukun) berasal dari kalimat kahuna-yakhunu-kahnan yang berarti seseorang yang mengetahui keadaan masa yang akan datang dan hal-hal yang tersembunyi dan bersifat rahasia. Diantara mereka ada yang mengaku bahwa mereka mempunyai pengikut dari golongan jin yang memberitahukan kepadanya segala macam kejadian-kejadian yang akan terjadi. Sebagian mereka juga ada yang mengaku bahwa mereka mengetahui segala perkara dan permasalahan yang sedang menimpa seseorang serta sebab-sebabnya, dalam bahasa arab mereka dikenal dengan 'Arrâf yakni peramal
[3]

Hakikat Sihir
[4]
Para ulama berbeda pendapat mengenai hakikat sihir, Jumhur Ulama mengatakan bahwa sihir merupakan hakikat dan memberikan pengaruh. Mereka berdalih dengan firman Allah Swt:

1. سحرو اعين الناس واسترهبوهم وجاءو بسحر عظيم (الاعراف : 116)

Artinya: Mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan) (QS. Al-A'râf:116)
2. فيتعلمون منهما ما يفرقون به بين المرء و زوجه (البقرة : 102)

Artinya: Dan mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara suami dan istri (QS.al-Baqarah:102)
Pada ayat pertama menunjukkan hakikat sihir dengan firman Allah Swt ((وجاءو بسحر عظيم)) dan ayat yang kedua menetapkan hakikat sihir sebagai cara keji untuk memisahkan hubungan suami istri dan menciptakan permusuhan diantara keduanya.
Sedangkan Mu'tazilah dan sebagian ahli sunnah berpendapat bahwa sihir merupakan tipuan saja, bukanlah suatu hakikat, mereka membagi sihir kepada beberapa bagian, diantaranya:
Pertama, at-Takhayyul (Imajinasi) dan al-Khidâ' (tipuan). Seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang sulap. Misal, mereka menyembelih burung dihadapan kita kemudian tidak menunggu beberapa detik kita melihat burung itu hidup kembali dan terbang seperti biasanya . Padahal sebenarnya dia menyiapkan dua ekor burung, ketika ia menyembelih burung pertama ia menutupinya dengan memainkan daya lihat kita dan menerbangkan burung kedua yang masih hidup. Sebagian ulama mengatakan bahwa jenis sihir yang dilakukan oleh tukang sihir fir'aun adalah jenis sihir macam ini.
Kedua, praktek perdukunan dan ramalan dengan jalan berkolusi. Seperti yang banyak dilakukan oleh para dukun dan peramal.
Ketiga, sihir dengan cara namîmah (adu domba/fitnah), wisyâmah (kejahatan/permusuhan) dan ifsâd (kerusakan) dengan jalan sembunyi-sembunyi dan dan tidak dapat diraba oleh kasat mata. Cara inilah yang sering digunakan oleh sebagian besar orang. Missal seorang ingin menghancurkan hubungan suami istri, dia mendatangi sang istri dan memberitahukan kepadanya bahwa suaminya telah memamerkan dirinya kepada orang lain, sedangkan suaminya ingin menikah lagi dengan orang lain, maka saya akan menyihir suami anda agar dia tidak membenci anda dan tidak menyukai sipapun kecuali anda, tetapi anda mesti mengambil tiga helai rambutnya di dekat lehernya dengan gunting ketika ia tidur kemudian merendamnya sampai sihirnya benar-benar bereaksi. Sehingga sang istri tertipu dan mempercayai perkataan wanita tersebut. Kemudia wanita itu mendatangi sang suami dan mengatakan kepadanya bahwa istrinya menyukai orang lain dan aku kira dia akan membunuhmu dengan gunting saat kamu tidur, kemudian diapun mempercayainya. Dan ketika suatu malam istrinya hendak memotong rambutnya dan gunting berada tepat didekat leher suaminya, suaminya bangun dan mendapatinya melakukan hal yang dikatakan wanita itu kepadanya dan tidak diragukan lagi istrinya memang ingin membunuhnya, sehingga kemudian ia bangun dan membunuh istrinya. Kemudian tersebarlah berita ke telinga keluarga sang istri sehingga keluarga tersebut saling bermusuhan.
Keempat, il-Ihtiyâl (tipu daya/muslihat). Yaitu dengan cara memberi obat atau makanan yang telah dibubuhi racun dan sejenisnya kepada orang yang akan disihir yang dapat memberikan pengaruh ke otak seperti memberinya makan otak keledai. Menurut penelitian, memakan obat keledai mengakibatkan kebodohan sehingga ia melenceng kejalan yang sesat karena kebodohannya. Dan orang-orang mengatakan ia telah terkena sihir.
Dalil Mu'tazilah:

1. سحروا اعين الناس واسترهبوهم (الاعراف: 116)

Artinya: Mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut.

2. يخيل اليه من سحرهم انها تسعى (طه: 66)

Artinya: Terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka (Thâhâ:66).
Ayat pertama menunjukkan bahwasanya sihir itu mengelabui data penglihatan. Sedangkan ayat kedua menyatakan bahwa sihir itu adalah imajinasi bukan hakikat.
Adapun pendapat yang rajih dari kedua pendapat di atas adalah pendapat Jumhur Ulama yang mengatakan bahwa sihir merupakan hakikat dan memberikan pengaruh dan dampak negatif bagi sasaran sihir, bukan hanya sekedar imajinasi dan tipuan belaka. Kebenaran pendapat mereka diperkuat oleh hujjah atau dalil mereka yang kuat yakni kebenaran adanya pengaruh bagi sasaran korban sihir. Contohnya dalam ta’tsîr yang ditimbulkan dari pemisahan hubungan suami dan istri lewat sihir. Jika tidak demikian, al-Quran tidak akan mengatakan ((ومن شر النفاثات في العقد)) . Yang demikian itu kebanyakan menggunakan bantuan setan.

Hukum Sihir dan Perdukunan
Imam Nawawi
[5] mengatakan bahwa hukum perbuatan sihir adalah haram dan termasuk dosa besar yang dilarang oleh Allah Swt. Rasulullah Saw. Mengkategorikan sihir sebagai salah satu dari tujuh macam perbuatan keji yang diharamkan.
Rasulullah Saw. bersabda
[6]:

عن ابى هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال (( اجتنبوا الموبقات الشرك بالله و السحر.....الخ))

Artinya: Dari Abi Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: (Jauhkanlah perbuatan-perbuatan keji seperti menyekutukan Allah, sihir).
Adapun mengenai hukum mempelajari dan mengajarkan sihir, ulama syafi'iyyah mengkategorikannya sebagai dosa dan haram dilakukan karna sihir merupakan maksiat dan membahayakan orang lain. Akan tetapi Abu Hurairoh menyatakan dibolehkannya sihir jika tidak diamalkan, akan tetapi jika sampai memalingkan keyakinan orang yang mempelajari dan mengajarkannya, maka dianggap kufur. Imam Haramain mengatakan bahwa tidak diragukan lagi yang mempelajari sihir tidak lain hanyalah orang fasiq
[7]
Mengenai hukum perdukunan Imam Nawawi juga mengatakan bahwa perdukunan sama halnya dengan sihir, begitu pula mempelajari dan mendatangi para dukun
[8].
Adapaun hukum bagi penyihir itu sendiri Imam Syafi’i dalam kitab al-Um memberikan perincian, beliau mengatakan: “seorang penyihir jika sihirnya berisi hal-hal yang dapat menjadikannya kafir seperti meminta bantuan jin dan sebagainya, maka ia dihukumkan kafir, darahnya halal untuk dibunuh dan hartanya diambil sebagai fai’, namun jika ia bertaubat, maka ia akan diampuni. Dan jika ia menggunakan mantra yang tidak diketahui maknannya atau menggunakan bau-bauan seperti kemenyan meskipun itu tidak membahayakan orang lain, maka ia tidak dianggap kafir namun hal itu tetap dilarang dan sangat diharamkan. Dan jika ia mengulang perbuatan itu kembali, maka ia berhak mendapatkan ta’zîr (kecaman).

Pengobatan Sihir, Bagaimana Hukum Ruqyah?
Sebagaimana yang telah kita ketahui di atas mengenai hakikat sihir, jelaslah bahwa sihir, santet, guna-guna, teluh dan semacamnya merupakan istilah-istilah yang pada prakteknya tidak terlepas dari bantuan setan. Hal ini bisa terjadi jika seseorang mengadakan perjanjian dengan makhluk tersebut lalu meminta mereka untuk melakukan segala hal yang diinginkan orang tersebut seperti, memberi manfaat atau mudharat untuk orang yang dikehendakinya dengan jalan merasuki orang yang menjadi sasaran sihir. hal demikian serupa dengan firman Allah Swt. dalam surah al-Jin ayat 6:
"dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan".
Ada juga jin yang suka mengganggu dan masuk ke dalam tubuh manusia atas kemauannya sendiri dengan berbagai macam alasan seperti, balas dendam karena seseorang telah menyiram tempatnya dengan menggunakan air panas, bisa juga karena ia jatuh cinta atau mungkin hanya sekedar iseng. Oleh sebab itulah hendaknya kita perbanyak ibadah dan melaksanakan syariat Allah, sebab jin tidak bisa memasuki jiwa seseorang yang kuat iman dan islam dan sehingga kita mempunyai pertahanan spiritual yang kuat. Hendaknya pula kita mewaspadai kondisi kejiwaan kita jangan sampai kita berada dalam keadaan marah besar, takut dan stress yang berlebihan atau lalai, sebab setan akan mudah sekali masuk ke dalam tubuh kita, tindakan tersebut merupakan tindakan preventif.
Namun jika memang setan telah terlanjur masuk ke dalam tubuh seseorang, maka harus melakukan tahapan pengobatan, ada satu cara ampuh yang dibolehkan oleh Islam yaitu ruqyah.

Definisi Ruqyah
Ruqyah dalam bahasa arab merupakan bentuk mashdar dari kata kerja yang bermakna al-‘Udzah (perlindungan). Ada pendapat lainnya yang mengartikan ruqyah sebagai azimat atau mantra.
[9]
Sedangkan menurut terminologi ruqyah adalah memohon perlindungan kepada Allah melalui doa-doa dan bacaan ayat-ayat suci al-Quran guna mencegah penyakit dan memperoleh kesembuhan.

Ruqyah dalam Islam
Istilah ruqyah sudah dikenal sejak zaman jahiliyah dahulu, namun ruqyah pada masa itu memiliki penyimpangan yang tidak lepas dari unsur kesyirikan. Sehingga nabi menghukuminya sebagai salah satu perbuatan syirik, sebagaimana sabdanya:

ان الرقى و التمائم والتولة شرك (اخرجه الامام احمد)

Artinya: Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan tiwalah itu termasuk dalam kesyirikan (H.R. Imam Ahmad).
Namun melihat hajat umatnya saat itu terhadap ruqyah seperti untuk menghindari binatang berbahaya seperti kalajengking dan lainnya, maka nabi pada awalnya memerintahkan para sahabat untuk mendemonstrasikan ruqyah mereka, sehingga beliau sabdanya:

اعرضوا على رقاكم لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك (اخرجه مسلم)

Artinya: Demontrasikanlah ruqyah kamu sekalian dihadapanku, mengapa melakukan ruqyah sepanjang tidak mengandung kesyirikan (H.R Muslim).
Dari sekelumit riwayat di atas, dapat kita cerna bahwa nabi sangat selektif dalam menyikapi terapi ruqyah sehingga tidak terkontaminasi dengan penyimpangan dan kesyirikan.
Allah Swt. berfirman:
وننزل من القران ما هو شفاء و رحمة للمؤمنين ولا يزيد الظالمين الا خسارا (الاسراء: 82)

Artinya : Dan kami turunkan dari al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu tidaklah menambha kepada orang-orang yang dzalim kecuali kerugian (al-Isrâ: 82)
Demikian hukum ruqyah, dari ayat dan hadits di atas jelas sudah mengenai hukumnya, imam Syafi’i dalam kitab al-Um menyatakan kebolehan ruqyah selama tidak menyimpang kearah syirik dan dengan syarat kalimat ruqyah harus diambil dari kitabullah.


Perbedaan Sihir, Karamah dan Mu'jizat
Al-Marazi mengungkapkan: “Perbedaan antara sihir, karamah dan mukjizat adalah bahwa sihir berlangsung melalui proses beberapa bantuan sejumlah bacaan dan perbuatan (upacara ritual) sehingga terwujud apa yang menjadi keinginan si penyihir. Sedangkan karamah tidak membutuhkan hal tersebut, tetapi biasanya karamah ini muncul berkat taufiq dari Allah. Allah Swt. memberikan kepada hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman serta bertaqwa kepada-Nya, yang disebut dengan wali Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman ketika menyebutkan tentang sifat-sifat wali-wali-Nya : “Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa”. (QS.
Yunus:62-62).Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadaan wali-wali-Nya dan sifat-sifat mereka, yaitu: “Orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” Kemudian mereka merealisasikan keimanan mereka dengan melakukan ketakwaan dengan cara melakukan segala perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Beberapa contoh Karamah:
1. Apa yang terjadi pada “Ashhabul Kahfi” (penghuni gua). Suatu kisah agung yang terdapat dalam surat Al Kahfi. Allah berfirman :
ِ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ( الكهف :13 )

Artinya: “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan pada mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi: 13).
3. Diantara Karomah para wali yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah apa yang terjadi pada Dzul Qarnain yaitu seorang raja yang shalih yang Allah nyatakan dalam al-Quran: “Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi dan kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu”. (Q.S. Al Kahfi :84)
Adapun mukjizat, ia mempunyai kelebihan atas karamah, karena diperoleh melalui perjuangan (tantangan).” Al-Hafizh Ibnu Hajar mengemukakan: “Imam al-Haramain menukil ijma’ yang menyatakan bahwa sihir itu tidak muncul kecuali dari orang fasik, sedangkan karamah tidak akan muncul pada orang fasik.” Selain itu Ibnu Hajar juga mengungkapkan: “Perlu juga diperhatikan keaadaan orang yang mengalami kejadian luar biasa seperti itu, jika dia berpegang teguh pada syari’at dan menjauhi dosa-dosa besar, maka berbagai kejadian luar biasa yang tampak pada dirinya merupakan karamah, dan jika dia tidak berpegang teguh pada syari’at serta melakukan perbuatan dosa besar, maka hal tersebut merupakan sihir, karena sihir itu muncul dari salah satu jenisnya, misalnya memberi bantuan kepada setan”.
[10]


Epilog
Demikian pembahasan ringkas mengenai sihir, perdukunan dan yang berkaitan dengan dua istilah tersebut dalam perspektif Ulama Syafi’iyyah. Dan penulis dapat menyimpulkan berdasarkan ayat al-Quran sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-hujurât:1)
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzâriyât:56).
Adapun mengenai perbedaan pendapat mengenai beberapa hal seperti hakikat sihir, macam dan hal lainnya, merupakan hal yang sejatinya terjadi. Namun mengenai hukum sihir dan perdukunan itu sendiri para ulama bersepakat dalam pengharamannya.

Wallahu a’lam bi al-Shawâb. Allahumma iftah lanâ futûhal ‘arifîn…. Rabbanâ lâ tuâkhidznâ in nasînâ aw akhtha’nâ…


[1] Syamsuddin Muhammad Ibnul Khatib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtâj ilâ ma'rifah al-Alfâzh al-Minhâj, Dar al- Fikr, Bairut, juz 4, hal. 146.
[2] Imam al-'Allâmah Ibnu Manzhur, Lisânul Arab, Dar al-Hadits, juz IV, hal. 509.
[3] Imam al-'Allâmah Ibnu Manzhur, Lisânul Arab, Dar al-Hadits, juz VII, hal. 756.
[4] As-Syeikh Muhammad Ali ash-Shobûni, Rawâi' al-Bayan Tafsîr Âyâtul Ahkâm minal Qurân, Dar ash-Shâbûnî, cet. I 1999, juz I, hal. 54-57.
[5] Abdurrahman Bin Muhammad 'Audh al-Jazîrî, Kitab al-Fiqh 'Ala Madzâhib al-Arba'ah, Muassaah al-Mukhtâr, Kairo, Cet. 2006, juz 5, hal 342.
[6] Imam al-Hafidz Ahmad Bin Ali Ibn Hajar al-'Atsqalânî, Fathul Bârî bi Syarhi Shohih al-Bukhâri, Dar al-Hadits, Kairo, cet. 2004, juz 10, hal. 262.
[7] Syamsuddin Muhammad Ibnul Khatib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtâj ilâ ma'rifah al-Alfâzh al-Minhâj, Dar al- Fikr, Bairut, juz 4, hal. 146.
[8] Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi ad-Damsyqi, Raudah ath-Thalibîn, Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Bairut, Libanon, cet. 2000, juz 7, hal. 197.
[9] Imam al-'Allâmah Ibnu Manzhur, Lisânul Arab, Dar al-Hadits, juz IV, hal. 223.
[10] Imam al-Hafidz Ahmad Bin Ali Ibn Hajar al-'Atsqalânî, Fathul Bârî bi Syarhi Shohih al-Bukhâri, Dar al-Hadits, Kairo, cet. 2004, juz 10, hal. 262.

Gerimis

Gerimis
Kini telah mereda
Basah yang tersisa
Tapi tidak hanya itu, Sayang!
Masih ada sisa rasa, Dingin
Kadang aku Seperti sepotong kue cokelat di lemari es
Kebekuan ini seakan abadi
Tapi biarkan tumbuh satu keyakinan"Doa Ibu kan hangatkanmu"

B egitu Bisikmu sore itu
Belum selasai kita bercakap
Gerimis kembali membasahi atap rumah
Kau basahi tangga kayu rumah kita dengan butiran kasihMu
Selanjutnya ke ruang tamu Merembes masuk keseluruh lantai dan dinding
Dengan secangkir teh hangat di tangan

kita kembali hanyut dalam obrolan hangat tentang Ibu
Ibuku, CintaMu

Menuju Sepi

Menuju Sepi
Datang dari sebuah harapan
dekapan hangat sang bintang putih
Menghiasi hidup yang mulai rapuh
harapan seorang pengangum kedamaian
walau sejuta ummat mendamba
semoga sang bintang putih terbit di atas setiap kegalauan
menyadarkan mereka dari tidur lelap
pangkuan bulan di tengah purnama
cahaya berlumur kerinduan
menyapa gelap nan suram
masih bisakah tangan ini meraba
menyentuh, merasakan cinta putih
nan berbalut bening embun segar pagi buta
memulai hari damai yang didamba
tanpa ragumengayuh langkah
membenahi kaki yang terseok pada kejam dunia
umpatan
kebringasan yang memaksa keterjerumusan lembah nista
dalam
dan terus masuk
menghilang bagai titik
dan lenyap
entah apa yang terjadi di kegelapan sana
cahayapun tak mampu memasukinya

Kisah berhikmah

Kekuatan Maaf

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang. Umar bertanya, "Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?"
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, "Aku datang ke negri ini hanya untuk membunuh Muhammad!".
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.
Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, "Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?".
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, "Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!" Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, "Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu".
Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, "Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah)." Si musyrik itu menjawab dengan ketus, "Aku tidak akan mengucapkannya!". Rasulullah membujuk lagi, "Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah." Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, "Aku tidak akan mengucapkannya!"
Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negrinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, "Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah."
Rasulullah tersenyum dan bertanya, "Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?" Tsumamah menjawab, "Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin."
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, "Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah."




Jibril A.S, Kerbau, Kelelawar dan Cacing

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.
Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau". Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri". Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.
Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, "hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar". "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.
Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, "Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing". Si cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".



Ahli Filsafat & Abu Nawas

Saat Abu Nawas bekerja di kapal, ada seorang penumpang yang menegurnya, ia adalah seorang Ahli Filsafat.

“Apa kamu pernah belajar filsafat..?”, tanya Ahli Filsafat.
“Tidak.. kenapa?”, jawab Abu Nawas.
“Berarti separuh hidupmu telah tersia-siakan!”, jawab Ahli Filsafat.
Tiba-tiba datang badai besar dan kapalpun terombang-ambing.
Abu Nawas pun bertanya pada Ahli Filsafat, “Apakah kamu pernah belajar berenang..?”.
“Tidak! Kenapa???”, jawab Ahli Filsafat.
“Berarti seluruh hidupmu akan sia-sia..”, sahut Abu Nawas.


Minggu, Oktober 26, 2008

Tokoh

Hassan Hanafi
Tokoh Pemikir Muslim Modernis

Hassan Hanafi terlahir dari keluarga musisi pada tanggal 13 Pebruari 1935 di Kairo. Dia adalah seorang pemikir muslim modernis yang akrab dengan simbol-simbol pembaruan dan revolusioner, seperti Kiri Islam, oksidentalisme, dan lain sebagainya. Tema-tema tersebut ia kemas dalam rangkaian proyek besar; pembaruan pemikiran Islam, dan upaya membangkitkan umat dari ketertinggalan dan kolonialisme modern.
Hanafi kecil, layaknya orang Mesir lainnya, mendapatkan pendidikan agama yang cukup. Pendidikan Hassan Hanafi diawali pada tahun 1948. Pada usia itu, ia telah memiliki sikap patriotik dan nasionalisme tinggi. Sebab sejak kecil ia telah berhadapan dengan berbagai kenyataan hidup, penjajahan, dominasi pengaruh bangsa asing dan problem persatuan dan perpecahan di Negaranya. Pendidikannya dilanjutkan kejenjang Tsanawiyah Khalil Agha Kairo pada tahun 1951 yang ia selesaikan selama empat tahun. Pada saat itu hanafi bersama-sama dengan para mahasiswa mengabdikan diri untuk membantu gerakan revolusi yang telah dimulai pada akhir tahun 1940‑an hingga revolusi itu meletus pada tahun 1952 guna memerangi tentara inggris yang dengan kejinya membantai para syuhada di Terusan Suez. Pada tahun ini pula ia tertarik untuk masuk ke dalam organisasi Ikhwanul Muslimin dan Organisasi Muda Mesir. Akan tetapi, di tubuh ketiga organisasi tersebut terjadi perdebatan yang mengakibatkan ketidakpuasannya atas cara ber­pikir kalangan muda Islam yang terkotak‑kotak. Sehingga ia memutuskan untuk beralih konsentrasi untuk mendalami pemikiran-pemikiran keagamaan, revolusi, dan perubahan sosial. yang menyebabkan ia tertarik pada pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb, seperti tentang prinsip-prinsip keadilan sosial dalam Islam. Selanjutnya, Ia meraih gelar Sarjana Muda bidang filsafat di Universitas Kairo pada tahun 1956. Kemudian, gelar Doktor diperolehnya dari Universitas Sorbonne Paris dengan disertasi berjudul "L Exegeses de la Phenomenologie Letat actuel de la Methode Phenomenologie et son Application an Phenomene Religieux". Pada 1961, disertasi ini memperoleh penghargaan sebagai karya tulis terbaik di Mesir.
Di dunia akademik, Hassan Hanafi aktif memberikan kuliah seperti di Perancis (1969), Belgia (1970), Temple University Philadelphia Amerika Serikat (1971-1975), Universitas Kuwait (1979), Universitas Fez Maroko ( 1982-1984), menjadi Guru Besar tamu di Tokyo ( 1984-1985), dan di Persatuan Emirat Arab (1985). Kemudian, ia diangkat menjadi Penasehat Program pada Universitas PBB di Jepang (1985-1987), dan sekembalinya dari Jepang pada tahun 1988 Hassan Hanafi dipercaya untuk menjadi Ketua Jurusan Filsafat di Universitas Kairo. Sebagai pemikir modernis, gagasan Hanafi terfokus pada perlunya pembaruan rekonstruksi Islam yang ia kemas dalam konsep besar Turats wa Tajdid (Turats dan Pembaruan), dan Al Yasar Al Islami (Kiri Islam) yang ia cetuskan pada 1981. Konsep itu merupakan kepanjangan dari gagasan Al Urwatul Wutsqo-nya Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Menurutnya, penggunaan nama 'kiri' sangat penting karena dalam citra akademik, kata tersebut berkonotasi perlawanan dan kritisisme. Menurutnya, Kiri Islam adalah hasil nyata dari Revolusi Islam Iran yang merupakan salah satu respon Islam terhadap Barat. Hanafi berpendapat Kiri Islam merupakan resultan dari gerakan-gerakan kaum muslimin di Afghanistan, Melayu, Filipina, Pakistan, dan Revolusi Aljazair untuk memunculkan Islam sebagai khazanah nasional. Umat Islam di negeri tersebut ingin memelihara otentisitas dan kreativitas dalam memperjuangkan kepentingan mereka, serta menggerakkan umat islam di tempat lain. Esensi Kiri Islam, adalah pencurahan segala potensi untuk menghadapi puncak problematika zaman ini, berupa: imperialisme, zionisme, dan kapitalisme yang merupakan ancaman eksternal, serta kemiskinan, ketertindasan dan keterbelakangan sebagai ancaman internal. Hassan Hanafi banyak menyerap pengetahuan Barat dan mengkonsentrasikan diri pada kajian pemikir Barat pra-modern dan modern. Karena itu, meskipun ia menolak dan mengkritik Barat, sebagaimana dikatakan Kazuo Shimogaki, ide-ide liberalisme Barat, demokrasi, rasionalisme dan pencerahan telah banyak mempengaruhinya. Sehingga, Shimogaki mengkategorikan Hassan Hanafi sebagai seorang pemikir modernis liberal. Karakteristik lain pemikiran-pemikiran Hassan Hanafi pada dasawarsa 1960-an banyak dipengaruhi oleh paham-paham dunia yang berkembang di Mesir, yaitu nasionalistik, sosialistik dan populistik, yang juga dirumuskan sebagai ideologi pan-Arabik. Baru pada akhir dasawarsa itu, Hanafi mulai berbicara tentang keharusan Islam untuk mengembangkan wawasan kehidupan yang progresif dan berdimensi pembebasan (at-taharrur, liberation). Ia mensyaratkan fungsi pembebasan, jika diinginkan Islam dapat membawa masyarakat pada kebebasan dan keadilan, khususnya keadilan sosial sebagai ukuran utamanya. Struktur yang populistik adalah manifestasi kehidupannya dan kebutuhan kerangka pemikiran sebagai resep utamanya. Menurutnya, rekonstruksi dilakukan hanya dengan meletakkan warisan dan tradisi klasik dalam standar modernisme. Jika sudah tidak cocok, tradisi tersebut harus diubah. Atau menurutnya harus ada penafsiran ulang terhadap sumber-sumber asal di mana tradisi tersebut terbentuk. Dengan upaya ini, Hanafi yakin umat Islam akan mampu menghadapi tantangan berat, yakni bagaimana umat Islam memecahkan masalah kesenjangan sosial, ketidakadilan, kebodohan, pengekangan kebebasan berekspresi, dan ketertindasan rakyat. Dunia Islam, menurutnya, ditandai oleh disparitas kaya-miskin dan penindasan kebebasan. Kondisi tersebut harus diubah. Yang terjadi selama ini adalah hidupnya al-turath (tradisi), yang merupakan akumulasi penafsiran yang diberikan berbagai generasi dalam menjawab tantangan zamannya, justru menguatkan ketidakadilan tersebut. Tradisi macam inilah yang ia sebut sebagai 'kanan Islam'. Dalam menghadapi hegemoni Barat, Hanafi merumuskan paradigma pikir yang ia sebut oksidentalisme--cara memandang Barat-- sebagai anti-tesa orientaslime Barat. Untuk ini, ia menulis buku khusus berjudul Muqaddimah fi 'Ilmi Istighrab, yang telah di-Indonesiakan dengan judul: Oksidentalisme: Sikap Kita terhadap Tradisi Barat. Ia mengajak umat Islam mengkritisi hegemoni kultural, politik, dan ekonomi Barat, yang dikemas di balik kajian orientalisme. Hanafi yakin orientalisme sama saja dengan imperialisme, seperti kepopuleran imperalisme kultural yang digelar Barat melalui media informasi dengan mempropagandakan Barat sebagai pusat kebudayaan kosmopolitan. Bahkan, orientalisme dijadikan kedok belaka untuk melancarkan ekspansi kolonialisme Barat (Eropa) terhadap dunia Timur (Islam). Hanafi berpendapat, oksidentalisme hanya ingin menuntut pembebasan diri dari cengkeraman kolonialisme orientalis bukan merebut kekuasaan orientalisme. Menurutnya, ego oksidentalisme lebih bersih, objektif, dan netral dibandingkan dengan ego orientalisme. Oksidentalisme sekadar menuntut keseimbangan dalam kebudayaan, kekuatan, yang selama ini memposisikan Barat sebagai pusat yang dominan. Dengan oksidentalisme, Hanafi berniat mengakhiri dan sekaligus meruntuhkan mitos Barat yang dianggap sebagai satu-satunya representasi (kekuatan) dunia.

Urgensi Kesepadanan Hijab Materi dan Rohani

Islam merupakan agama yang selalu memberikan hal terbaik bagi pemeluknya. salah satunya mengenai masalah hijab, pada zaman jahiliyah dahulu manusia terbisa untuk tidak menutupi auratnya. Kemudian Islam datang menyempurnakan aturan manusia dalam berpakaian. Yaitu dengan diwajibkannya memakai hijab yang bertujuan memberikan kehormatan bagi pemeluknya dalam berpakaian.

Bagi seorang wanita muslimah, hijab yang hakiki adalah menutup seluruh anggota tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangan, dan tidak menghias dirinya dengan dandanan yang dapat menjerumuskannya kepada fitnah ketika keluar rumah. Dengan demikian terdapat dua bentuk hijab dalam hijab hakiki yakni hijab materi yaitu menutup seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, dan juga hijab rohani dimana sosok wanita sebagai manusia di tengah-tengah masyarakat, tidak berusaha tampil dengan dandanan yang menarik perhatian sebagaimana yang tertera dalam surah al-Nur ayat 31. Namun di zaman sekarang banyak yang beralasan untuk meninggalkan hijab dengan mengatakan bahwa pendidikan dan belajar sudah cukup sebagai jaminan untuk menciptakan hijab rohani yang membuat pria dan wanita tidak memerlukan hijab materi yang pelaksanaannya diharuskan oleh Islam dan banyak pula wanita yang memakai jilbab dengan tidak bersandarkan kepada kaidah komitmen keagamaan, yang mengharuskan adanya keterbukaan (patuh) terhadap perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya yang jauh dari kecenderungan-kecenderungan diri dan perubahan-perubahan situasi sosial. Bagi mereka, jilbab sekadar sebuah tradisi di antara tradisi-tradisi lain. 


Kita juga menemukan sebagian orang tua-meskipun mereka yang religius-membenarkan di depan anak-anak perempuan mereka keharusan memakai jilbab, tetapi mereka hanya menganggap bahwa pencopotan jilbab merupakan aib yang berakibat kepada ancaman kritikan orang terhadap anak-anak perempuan mereka, dan itu merusak kehormatan ayah, keluarga, dan sebagainya, bukan sebagai kewajiban seorang pemeluk Islam. Para orang tua itu menanamkan pada benak anak-anak gadis bahwa masalah jilbab berhubungan dengan adat-istiadat dan tidak berkaitan dengan komitmen keagamaan dan dengan ketakwaan. Oleh karena itu, terkadang kita menemukan para pemudi yang rajin melakukan salat, puasa, dan terikat dengan pelbagai hukum syariat, tetapi mereka tidak peduli dengan jilbab mereka, dengan alasan bahwa jilbab termasuk adat yang sudah usang, dan tidak ada kaitannya dengan agama. 

Oleh karena itu, sistem pendidikan merupakan salah satu faktor yang bertanggung jawab atas respon para wanita terhadap ajakan untuk mencopot jilbab. Oleh karena itu, sistem pendidikan dalam aspek ini harus menggunakan komponen-komponen agama yang menjadikan pemikiran wanita terhadap jilbab sama dengan pemikirannya terhadap salat dan puasa, bukan sekedar keadaan darurat yang diharuskan oleh adat dan budaya sosial, atau di wajibkan oleh situasi-situasi insidetial atau keluarga, dan ia bukan termasuk masalah aib dan sebagainya.

Bila kita perhatikan, pada zaman sekarang ini banyak orang yang melakukan berbagai macam hal hanya bersandarkan kepada pengendalian internal manusia dalam mengekang diri dan menjaga masyarakat. Penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam suatu masyarakat yang membolehkan kebebasan seksual dan menganggap bahwa kansekuen terhadap akhlak adalah pilihan yang bersifat pribadi, jauh lebih banyak dari penyimpangan-penyimpangan yang terdapat pada masyarakat yang memakai hijab. Itu dikarenakan manusia terpengaruh secara psikologis dan perasaan dengan keadaan eksternalnya.


Islam melihat hijab sebagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, di mana ia memperhatikan dua dimensinya, baik materi maupun rohani dengan pertimbangan adanya interaksi yang erat di antara keduanya. Dari satu sisi, Islam menganjurkan dengan sangat agar wanita konsekuen terhadap hijab rohani yang mencegahnya dari penyimpangan dan kemerosotan akhlak dan perilaku, karena sifat hijab ini dengan sendirinya akan mendatangkan kekebalan diri terhadap segala hal yang mengancam wanita dari penyelewengan atau dekadensi moral dan lain-lain. 


"Kekebalan" inilah yang tersembunyi di balik ketentuan hijab materi dalam syariat Islam. Dari sisi lain, Islam menuntut adanya sikap konsekuen terhadap hijab materi dengan pertimbangan bahwa jilbab merupakan bentuk tindakan preventif yang melindungi pria dan wanita dari pengaruh keadaan-keadaan yang dapat mendatangkan hal negatif terhadap spiritualitas manusia dan moralitasnya .Karena itu, meninggalkan hijab materi berarti sebuah ancaman atas hijab rohani, karena ia akan menyebabkan datangnya situasi-situasi yang mendorong kegoncangan hijab rohani dan kelemahannya, dan kemudian akan menyeretnya kepada penyimpangan dan keterpurukan. Hendaklah kedua bentuk hijab itu disejajarkan. Dengan pertimbangan ini, maka hijab bukanlah termasuk masalah individual saja, tetapi juga menyangkut masalah sosial, sebab setiap hal yang dengan sendirinya dapat menjaga individu dari keadaan terperosok dan menyimpang, maka ia juga dapat menjaga masyarakat. 

Sebaliknya, setiap hal yang menggiring individu kepada penyimpangan dan kemerosotan, maka ia juga dapat mengancam masyarakat, karena masyarakat merupakan kumpulan dari individu-individu dan sistem norma dan prinsip serta hukum yang mengatur hubungan di antara sesama mereka. Di samping itu, meninggalkan hijab baik materi maupun rohani merupakan unsur pembangkit naluri seksual secara langsung karena adanya gambar nyata darinya atau gambar imajinatif. la mengingatkan manusia dengan seks dan segala organnya, yang menjadikannya terangsang ke arah yang diharamkan.

Jangan Hidup Tertidur

Rasulullah Saw. Bersabda: “Ada dua nikmat yang didalam keduanya kebanyakan manusia berada dalam kerugian, yaitu kesehatan dan kesenggangan”.
Sesuai dengan judul yang tertera di atas mari kita garis bawahi kalimat kesenggangan dalam hadits tersebut. Benar, coba kita lihat, dari tengah-tengah masalah pengangguran akan lahir beribu-ribu orang yang bermental rendah, virus-virus kehancuran dan kebinasaan akan berkembang biak di dalamnya. Apalagi sekarang ini banyak orang yang mengalami kebimbangan dalam kehidupan ini tanpa ada harapan dan tanpa ada misi yang ingin diraih. Hal ini terjadi diakibatkan motivasi hidup yang menipis dan jarang melakukan kontemplasi. Kita bisa menyebutnya seperti orang yang sedang tertidur. Meraka tidak menyadari betapa kebahagiaan itu tidak akan datang selain dari diri kita sendiri. Namun untuk meraihnya, kita harus memiliki usaha yang terangkum dalam kualitas hidup diri kita sendiri, yaitu keberanian, giat dan rajin, kejujuran, tidak egois, suka bekerjasama dan memiliki hati nurani yang hidup. kesemuanya membutuhkan peran aktif jasmani dan rohani kita. Dan kita perlu mengingat hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah menjadi SADAR.
Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Bermalasan bukanlah hal yang menguntungkan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Kesadaran akan berharganya waktu senggang merupakan salah satu modal utama. Banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut sampai musibah atau peristiwa-peristiwa pahit menimpanya. Kita tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Kita tidak melakukannya. kita baru sadar pentingnya kesehatan kalau kita sakit. Kita baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol kita mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Seorang pelajar baru menyadari betapa pentingnya berusaha dalam ujian, setelah hasil ujiannya jelek. Kita melupakan kewajiban kita sebagai hamba Allah Swt. selama kita hidup dan kita baru akan menyadarinya setelah kematian menjemput kita.
Pelajaran tersebut nampaknya begitu mahal, kita bisa saja menyadarkan diri kita dengan mendengarkan dan mengambil pelajaran dari pengalaman yang pernah dialami oleh orang lain. Bagaimana menurut pendapat anda, bila yang hilang itu adalah umur tanpa manfaat, sedang anda sendiri tidak menyadarinya? Apakah untuk itu manusia diciptakan?. Kita sebaiknya berkaca pada firman Allah Swt.: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka maha tinggi Allah, raja yang sebenarnya (al-Mu’minûn [23]:115-116).
Dari ayat tersebut nampaknya kita harus cepat menyadari tiga hal berikut, siapa diri kita, dari mana kita berasal dan kepada siapa kita akan kembali. Bagi kita seorang muslim sudah sepatutnya mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan di atas lalu kemudiaan merealisasikannya dalam bentuk ibadah kepada Allah Swt. sehingga tidak ada alasan untuk hidup sambil tertidur. Terutama bagi seorang wanita yang merupakan bagian dari komunitas dunia. Seorang wanita seharusnya menyadari betul peran yang dimainkannya dalam kehidupan ini. Peran seorang wanita menurut tingkatan umurnya dibagi menjadi tiga fase, yakni, fase sebagai seorang anak, istri dan ibu. Ketiganya membutuhkan perhatian besar melihat pengaruh yang dimiliki oleh seorang wanita. Ketiga fase tersebut nampaknya mempunyai kaitan yang kuat satu sama lain. Misalnya pada fase pertama, disanalah pembentukan karakter dimulai, apapun karakter yang terbentuk dalam fase tersebut akan berpengaruh pada fase berikutnya terutama bagi fase ketiga yakni fase seorang ibu. Dengan demikian secara tidak langsung seorang ibu mempunyai efek yang sangat besar terhadap pembentukan jati diri seorang anak. Demikian menurut konteks peranan wanita dalam kehidupan. Belum lagi melihat kewajibannya sebagai hamba Allah Swt. Dari sini kita bisa melihat berapa besar peranan kita sebagai seorang wanita muslimah.
Untuk melaksanakan segala hal yang menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang muslimah kita mesti bersikap optimis dan mempunyai motivasi yang kuat serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. kapanpun dan dimanapun kita berada. Ada sebuah ungkapan menarik dari penulis buku As’adu-Imroatin fil ‘Alam, Dr. ‘Âidh Abdullah al-Qarni, MA., “Wahai orang yang sengsara, kau telah mati sebelum datang kematian. Bila engkau menginginkan kehidupan, maka berharaplah kepada-Nya”. Yang berarti, Bila kita mengenali Allah diwaktu lapang kita, maka Allah akan mengenali kita di waktu kita sempit. Kemudian beliau memberikan contoh berdasarkan kisah Nabi Yunus a.s. beliau berdoa dalam firman Allah Swt. Ketika beliau terhimpit dalam perut ikan paus“ maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim” (al-anbiyâ’ [21]:87). Seketika itu pula Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya “maka kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman” (al-anbiyâ’ [21]:88). Sudah saatnya kita menyadarkan diri kita dari tidur panjang kita selama ini, tinggalakan kelalaian masa lalu kita, namun bukan berarti kita meninggalkan pelajaran yang terkandung di dalamnya.