Kamis, Maret 10, 2011

Bagaimana Anda Memperlakukan Al-Qur'an?

Al-Qur'an memperkenalkan dirinya sebagai "Kitab yang tiada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa" (Q.S.Al-Baqarah [2]:2). Artinya, kitab suci Al-Qur'an merupakan petunjuk dan pegangan hidup kita. Persoalannya sekarang, bagaimana sebenarnya kita memperlakukan Al-Qur'an dalam hidup kita?

Buat sebagian kecil dari kita Al-Qur'an dipandang seolah-olah sebagai "jimat" yang kalau ayat tertentu dibaca maka akan menimbulkan hal yang luar biasa, buat sebagian dari kita Al-Qur'an hanyalah merupakan objek ilmiah yang pantas utk dikotak-katik ayatnya satu demi satu, buat sebagian lagi dari kita mungkin saja Al-Qur'an merupakan sumber "legitimasi", dalam arti kita gunakan akal pikiran kita utk memecahkan atau menjelaskan masalah lalu kita cari justifikasinya dalam ayat Qur'an.

Apakah cukup al-Qur'an kita perlakukan demikian? Bukankah ia merupakan kitab petunjuk? Sebagai kitab petunjuk berarti al-Qur'an merupakan sumber inspirasi dan sumber bagi hidup kita. Pernahkah kita bila menghadapi masalah kita pecahkan dengan membaca Qur'an? Sudikah kita disaat mendapat banyak rezeki kita syukuri rezeki itu dengan membaca al-Qur'an? Maukah kita disamping membaca koran dan email tiap hari juga mau membaca al-Qur'an setiap hari? Pernahkah kita introspeksi perjalanan hidup kita dengan melihat kandungan ayat suci al-Qur'an sebagai "hakim"nya? Pada umur berapa kita mulai tertarik dengan al-Qur'an dan bersedia menelaah ayat demi ayatnya?

Saya percaya karena Al-Qur'an merupakan kitab petunjuk bagi kita, maka siapapun kita dan apapun background pendidikan kita, maka kita memiliki hak yang sama utk mengakses kitab suci Al-Qur'an. Sudahkah kita gunakan hak kita itu dengan sebaik-baiknya?

Membaca Al-Qur'an merupakan syarat pertama untuk menjadikan kitab suci ini sebagai petunjuk hidup kita. Bisakah kita menjadikan al-Qur'an sebagai petunjuk, namun amat jarang kita membacanya?

Konon, Iqbal kecil dibisiki oleh Ayahnya, "Bacalah Qur'an seakan-akan ia diturunkan untukmu". "Sejak saat itu," kata Dr. Muhammad Iqbal--cendekiawan besar asal India, "setiap aku membaca al-Qur'an seakan-akan Al-Qur'an berbicara padaku!"

Maukah kita meningkatkan kedudukan kita, dari sekedar membaca al-Qur'an sampai "berbicara" dengan Al-Qur'an?

Maha Benar Allah dengan Segala Firman-Nya.

Nadirsyah Hosen

Tentang Putih, Tidakkah kau Lupa

Sudut itu berupa putih dikelilingi cermin yang tersengat mentari, seperti lintasan purnama di selaksa moksa. Saat itu yang kutanyakan bukan tentang hitam, tapi luka yang tak terbaca oleh sunggingan senyum paksa bersama hujan. Kau tahu di mana Syurga?, kau ingat saat itu kita bersama-sama menerjemahkannya menurut pemahaman kita masing-masing, di tengah debur ombak yang membelai jilbab pich dan violet yang kita kenakan.

Boleh kutanya tentang tulisan kaca yang kau buat? Saat putih memadu di kelopak kuntum tulip yang tersusun rapi di meja marmer. Kini, saat kau ketuk kembali iramanya membuncah seperti pecahan gelas yang kembali terlempar. Kau seperti menghilang. Aku lupa, untuk siapa senyum ini. Lorong moksa ada di hadapan kita, kawan. Gumpalan mungkin sopan mengaduh, mencinta damai.

*Putih mulai mengebiri hitam. Ya, warna yang paling aku cinta. Warna yang tak pernah sanggup investasi apapun. Tak ada yang meracuni warna hitam. Jika pun ada, justru lebur bersamanya. Namun, ketika putih hadir, keduanya tegas memberi tahu identitasnya masing-masing.

Putih dan tulip telah menerjemah persahabatan kita. Semoga maknanya takkan luntur.

Bukan Tentang Mendung

Sebenarnya ini bukan tentang mendung, hanya menerjemahkan rasa yang tidak terungkap oleh lidah. Ini juga bukan tentang kematian, karena saya sangat tahu bahwa setiap yang hidup pasti akan mati, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya yang suci "tiap-tiap jiwa (yang bernyawa) akan merasakan kematian" (Q.S. Ali Imran [3]:185).

Ini tentang kesiapan menghadapi hal menakutkan itu. Sudahkah kau mencoba menghitung dosa-dosamu hari ini, kemarin, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, satu tahun yang lalu, bahkan bertahun-tahun yang lalu? Sebelumnya saya ingin bertanya, Apakah sang Waktu itu? Berbedakah antara tahun kemarin, hari ini maupun esok? Ataukah semuanya sama saja? Apakah sekedar sebab hobbi atau iseng saja maka manusia menata sang Waktu ke dalam detik-menit-jam-hari-minggu-bulan-tahun-abad dan seterusnya? Atau sebab manusia selalu menginginkan keteraturan, sistimatika dan keseragaman dan untuk itulah maka sang Waktu dipola-polakannya? Lalu, apakah maknanya tahun yang telah lewat, tenggelam dalam sejarah, bagi kita semua? Dan bagaimana pula arah masa depan yang sedang menghadang kita semua?

Hari ini, tahun 2006 telah tertinggal di belakang, maka tahun 2007 pun perlahan menjadi tua juga. Sebagian dari kita pun merasa bahwa kehidupan berjalan kembali dalam rutinitas, sama seperti tahun lalu. Tak ada yang berubah, kecuali mungkin bahwa penanggalan tua telah ditanggalkan diganti dengan penanggalan baru yang kelak pun menjadi tua dan akan diturunkan juga serta ditukar dengan yang baru yang pun akan menjadi tua pula. Demikianlah seterusnya. Lalu, apa pula artinya segala isak tangis dan tawa ria, segala kesepian dan kejayaan di dalam gelombang sejarah yang tak terukur ini? Mengapa kita selalu mencari pertanyaan dari kenyataan yang terjadi? Dan di manakah dapat kita temukan jawaban atas segala pertanyaan itu? Bahkan di zaman kemajuan tehnologi kini, saat informasi membeludak secara serempak dan langsung, kita malah menjadi bingung, putus asa serta masa bodoh dalam menyerap segala kejadian tersebut. Akhirnya, kita sering kian terpuruk dari segala kemajuan dan kemodernan itu. Maka harus bagaimanakah semestinya kita hidup? Harus bagaimanakah kita memahami sang Waktu?

Demikianlah, dari satu renungan sederhan. Logika berpikir yang pelik, gagal terterpa fakta yang aktual. Pemahaman kita terhadap sekeliling maupun eksistensi kita sendiri, dalam gerak laju sang Waktu, hanya membuahkan bilur-bilur pencarian yang selalu gagal dicapai. Kebenaran, dalam kejadian sehari-hari, bagaikan bayangan kita sendiri yang nampak jelas namun tak terjamah. Hari esok pun selalu datang tetapi tak pernah tiba. Maka kebahagiaan maupun kemalangan, bagi saya dan bagi kita semua, merupakan pengalaman pribadi yang tidak akan pernah tertangkap secara utuh tanpa melibatkan pribadi kita sendiri. Kita selalu asing satu sama lain. Pun terhadap diri sendiri juga. Padahal pemahaman itu sendiri merupakan hakekat keberadaan kita sebagai manusia untuk tampil secara utuh.

Berdasarkan pada perenungan tersebut di atas, tibalah saya pada satu titik. Satu titik di mana kita mesti memiliki pegangan agar tidak terombang-ambing dalam derasnya gelombang Waktu. Apakah waktu akan terpelintir atau tetap lurus ke depan, sama sekali tidak berarti selama kita tetap menyadari eksistensi kita sebagai manusia ciptaan Allah Swt.

Sang Waktu hanya sekedar gerakan, ke depan atau ke belakang tidak jadi soal lagi, selama kita berpegang pada firman Allah dan hadis Rasulullah saw. serta senantiasa berjalan di dalam koridor Islam, senantiasa menjaga keimanan kita terhadap Allah Swt dan senantiasa beramal soleh untuk bekal kita menuju kehidupan selanjutnya.
Bukankah Allah Swt telah berfirman: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" (Q.S. Al-'Ashr [103]:1-3).

Minggu, Februari 27, 2011

Nagmii....

Bintangku...
Ku mohon jangan kau berdiri di tempat yang tak bisa kulihat!
Kau tahu, di sini ada banyak tanya. Ya di sini, di ruang hatiku. Tentang sinarmu.
Aku tak peduli pada ruangmu karena ku yakin seiring berjalannya waktu, kau akan menemuiku dengan izin-Nya. Karena kau ada di sini, di garis takdirku.
Aku bulan yang merindu cahayamu, berharap sinarmu menemani di setiap jengkal sunyi.


Teruntuk bintangku...

Sabtu, Januari 01, 2011

Tangisnya Membuatku Iba

Pagi itu seperti biasa saya membuka jendela pagi, menyapa gagah dan dermawannya sang matahari yang tiada hentinya menerangi hari, rintik hujan tak menghalangi sinarnya, membuat pagi semakin sejuk. 

Hari itu berjalan seperti biasa. Saya kembali melangkahkan kaki menuju sebuah tempat yang mempertemukan saya dengan wajah-wajah lugu yang menanti siraman cahaya, cahaya untuk membuka jendela dunia. Disana terlihat ada semangat, cita-cita dan harapan. Begitu indah dan menyentuh. Namun diantara wajah-wajah itu ada satu wajah yang menutupi ketiga hal indah itu dengan kegalauan dan penat. saya mencoba untuk mengungkap apa yang disembunyikannya, saya belai kerudung kecilnya, dia menatap saya dengan tatapan penuh iba membuat saya ingin segera meraih jemari mungilnya. berharap dapat sedikit mengurangi luka yang ia simpan. "Ibu guru, besok aku tidak bisa lagi melihat ibu" ucapnya dengan linangan air mata. 

Segera saya peluk tubuhnya yang gemetar. "kenapa kamu berkata demikian nak?" tanya saya padanya. "orang tuaku bercerai bu, aku dan ibu akan pindah ke rumah nenek di kampung" jawabnya dengan isak. Saya melihat luka memar diwajahnya, saya tanyakan hal itu, namun tangisnya semakin menjadi.


Miris rasanya mendengar penuturannya. Kadang hidup memang kejam, anak seusianya harus menerima kenyataan pahit seperti itu., kehilangan sosok ayah dalam  hidupnya. Entah bagaimana nasibnya saat ini, apakah anak itu masih melanjutkan sekolahnya atau tidak. Penghianatan atas suatu hubungan telah menelantarkannya dan memisahkan saya dengannya. Pelajaran yang amat penting bagi setiap orang tua. Jangan jadikan anak sebagai korban.

Pilihan

Pilihan. Ya, ia laksana air yang terus mengalir menyusuri hamparan bumi. Laksana agkasa yang dengan birunya menaungi semesta. Ia selalu hadir dalam setiap desah nafas manusia. Karena ia adalah bagian dari kehidupan. Ia adalah bunga dari perjalanan hidup. Sebuah pilihan adalah hakikat kehidupan. Tak banyak yang paham akan makna pilihan; sebanyak yang tahu. Tapi, sebuah pilihan selalu hadir, suka atau tidak, kita kehendaki atau tidak. Dia terus menemani kita dalam mencari arti kehidupan dan makna kematian. Ia ibarat siang dan malam yang terus berganti hingga Sang Penguasa jagat raya ini menghendaki hilangnya proses ini dari peradaban dunia yang fana ini.
 
Hidup adalah pilihan. Berjalan adalah pilihan. Diampun adalah pilihan. Tak terelakan lagi. Kita hidup diantara pilihan. Kita bekerja adalah pilihan. Berlaku jujur adalah pilihan, Kita belajarpun adalah sebuah pilihan. Ya, kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Sampai pada saat kita ingin menyempurnakan Din pun, hati kita, pikiran kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan. Pilihan hidup.

Ketika pilihan-pilihan itu datang, kita harus siap menerima resiko apapun untuk setiap pilihan yang kita pilih, sampai pada akibat terpahit sekalipun. Seperti yang saya katakan di atas, berlaku jujur adalah sebuah pilihan. "Kejujuran", alangkah indahnya kata ini! 


Mencari orang yang jujur saat ini hampir sama mustahilnya dengan mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Jujur bukanlah semata-mata tidak berkata dusta. Ketika Nabi bersabda, "katakanlah kebenaran itu walupun pahit", sebenarnya Nabi memerintahkan kita untuk berlaku jujur dengan lidah kita. Ketika Nabi bersabda, "andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya," sesungguhnya Nabi mengajarkan kita untuk bertindak jujur dalam penegakkan hukum meskipun terhadap keluarga sendiri. Ketika Al-Qur'an merekam kalimat suci, "sampaikanlah amanat kepada yang berhak," sesungguhnya Allah menyuruh kita bersikap jujur ketika memegang amanah, baik selaku dosen, pejabat, ataupun pengusaha. Sewaktu Allah menghancurkan harta si Qarun karena Karun bersikukuh bahwa harta itu diraihnya karena kerja kerasnya semata, bukan karena anugerah Allah, sebenarnya Allah sedang memberi peringatan kepada kita bahwa itulah azab Allah terhadap mereka yang tidak berlaku jujur akan rahmat Allah.

Apakah nasib kita akan seperti Qarun, kitalah yang menentukannya...

Jumat, Desember 31, 2010

Ku Maafkan...

Hari ini kulihat jalinan rantai itu menguat. Di sana ada keindahan meski jauh di lubuk hati ada luka yang terkulum bersama isak, sulit terpecahkan.
Entah, aku belum mampu mengungkapnya. Aku ingin berguna untuk sekedar mengurai tawanya.
Berharap rantai-rantai itu mengikis walau hanya untuk sejengkal dosa.

Ada makna di sana, tertoreh bersama satu, dua bahkan tiga kegundahan.
Aku sudah sedikit bisa menjadi lebih tegar karenanya. Bukan saja untuk luka yang bersarang, aku menjadi sedikit lebih berani mengurai salah dan menjemput kata maaf.

Kita memang bukan Malaikat.

Sabtu, Juni 26, 2010

Aku, Kamu.

Aku ada, kaupun ada.
Aku pribadiku, engkau pribadimu.
Maha karya indah yang Tuhan cipta, bingkisan yang terbungkus indah dalam wujud yang bernama manusia.
Namun lihat dan bukalah apa yang tersimpan didalamnya?
Kotoran hitam yang membusuk ataukah mutiara berbinar.
Aku berdiri di sini, kaupun begitu.
Kita ada di sini, dalam waktu yang sama dan kita berpijak di bumi Tuhan yang sama.
Haruskah ada dendam??

Senin, Oktober 26, 2009

Kasyfu At-Taqdiraat (Bagian ke-II) Thanks God...


Hari ini saya pergi ke kuliah, menemui Ablah (Miss.) Hana  di Qism Khirrijaat (Bagian Urusan Ijazah) untuk memastikan keadaan kasyfu at-taqdiraat (transkip nilai) saya yang tak kunjung selesai. Sesampainya di sana saya menjumpai temen-teman satu fakultas sedang mengantri untuk mengambilnya. Alhamdulillah, tenyata transkip nilai kami sudah bisa di ambil. Akhirnya... setelah satu bulan menunggu, si kasyfu at-taqdiraat keluar juga. Mereka bilang transkip nilai sudah bisa diambil sejak hari kamis kemarin. Ternyata saya ketinggalan informasi. Memang akhir-akhir ini saya sibuk mempersiapkan ujian level terakhir kursus bahasa arab yang tinggal beberapa hari lagi, belum lagi mempersiapkan dan merancang hasta karya sebagai syarat kelulusan saya di markaz nil. Semoga semua berjalan sesuai target, amin.

Saya berada di urutan ke empat di jajaran antrian. Satu jam sudah berlalu, tetapi Ablah Hana belum membuka pintu ruangan, dia masih sibuk membenahi berkas-berkas transkip nilai. Beberapa menit kemudian Ablah Amal (petugas yang mengurus ijazah sementara), keluar menghampiri Dzoriefah, teman saya yang berada di urutan pertama antrian, dia sedang membaca al-Quran sehingga tidak menyadari kalau Ablah Hana menegurnya. "Ismik eyh ya habibty?" (nama kamu siapa?), tanya Ablah Hana. "Ana? ana Dzoriefah ya Ablah", jawabnya kaget. "Shoutik jamiel awi ya habibty, ta'aly istamirry qiroatik bi janib maktaby" (suaramu bagus banget. Kemarilah, teruskan bacaanmu di dekat meja kerja saya), pintanya.

Tiga puluh menit berlalu pintu ruanganpun dibuka. Dzoriefah menghentikan bacaannya dan pamit untuk menjumpai Ablah Hana. Namun Ablah Hana masih saja repot dengan berkas-berkas transkip semua fakultas yang bertumpuk di atas meja kerjanya dan dia mengatakan akan memuai kerjanya ba'da nush sa'ah (setengah jam lagi). Fuih.... Seperti inilah administrasi di kampus kami. Namun itu bukan masalah lagi bagi kami, itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Walaupun demikian, Sumbangsi yang diberikan Al-Azhar untuk kami begitu besar, terutama ilmu pengetahuan yang kami dapat  di bangku kuliah secara gratis, belum lagi beasiswa bulanan yang membantu sebagian mahasiswa untuk meringankan biaya hidup sehari-hari di sini, untuk itu kami harus banyak bersyukur.

Tiba-tiba Ablah Amal memanggil Dzoriefah, kali ini bukan menyuruhnya membaca al-Quran di samping meja kerjanya, tetapi ia bersedia membantu Ablah Hana untuk membagikan transkip nilai kami. Thanks God. "Ahsyan qiro'atik wa shoutik ya dzorirfah, sa usa'iduki wa jamielatik ". (karena bacaan al-Qur'anmu dan suaramu Dzoriefah, aku bersedia membantumu dan teman-temanmu), Ablah Amal menjelaskan. Alhamdulillah, jika tidak demikian saya tidak tahu harus menunggu berapa jam lagi. Saya tidak sempat menduga, biasanya mereka tidak mau mengerjakan urusan yang bukan tugas mereka, namun karena bacaan al-Quran Ablah Amal bersedia membantu kami. Sekali lagi kami harus kembali bersyukur, Alhamdulillah.

Kamis, Oktober 22, 2009

Tahukan Anda

Selamat pagi semua....
"Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi ku nyalakan kompi, membersihkan ruang kecilku.... :D"
Udara di Mesir lagi gajebo (baca, ga jelas bo!) banget nih. Kalau bahasa masisirnya ghoir mu'tadil. Terang aja, kadang panas, kadang merasa kedinginan, cuappe dweh
Ngomong-ngomong soal udara, engga sengaja nemuin artikel yang judulnya "kapankah payung ditemukan?" (ga nyambung ya, bodo amat, hihi) siapa tahu kebanyakan kita ada yang belum tahu, makanya saya posting di sini. Selamat membaca...

Bagi kita tampaknya wajar saja untuk memakai payung saat hujan. Tapi sebenarnya payung tidak diciptakan sebagai perlindungan terhadap hujan. Mulanya digunakan untuk melindungi diri dari panas matahari.
 
Tidak diketahui siapa yang pertama kali menciptakan payung, tapi payung sudah digunakan sejak zaman dahulu kala. Mungkin orang Cina yang pertama kali menggunakannya, pada abad kesebelas sebelum Masehi.

Kita tahu bahwa payung digunakakan oleh bangsa Mesir kuno dan Babilonia sebagai pelindung dari panas matahari. Dan ada hal aneh yang berhubungan dengan penggunaan ini, payung menjadi simbol kehormatan dan otoritas. Di Timur Jauh pada jaman kuno, payung hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan atau bagi para pejabat tinggi.

Di Eropa, orang Yunani adalah yang pertama kali menggunakan payung sebagai pelindung dari Matahari. Dan payung menjadi umum di Yunani kuno. Tapi konon orang pertama yang menggunakan payung sebagai pelindung dari hujan adalah orang Romawi kuno.

Pada Abad Pertengahan, penggunaan payung bisa dikatakan lenyap.Kemudian muncul lagi di Italia pada akhir abad keenambelas. Dan sekali lagi dianggap sebagai simbol kekuasaan dan otoritas. Pada tahun 1680, payung muncul di Perancis, dan kemudian di Inggris.

Pada abad kedelapan belas, payung digunakan pada waktu hujan hampir di seluruh Eropa. Payung tidak banyak berubah dalam gayanya selama masa ini, walaupun memang menjadi lebih ringan. Baru pada abad keduapuluh payung wanita mulai dibuat dalam berbagai warna.