Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 17, 2012

P e n g h a p u s

Jika kita salah dalam menggoreskan sesuatu di kertas, apa yang kita lakukan??

Menghapus. Ya menghapus. Dengan karet penghapus atau dengan tipe-x? Bisa dua-duanya. Jika kita menghapus dengan karet penghapus, apakah tulisan yang salah itu masih ada? Tidak. Jika kita menggunakan tipe-x, apakah tulisan yang salah itu masih ada? Ya, masih, hanya tertutup dengan tipe-x.

Demikianlah kita memaafkan kesalahan orang lain. Jika kita memaafkan kesalahan orang lain dengan ‘karet penghapus’ maka kita memaafkan dan melupakan kesalahan orang tersebut. Namun bila kita menghapusnya dengan tipe-x, itu artinya kita masih menyimpan kesalahan orang tersebut dalam hati kita.

Teman-teman, bulan Ramadhan telah memasuki hari-hari penghujungnya. Saya sebagai manusia yang lemah dan tidak sempurna mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah saya lakukan pada kalian semua. Hapuskanlah kesalahanku dengan karet penghapus sehingga kesalahanku tidak lagi kalian simpan di hati. Mohon maaf lahir batin. Semoga kita kembali kepada kebersihan diri, kesucian hati, kejernihan jiwa.

Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H.


Kamis, Maret 10, 2011

Bagaimana Anda Memperlakukan Al-Qur'an?

Al-Qur'an memperkenalkan dirinya sebagai "Kitab yang tiada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa" (Q.S.Al-Baqarah [2]:2). Artinya, kitab suci Al-Qur'an merupakan petunjuk dan pegangan hidup kita. Persoalannya sekarang, bagaimana sebenarnya kita memperlakukan Al-Qur'an dalam hidup kita?

Bukan Tentang Mendung

Sebenarnya ini bukan tentang mendung, hanya menerjemahkan rasa yang tidak terungkap oleh lidah. Ini juga bukan tentang kematian, karena saya sangat tahu bahwa setiap yang hidup pasti akan mati, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya yang suci "tiap-tiap jiwa (yang bernyawa) akan merasakan kematian" (Q.S. Ali Imran [3]:185).

Sabtu, Januari 01, 2011

Tangisnya Membuatku Iba

Pagi itu seperti biasa saya membuka jendela pagi, menyapa gagah dan dermawannya sang matahari yang tiada hentinya menerangi hari, rintik hujan tak menghalangi sinarnya, membuat pagi semakin sejuk. 

Hari itu berjalan seperti biasa. Saya kembali melangkahkan kaki menuju sebuah tempat yang mempertemukan saya dengan wajah-wajah lugu yang menanti siraman cahaya, cahaya untuk membuka jendela dunia. Disana terlihat ada semangat, cita-cita dan harapan. Begitu indah dan menyentuh. Namun diantara wajah-wajah itu ada satu wajah yang menutupi ketiga hal indah itu dengan kegalauan dan penat. saya mencoba untuk mengungkap apa yang disembunyikannya, saya belai kerudung kecilnya, dia menatap saya dengan tatapan penuh iba membuat saya ingin segera meraih jemari mungilnya. berharap dapat sedikit mengurangi luka yang ia simpan. "Ibu guru, besok aku tidak bisa lagi melihat ibu" ucapnya dengan linangan air mata. 

Pilihan

Pilihan. Ya, ia laksana air yang terus mengalir menyusuri hamparan bumi. Laksana agkasa yang dengan birunya menaungi semesta. Ia selalu hadir dalam setiap desah nafas manusia. Karena ia adalah bagian dari kehidupan. Ia adalah bunga dari perjalanan hidup. Sebuah pilihan adalah hakikat kehidupan. Tak banyak yang paham akan makna pilihan; sebanyak yang tahu. Tapi, sebuah pilihan selalu hadir, suka atau tidak, kita kehendaki atau tidak. Dia terus menemani kita dalam mencari arti kehidupan dan makna kematian. Ia ibarat siang dan malam yang terus berganti hingga Sang Penguasa jagat raya ini menghendaki hilangnya proses ini dari peradaban dunia yang fana ini.
 
Hidup adalah pilihan. Berjalan adalah pilihan. Diampun adalah pilihan. Tak terelakan lagi. Kita hidup diantara pilihan. Kita bekerja adalah pilihan. Berlaku jujur adalah pilihan, Kita belajarpun adalah sebuah pilihan. Ya, kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Sampai pada saat kita ingin menyempurnakan Din pun, hati kita, pikiran kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan. Pilihan hidup.

Sabtu, Juni 26, 2010

Aku, Kamu.

Aku ada, kaupun ada.
Aku pribadiku, engkau pribadimu.
Maha karya indah yang Tuhan cipta, bingkisan yang terbungkus indah dalam wujud yang bernama manusia.
Namun lihat dan bukalah apa yang tersimpan didalamnya?
Kotoran hitam yang membusuk ataukah mutiara berbinar.
Aku berdiri di sini, kaupun begitu.
Kita ada di sini, dalam waktu yang sama dan kita berpijak di bumi Tuhan yang sama.
Haruskah ada dendam??

Senin, Oktober 26, 2009

Kasyfu At-Taqdiraat (Bagian ke-II) Thanks God...


Hari ini saya pergi ke kuliah, menemui Ablah (Miss.) Hana  di Qism Khirrijaat (Bagian Urusan Ijazah) untuk memastikan keadaan kasyfu at-taqdiraat (transkip nilai) saya yang tak kunjung selesai. Sesampainya di sana saya menjumpai temen-teman satu fakultas sedang mengantri untuk mengambilnya. Alhamdulillah, tenyata transkip nilai kami sudah bisa di ambil. Akhirnya... setelah satu bulan menunggu, si kasyfu at-taqdiraat keluar juga. Mereka bilang transkip nilai sudah bisa diambil sejak hari kamis kemarin. Ternyata saya ketinggalan informasi. Memang akhir-akhir ini saya sibuk mempersiapkan ujian level terakhir kursus bahasa arab yang tinggal beberapa hari lagi, belum lagi mempersiapkan dan merancang hasta karya sebagai syarat kelulusan saya di markaz nil. Semoga semua berjalan sesuai target, amin.

Saya berada di urutan ke empat di jajaran antrian. Satu jam sudah berlalu, tetapi Ablah Hana belum membuka pintu ruangan, dia masih sibuk membenahi berkas-berkas transkip nilai. Beberapa menit kemudian Ablah Amal (petugas yang mengurus ijazah sementara), keluar menghampiri Dzoriefah, teman saya yang berada di urutan pertama antrian, dia sedang membaca al-Quran sehingga tidak menyadari kalau Ablah Hana menegurnya. "Ismik eyh ya habibty?" (nama kamu siapa?), tanya Ablah Hana. "Ana? ana Dzoriefah ya Ablah", jawabnya kaget. "Shoutik jamiel awi ya habibty, ta'aly istamirry qiroatik bi janib maktaby" (suaramu bagus banget. Kemarilah, teruskan bacaanmu di dekat meja kerja saya), pintanya.

Tiga puluh menit berlalu pintu ruanganpun dibuka. Dzoriefah menghentikan bacaannya dan pamit untuk menjumpai Ablah Hana. Namun Ablah Hana masih saja repot dengan berkas-berkas transkip semua fakultas yang bertumpuk di atas meja kerjanya dan dia mengatakan akan memuai kerjanya ba'da nush sa'ah (setengah jam lagi). Fuih.... Seperti inilah administrasi di kampus kami. Namun itu bukan masalah lagi bagi kami, itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Walaupun demikian, Sumbangsi yang diberikan Al-Azhar untuk kami begitu besar, terutama ilmu pengetahuan yang kami dapat  di bangku kuliah secara gratis, belum lagi beasiswa bulanan yang membantu sebagian mahasiswa untuk meringankan biaya hidup sehari-hari di sini, untuk itu kami harus banyak bersyukur.

Tiba-tiba Ablah Amal memanggil Dzoriefah, kali ini bukan menyuruhnya membaca al-Quran di samping meja kerjanya, tetapi ia bersedia membantu Ablah Hana untuk membagikan transkip nilai kami. Thanks God. "Ahsyan qiro'atik wa shoutik ya dzorirfah, sa usa'iduki wa jamielatik ". (karena bacaan al-Qur'anmu dan suaramu Dzoriefah, aku bersedia membantumu dan teman-temanmu), Ablah Amal menjelaskan. Alhamdulillah, jika tidak demikian saya tidak tahu harus menunggu berapa jam lagi. Saya tidak sempat menduga, biasanya mereka tidak mau mengerjakan urusan yang bukan tugas mereka, namun karena bacaan al-Quran Ablah Amal bersedia membantu kami. Sekali lagi kami harus kembali bersyukur, Alhamdulillah.

Jumat, Oktober 02, 2009

Where's Happiness??

I'm not afraid  of anything,
i just to know that i can breath
I don't need much of anything,
but suddenly, suddenly....
i'm small and the world is big,

all around me is fast moving
surrounded by so many thing,
suddenly, suddenly....
i'm young and i'm free,
but i get tired and i get weak
i get lost and i can't sleep
but suddenly, suddenly...
How does it feel to be different from me 
are we the same??
(avril Lavign)



Ney lagu kok mellow banget ya.
Kita seringkali berfikir bahwa orang lain, sahabat, teman, kenalan dan tetangga lebih bahagia dibandingkan diri kita sendiri. Mereka memiliki apa yang tidak kita punya. 
Tanpa disadari kita memang selalu tertarik untuk melihat orang yang berada di atas kita. Dan itu membuat kita selalu terpukul.

Kita selalu berfikir segala apa yang telah kita usahakan, tidak pernah membuahkan hasil yang kita inginkan. Segalanya seperti sia-sia belaka. Kita selalu merasa di sana, di tempat orang lain, lebih baik dan lebih bahagia. Sebab itulah kita selalu berputus asa sebelum berusaha.
Tapi  pernahkah kita berfikir bahwa mereka di sana juga melihat ke arah kita dan berfikir kita lebih bahagia, mereka melihat kebahagiaan ada di sini, milik kita. Mereka hanya melihat hal yang menyenangkan tanpa mengenal kekecewaan yang kita hadapi.
Hidup bahagia adalah seni yang sangat mengagumkan. Percayalah, kebahagiaan bukan terletak di sana, tetapi dia ada di sini, di dalam hati kita.
Where's Happiness??? Inside our mind.


(Arba' wa Nush, saat kebahagiaan terasa hilang. God, give me strength in this life)


Jumat, September 25, 2009

Belajar Menjadi Sahabat Yang Baik

Segala sesuatu tidak selamanya akan berjalan mulus, adakalanya disana terdapat kerikil tajam yang harus dilewati. Begitu pula dalam hubungan persahabatan, situasi pahit sesekali akan datang. Oleh sebab itu, sebuah hubungan memerlukan rasa saling pengertian.

Kita harus dapat menerima bahwa setiap kita memiliki sisi baik dan buruk, adakalanya seseorang menjelma sebagai malaikat, di lain waktu dia bisa saja berbuat kealpaan dan kesalahan. Saat seseorang berbuat salah kita sering kali melupakan sisi baik yang dimilikinya. Hal itu sangatlah tidak adil, sebagai seorang sahabat sepatutnya kita memberikan ruang atas kealpaannya. Buatlah prasangka baik, sebab seringkali pada situasi sulit prasangka buruk akan membuat sesuatu menjadi runyam.

Well, kita harus menyadari bahwa no body's perfect,  itu salah satu hal yang bisa membuat kita  bisa menerima kealpaan seseorang. Dan satu hal yang penting, ingatlah hal baik apa yang telah dia lakukan untuk kita selama ini.

Renungan,
Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita. Oleh karenanya, peliharalah persahabatan dengan baik. 
Ingatlah kapan terakhir kali kita berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kita??
Siapa yang mengasihi kita saat kita merasa tidak dicintai??
Siapa yang ingin bersama kita pada saat tiada satupun yang dapat kita berikan ??
Merekalah sahabat-sahabat kita.
Hargai dan peliharalah selalu persahabatan dengan mereka.








 




Selasa, September 22, 2009

DO YOU REALIZE THAT

We are born with two eyes in front,
because we must not always look behind.
But see what lies ahead, beyond us.

We are born to have two ears one left - one right so we can hear both sides.
Collect both the compliments and criticisms, to see which are right.

We are born with a brain concealed in a skull.
Then no matter how poor we are, we are still rich.
For no one can steal what our brains contains.
Packing in more jewels and rings than you can think.

We are born with two eyes, two ears, but one mouth.
For the mouth is a sharp weapon, it can hurt, flirt, kill.
Remember to talk less, listen and see more.

We are born with only one heart, deep in our ribs.
It reminds us to appreciate and give love from deep within.
Learn to love and enjoy being loved but do not expect people to love you the way or as much as you had loved them.
Give love without expecting love in return and you will find love more beautiful.


Rabu, November 26, 2008

Pelangi Itu...

Pagi pertama awal musim dingin di Kairo 08 Oktober 2005.

Angin dan debu adalah gambar hidup di luar jendela yang saya intip pagi itu.  Saya lupa dengan apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya asing di Negeri ini. Jendela kaca buram oleh embun musim dingin. Saya tulis dengan jari saya disana, "semoga sukses" dengan bahasa inggris. Inilah keputusan yang akhirnya saya pilih. Sebuah pilihan yang cukup lama  saya pertimbangkan sejak hari kelulusan dari Attaqwa saat ayah mendengar pengumuman nilai dan melihat serta memperhatikan isi raport nilai saya. Begitulah kebiasaan ayah saat hari kenaikan kelas, hingga hari kelulusan saya dari pesantren itu. Awalnya saya merasa ini adalah sebuah permohonan yang ayah inginkan dari saya. Permohonan yang begitu berat untuk  saya penuhi. Mungkin begitu juga bagi ayah sendiri terutama ibu. Karena saya tahu saat kalimat itu terucap, ada duka yang tersimpan di balik wajah hangat ayah. Hingga akhirnya saya menyadari inilah jalan yang harus saya ambil untuk masa depan saya. Karena saya begitu faham, sejak dahulu Ayahlah yang lebih tau siapa diri saya, saya tahu ayah tidak pernah menuntut dan mengatur saya sesuai dengan keinginannya semata. Ayah, nanda akan selalu menghormati keputusan dan keinginan ayah. Tak apa jika ayah bebankan harapan-harapan ayah dipundak nanda, nanda akan berusaha mencapainya, itulah jawaban yang keluar dari mulut saya saat itu. Karena bagi saya semua yang ayah atur adalah yang terbaik untuk saya. Hingga akhirnya kalimat yang menyakitkan itu hadir juga “Meninggalkan”. Tentunya kalimat itu sudah tidak asing lagi  bagi saya. Saat harus pergi meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah kepondok pesantren dan kini harus pergi ke luar negri. Tepat tanggal 06 Oktober 2008, ayah, ummi dan keluarga melepas kepergian saya ke negri yang asing ini, Mesir.

Saat tiba, saya tidak merasa sangat sendiri, karena tiba-tiba  saya merasa dekat dengan setiap orang baru yang saya temui. Kecuali penduduk asli.
saya bertemu dengan teman-teman saya, Tuhan memperkenalkan saya dengan mereka satu persatu. Si Anu dari kota ini, dan seterusnya. Ada yang menjengkelkan, menyenangkan, mengagumkam, mengerikan dan ….  Layaknya pelangi di musim kemarau, mereka pelangi itu. Sampai akhirnya  saya mendapatkan seorang sahabat baik yang hingga saat ini menjadi sahabat dekat saya, Mihmidati & Nita.   

Saya sangat menghargai setiap detik, hari yang saya lewati. Sebegitu sangat berharganya, sehingga saya tidak mau kehilangan setiap ingatan dari hari yang saya lewati. Saya catat diam-diam. Kekaguman saya pada Negeri ini, kejengkelan saya pada sistem administrasi di Kampus, rasa hormat saya pada para penulis Mesir yang produktif juga pekerja keras yang sering saya dapati di Bus, di pinggir jalan, metro, kios-kios, terutama di pasar. Tak ada satupun yang saya lewatkan dengan tanpa mencatat. Menyimpannya sebagai pelajaran. Juga tentang teman-teman dan sahabat saya yang memberi banyak hal yang sangat berarti.

Terima kasih banyak ayah, ini semua berkat ridho dan doamu. Juga untukmu ummi, yang telah mengizinkan & merelakan nanda untuk mencari ilmu di sini, walau dengan cucuran air matamu. Aku sungguh merindukan kalian.

Kamis, November 13, 2008

Sebuah Pesan


Surat Lusuh
Sang pengagum kedamaian*

Kepada Yang Terhormat,
Para pengagum kedamaian
Di-
Kediaman
Assalamualikum Wr. Wbr.

Pesan untukku, kamu, dia dan mereka, karna kita saudara...

"Cegah tangis sebelum ia meredam, lantas raihlah tawamu sehingga kau tersenyum, sebab senyum tidak bisa dibeli, tapi harus diperjuangkan. Mari kita buat Indonesia tersenyum kawan! lihat, kini dunia sudah semakin renta, redakan jerit tangisnya. perhatikanlah tubuhnya semakin melemah akibat ulah kita sendiri. kelak, jika ia runtuh, dunia ini akan berakhir. Kita harus cepat menyadari kawan! betapa musibah banyak menimpa negeri kita, betapa telah melampaunya dirimu, aku, dia dan mereka. andai saja kita cepat tersadar dan melupakan fatamorgana busuk dunia yang dipertuhankan"

Wassalamualaikum wr. wb


Jakarta, 10 November 2008

Hormat Saya
Sang Pengagum kedamaian




Rabu, Oktober 29, 2008

Catatan mini seorang fakir

Sekedar catatan:
Catatan mini seorang fakir

Awal musim dingin. Arba wa Nush, 28 Oktober 2008
Hari ini saya bangun lebih awal dari biasanya, tepat jam 3.00 pagi. saya tidak mau membiarkan kesempatan ini terlewatkan begitu saja, saya langsung berwhudu, bersimpuh sujud mengharapkan ampunan dan karunia-Nya. Tak lupa saya raih Al-quran mungil pemberian adik saya dan membacanya sambil sedikit mencermati isi kandungannya semampuk saya. Hati saya terenyuh, betapa selama ini saya sangat jauh dari-Nya. Saya lupa untuk berterima kasih kepada-Nya. Padahal di dalam setiap hari-hari yang saya lewati ada saat di mana saya merasa sangat kaya raya atas apa yang  saya miliki, tawa, ketulusan, cinta, kasih sayang, kejujuran, itulah semua kekayaan saya.

Tuhan menghujani saya dengan Rahmat teragung-Nya. Maafkan hamba Tuhan, hamba sangat miskin, fakir kemampuan. Kemampuan untuk berterima kasih, kemampuan membalas seluruh kebaikan-Mu kepada hamba, atau sekedar memberi beberapa kalimat indah untuk-Mu, sungguh hamba sangat fakir.

Sangat beruntung, Tuhan maha kaya, tidak butuh apapun dari hambanya, apalagi hamba semacam saya. Dan untuk inipun saya masih terlambat bersukur “Segala puji hanya untuk-Mu, Tuhanku. Maafkan atas kefakiran hamba”.

Tak terasa sepotong cahaya menyelinap dari balik jendela kamar saya saat tirai kabut membuka panggung bumi.  Saya langsung membuka jendela kamar, udara dingin langsung menerpa wajah saya, menggigil. Saya nikmati wangi embun yang membasahi dedaunan di tambah kicau burung yang gembira menyambut pagi. Meskipun demikian saya memberanikan diri keluar rumah, ada sesuatu yang harus saya beli.

Dingin. Kehidupan di mulai lagi, bus-bus telah memenuhi terminal yang terletak di depan apartemen tempat tinggal saya. Saya tidak tahu apa yang sudah Allah rencanakan untuk hidup saya hari ini. Setelah kemarin, lusa, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu dan bertahun-tahun yang lalu, kesedihan, kesenangan, kekecewaan, rindu, sepi, bahagia dan segala macam rasa telah mewarnai hari-hari saya. Namun demikian, ada satu rasa yang akrab dengan hari-hari saya kini “Rindu”. Dia sseakan tidak mau melewati hari-hari saya. Saya mulai akrab dengannya sejak tiga tahun yang lalu, saat saya memilih untuk melanjutkan kuliah di Kairo, Mesir. Keputusan inilah yang membuat saya kini jauh dari orang-orang yang sangat mencintai saya dan sangat  saya cintai. Sejak saat itu saya merasa kesepian. Meninggalkan adalah hal yang menyakitkan. Tuhan, ku harap hariku ini lebih baik dari hari sebelumnya.

Sambl memperhatikan setiap suara dan gerak kehidupan, disana  saya melihat ada berjuta rasa. Di sana saya melihat nenek tua sedang duduk di atas batu besar yang tergeletak tepat di belakang kios penjual makanan di tengah-tengah terminal. Dia terlihat lelah, ada kerut duka yang menyelimuti wajahnya. Sepertinya dia sedang menunggu bis. Ada sekantung ‘Isy besar di sisi kanannya. Baju hitam yang ia kenakan terlihat begitu lusuh, menandakan hidupnya begitu berat. Ditambah lagi ada bocah cilik disisi kirinya yang sedang merengek sambil menarik-narik baju nenek tua itu, sepertinya dia menginginkan sesuatu, entahlah, apakah ia kedinginan??? dia terlihat hanya mengenakan sehelai baju lusuh dan kotor, wajahnya pucat. Tapi nenek tua itu diam saja tanpa menggubrisnya. Ada bapak tua berjas rapi menghampiri nenek tua itu, diberikannya syal dan jaket miliknya untuk bocah cilik tadi, “Alhamdulillah” batink saya. Betapa saya harus banyak bersyukur.

Setelah itu saya mengalihkan pandangan menerobos jalan raya, di sana terlihat ada anak laki-laki berusia kira-kira tujuh tahun sedang berkeliling apartemen dengan sepuluh bahkan dua puluh ‘Isy di atas kepalanya, sambil berteriak menjajakan ‘Isy-nya. Tuhan, betapa berat hidup ini untuknya. Tapi tidak sedikitpun raut sedih di wajahnya. Senyuman di wajahnya menandakan dia sangat bahagia, entahlah, apakah ia menyembunyikannya???. Saya kembali harus bersyukur.

Tidak terasa sudah hampir jam 7.30 saya harus bersiap-siap untuk kuliah. Setelah siap, saya berangkat menuju terminal, sbelum sampai di sana saya melihat penjaga apartemen tempat saya tinggal, dia terlihat lelah, saya rasa dia belum tidur sejak semalam, matanya terlihat merah, saya menyapanya dan melanjutkan langkah. Sambil menunggu bus, saya mampir sebentar kekios makanan untuk membeli pulsa, di situ saya melihat ada seorang wanita berbadan gemuk sedang memilih makanan, dia tidak berjilbab, ada kalung emas besar di lehernya dan gelang besar di pergelangan tangannya, seakan membuat langkahnya bertambah berat. Polesan make-upnya membuat mata saya silau, apa ini hidup bahagia???.

Senin, Oktober 27, 2008

Kisah berhikmah

Kekuatan Maaf

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang. Umar bertanya, "Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?"
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, "Aku datang ke negri ini hanya untuk membunuh Muhammad!".
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.
Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, "Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?".
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, "Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!" Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, "Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu".
Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, "Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah)." Si musyrik itu menjawab dengan ketus, "Aku tidak akan mengucapkannya!". Rasulullah membujuk lagi, "Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah." Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, "Aku tidak akan mengucapkannya!"
Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negrinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, "Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah."
Rasulullah tersenyum dan bertanya, "Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?" Tsumamah menjawab, "Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin."
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, "Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah."




Jibril A.S, Kerbau, Kelelawar dan Cacing

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.
Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, "hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau". Si kerbau menjawab, "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri". Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.
Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, "hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar". "Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya", jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.
Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, "Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing". Si cacing menjawab, " Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya".



Ahli Filsafat & Abu Nawas

Saat Abu Nawas bekerja di kapal, ada seorang penumpang yang menegurnya, ia adalah seorang Ahli Filsafat.

“Apa kamu pernah belajar filsafat..?”, tanya Ahli Filsafat.
“Tidak.. kenapa?”, jawab Abu Nawas.
“Berarti separuh hidupmu telah tersia-siakan!”, jawab Ahli Filsafat.
Tiba-tiba datang badai besar dan kapalpun terombang-ambing.
Abu Nawas pun bertanya pada Ahli Filsafat, “Apakah kamu pernah belajar berenang..?”.
“Tidak! Kenapa???”, jawab Ahli Filsafat.
“Berarti seluruh hidupmu akan sia-sia..”, sahut Abu Nawas.