Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 11, 2015

Blog Kadaluarsa ini, Berusaha Eksis Kembali

Bismillahirrahmaanirrahim...
Ibarat makanan, blog saya ini bisa dikatakan kadaluarsa. Sebab pemiliknya yang sok sibuk ini sudah tidak pernah menyentuhnya lagi. Meskipun kadang suka merepost ulang demi menjaga eksistensi.
Tiga tahun belakangan ini saya memang sedang menyibukkan diri berkiprah di dunia pendidikan. Dari mulai mengajar di sekolah yang dipimpin orang lain, hingga kini sedang belajar menjadi pemimpin di sebuah sekolah di bilangan Bekasi Utara. Tugas yang berat ini, bagi seorang junior seperti saya memang membutuhkan tenaga dan fikiran ektra untuk dapat memajukan sekolah yang saya pimpin sehingga membuat saya selalu absen untuk sekedar sharing dengan teman-teman blogger. Saya sungguh merindukan saat-saat menghabiskan waktu hanya sekedar melayout blogger saya ini hingga memposting tulisan yang mungkin bagi sebagian orang itu tidak penting. Tetapi yang terpenting bagi saya adalah dapat terus menjaga eksistensi dan bisa sedikit sharing pengetahuan dan pengalaman. 
Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah proses kepuasan diri, jika di lihat dari pengorbanan dan perjuangannya. Dalam perjalanannya, saya sudah banyak mengucurkan air mata, keringat, tenaga dan materi. Tapi semua itu dapat terbalaskan dengan kepuasan bathin saat mendapatkan arti dan makna dari sebuah pengorbanan hidup demi terealisasinya cita-cita murni seorang yang ingin mengabdi pada Agama dan bangsanya. Ibarat menyeruput secangkir cokelat panas, di bekunya puncak Fashlu as-Syita (musim dingin) di Kairo sana.
Pengorbanan yang saya bicarakan di sini bukan hanya tentang kerasnya kehidupan, tetapi juga tentang bagaimana seorang Al-Fakir ila rahmatillah seperti saya ini ingin ikut serta mencerdaskan anak bangsa mulai dari NOL.
To be continued....


Senin, Oktober 26, 2009

Kasyfu At-Taqdiraat (Bagian ke-II) Thanks God...


Hari ini saya pergi ke kuliah, menemui Ablah (Miss.) Hana  di Qism Khirrijaat (Bagian Urusan Ijazah) untuk memastikan keadaan kasyfu at-taqdiraat (transkip nilai) saya yang tak kunjung selesai. Sesampainya di sana saya menjumpai temen-teman satu fakultas sedang mengantri untuk mengambilnya. Alhamdulillah, tenyata transkip nilai kami sudah bisa di ambil. Akhirnya... setelah satu bulan menunggu, si kasyfu at-taqdiraat keluar juga. Mereka bilang transkip nilai sudah bisa diambil sejak hari kamis kemarin. Ternyata saya ketinggalan informasi. Memang akhir-akhir ini saya sibuk mempersiapkan ujian level terakhir kursus bahasa arab yang tinggal beberapa hari lagi, belum lagi mempersiapkan dan merancang hasta karya sebagai syarat kelulusan saya di markaz nil. Semoga semua berjalan sesuai target, amin.

Saya berada di urutan ke empat di jajaran antrian. Satu jam sudah berlalu, tetapi Ablah Hana belum membuka pintu ruangan, dia masih sibuk membenahi berkas-berkas transkip nilai. Beberapa menit kemudian Ablah Amal (petugas yang mengurus ijazah sementara), keluar menghampiri Dzoriefah, teman saya yang berada di urutan pertama antrian, dia sedang membaca al-Quran sehingga tidak menyadari kalau Ablah Hana menegurnya. "Ismik eyh ya habibty?" (nama kamu siapa?), tanya Ablah Hana. "Ana? ana Dzoriefah ya Ablah", jawabnya kaget. "Shoutik jamiel awi ya habibty, ta'aly istamirry qiroatik bi janib maktaby" (suaramu bagus banget. Kemarilah, teruskan bacaanmu di dekat meja kerja saya), pintanya.

Tiga puluh menit berlalu pintu ruanganpun dibuka. Dzoriefah menghentikan bacaannya dan pamit untuk menjumpai Ablah Hana. Namun Ablah Hana masih saja repot dengan berkas-berkas transkip semua fakultas yang bertumpuk di atas meja kerjanya dan dia mengatakan akan memuai kerjanya ba'da nush sa'ah (setengah jam lagi). Fuih.... Seperti inilah administrasi di kampus kami. Namun itu bukan masalah lagi bagi kami, itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Walaupun demikian, Sumbangsi yang diberikan Al-Azhar untuk kami begitu besar, terutama ilmu pengetahuan yang kami dapat  di bangku kuliah secara gratis, belum lagi beasiswa bulanan yang membantu sebagian mahasiswa untuk meringankan biaya hidup sehari-hari di sini, untuk itu kami harus banyak bersyukur.

Tiba-tiba Ablah Amal memanggil Dzoriefah, kali ini bukan menyuruhnya membaca al-Quran di samping meja kerjanya, tetapi ia bersedia membantu Ablah Hana untuk membagikan transkip nilai kami. Thanks God. "Ahsyan qiro'atik wa shoutik ya dzorirfah, sa usa'iduki wa jamielatik ". (karena bacaan al-Qur'anmu dan suaramu Dzoriefah, aku bersedia membantumu dan teman-temanmu), Ablah Amal menjelaskan. Alhamdulillah, jika tidak demikian saya tidak tahu harus menunggu berapa jam lagi. Saya tidak sempat menduga, biasanya mereka tidak mau mengerjakan urusan yang bukan tugas mereka, namun karena bacaan al-Quran Ablah Amal bersedia membantu kami. Sekali lagi kami harus kembali bersyukur, Alhamdulillah.

Selasa, Oktober 20, 2009

The things that make me happy


Habis pulang dari kursus enaknya minum teh hangat sambil buka-buka blog. Hampir sebulan engga jengukin si blog, kangen juga rasanya. Hari ini berjalan seperti biasa, ga ada yang istimewa, bangun pagi-pagi, mandi, rapi-rapi, nunggu bus, kursus selama 3 jam (saat kuliah belum kelar sih biasanya langsung ke kuliah). Sejak kuliah selesai 3 bulan yang lalu, hal yang di prioritaskan juga berganti, nyelesain level kursus, ngurus-ngurus ijazah dan cari oleh-oleh untuk keluarga. Dan bulan ini level kursus hampir tuntas, O, senangnya....saat yang saya nantikan akan segera tiba, Pulaaaaaaaaaaaaaaaang :) wait me Bekasiku tercinta, hehehe. Hi fi untuk sejenak mari singkirkan lupakan kata "pulang" dalam pikiranmu.

Hari ini kita akan berbicara mengenai hal yang membuat kita happy. What makes me happy?? sebenarnya pengen nyenengin diri aja, bosen juga nungguin ijazah yang belum juga selesai. OK, What makes you happy fi?
- Keliling dunia, wah.........
- Ada di rumah, gobrol-ngobrol di halaman rumah bareng bokap, nyokap dan ade-ade sambil bercanda-canda dan makan bakso.
- Berada di tepi pantai, tiduran di atas pasir sambil dengerin suara ombak.
- Bisa renang, menyelam, melihat indahnya dasar laut sambil ngambilin mutiara-mutiaranya, di jual deh. he9x.
- Berada di puncak gunung, melihat ke segala penjuru dunia sambil berteriak, hentikan peperangan dan segala pertikaian, aku muak mendengar dan menyaksikan itu semua.
- Berada di bawah menara eiffle, indah....
- Makan rujak bareng temen-temen sambil nangis-nangis kepedesan.... wahhh seruuuu...
- Ketemu Andrea Hirata duduk-duduk sambil ngobrol-ngobrol santai.
- Ditelpon temen-temen MI, Tsanawiyah dan Aliyah, i miss them.
- Curhat dan ngobrol bareng Ati, miss you so much friend. 
- Nonton comedy romance ketawa-tawa diselingi haru untuk sebuah kata, "cinta." Mellow deh, hihihi. 
- Ngerti Matematika, Fisika dan semua pelajaran yang ga lepas dari hitung-hitungan.
Indahnya...............

Jumat, Oktober 02, 2009

Where's Happiness??

I'm not afraid  of anything,
i just to know that i can breath
I don't need much of anything,
but suddenly, suddenly....
i'm small and the world is big,

all around me is fast moving
surrounded by so many thing,
suddenly, suddenly....
i'm young and i'm free,
but i get tired and i get weak
i get lost and i can't sleep
but suddenly, suddenly...
How does it feel to be different from me 
are we the same??
(avril Lavign)



Ney lagu kok mellow banget ya.
Kita seringkali berfikir bahwa orang lain, sahabat, teman, kenalan dan tetangga lebih bahagia dibandingkan diri kita sendiri. Mereka memiliki apa yang tidak kita punya. 
Tanpa disadari kita memang selalu tertarik untuk melihat orang yang berada di atas kita. Dan itu membuat kita selalu terpukul.

Kita selalu berfikir segala apa yang telah kita usahakan, tidak pernah membuahkan hasil yang kita inginkan. Segalanya seperti sia-sia belaka. Kita selalu merasa di sana, di tempat orang lain, lebih baik dan lebih bahagia. Sebab itulah kita selalu berputus asa sebelum berusaha.
Tapi  pernahkah kita berfikir bahwa mereka di sana juga melihat ke arah kita dan berfikir kita lebih bahagia, mereka melihat kebahagiaan ada di sini, milik kita. Mereka hanya melihat hal yang menyenangkan tanpa mengenal kekecewaan yang kita hadapi.
Hidup bahagia adalah seni yang sangat mengagumkan. Percayalah, kebahagiaan bukan terletak di sana, tetapi dia ada di sini, di dalam hati kita.
Where's Happiness??? Inside our mind.


(Arba' wa Nush, saat kebahagiaan terasa hilang. God, give me strength in this life)


Selasa, September 29, 2009

I've Been Waiting 4 U My Kasyfu At-Taqdiraat..... (Bagian I)


270909.

Hari ini, saya harus ke kampus untuk memastikan apakah kasyfu at-taqdiraat (transkip nilai ijazah) saya sudah bisa diambil atau masih belum lengkap. Saya bersiap-siap dengan penuh harap, agar kasyfu at-taqdiraat sudah bisa saya ambil, karena waktu saya mencoba untuk mengambilnya lima hari sebelum lebaran yang lalu, bagian pengurusan ijazah mengatakan bahwa kasyfu at-taqdiraat untuk jurusan Syariah Islamiyah (Islamic Law) baru bisa diambil seminggu setelah lebaran. Dan hari inilah waktu yang dijanjikan. Niatnya, kalau sudah bisa diambil saya akan langsung ke Kulliyyah at-Thibb untuk mendapatkan legalisir syahadah (Ijazah) sementara dan itu tadi, kasyfu at-taqdiraat. Karena jika belum ada kasyfu at-taqdiraat, saya belum bisa mendapatkan legalisir apalagi syahadah asli. Saya ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan urusan ini, karena saya sudah ingin sekali kembali ke Indonesia. O, God, Sahhil kulla Umuuri.

Dengan langkah penuh semangat saya langsung mendatangi Ablah Hana di ruang qismu al-khirrijaat (bagian imigrasi).  
Ablah Hanna    : Inti 'aayizah eyh ya habibti (kamu mau apa?) sapa beliau tanpa basa-basi,  
Saya              : haakhudz kasyfu at-taqdiraat ya ablah, nazalat? (Miss Hanna, saya ingin mengambil daftar nilai ijazah saya, sudah bisa saya ambil?) jawab saya.
Ablah Hana   : Lissah yaa habibti, ahsyan natijah sanah tsaniyah lissah maugud liyya (Belum, karena nilai-nilai tingkat dua belum ada di saya).  jawab Ablah Hanna dengan penuh penyesalan.
Saya                : Imta ya Ablah (Kapan bisa saya ambil?)
Ablah Hana  : Ana musy 'arfah, mumkin bukroh aw ba'da bukroh aw ba'da ushbuu' (saya belum tau, bisa jadi besok, lusa atau seminggu lagi), Jawabnya. Sebuah jawaban yang membosankan. Rasanya saya sudah sangat akrab dengan kata-kata itu.

Saya               : Ya Ablah, Misy mumkin law bukroh, ahsyan sa usaafir ilaa baladi (Miss, ga mungkin ya klo besok, saya mau pulang ke Indonesia nih?).
Ablah Hana      : Ana ba'ullik musy 'arfah bi dhobth, 'ammily at-taukiil (saya bilang saya belum tau pasti, kamu wakilkan saja) sarannya.

O God....., kecewa sekali diriku.... Dan bukan hanya saya, semua teman-teman satu fakultas juga merasakannya. Karena hal ini kami harus menunda-nunda terus waktu kepulangan kami ke tanah air. Padahal udah kangen banget nih sama bonyok dan ade-ade. 
Memang sih bisa saja saya wakilkan urusan ini kepada teman saya dan sebenarnya nita dan izza sudah siap untuk mengurusnya. Tapi setelah saya pikir-pikir, mengurusnya sendiri saja ribetnya minta ampun apalagi kalau diwakilkan, sungkan jika harus merepotkan orang lain. Jadi saya bertekad untuk menahan rasa kangen ini, hiks :(. 
Meskipun demikian, saya dan teman-teman terus mencoba untuk mendapatkan kepastian dengan tidak henti-hentinya mendesak Ablah Hana untuk secepatnya mengurus transkip nilai kami.

 O, Kasyfu at-Taqdiraat, I have been waiting for you....:(. 




Hehe... sekalian narsis ah... ckckckck :D
saya dan teman-teman satu fakultas (Islamic Law) di depan kampus Al-Azhar li al-banaat, Kairo.
Saya mengenakan baju dan jilbab kuning :)

Minggu, September 27, 2009

My Another Beloved Home

Rumah adalah tempat dimana terdapat anggota keluarga. Ada ayah, ummi dan ade-ade. Tempat dimana saya menemukan kehangatan, kenyamanan, cinta, kasih sayang, rasa aman dan perlindungan. Rumah saya biasa saja, sederhana, tapi kaya akan rasa. Ayah saya adalah seorang pecinta tanaman, ayah menyulap halaman rumah menjadi kebun yang asri. Tempat favorit keluarga untuk sekedar ngopi sambil ngobrol-ngobrol santai di sore dan malam hari, nyaman. Love those moment. Ummi adalah koki handal. Tidak heran kalau ayah enggan makan jika bukan ummi yang memasak, romantis. Itulah salah satu dari ribuan hal yang membuat saya dan ade-ade betah dirumah. O mom, dad, its so beautiful and makes me wanna cry, thanks.

Di sini, negri para nabi, saya juga menemukan sebuah tempat yang layak saya sebut rumah, tempat saya melepas penat setelah seharian penuh melakukan aktivitas kuliah dan beberapa organisasi di luar kuliah. Di sini saya menemukan kenyamanan, meski tidak sehangat rumah tercinta saya di Bekasi sana.  Di sini juga banyak canda, tawa, keceriaan dan berbagai macam rasa yang membuat hidup saya di rantau ini lebih berwarna. Apalagi sejak ade-ade satu almamater saya datang ke sini dan kebetulan flat mereka berada di lantai dasar apartemen saya, tambah seru aja. Meski tak jarang terdapat pula rasa mumet, but thats not important.


Rumah saya di sini terletak di kawasan Hayyul 'Asyir tepatnya daerah Tabbah. Hanya ada beberapa flat saja yang di tempati oleh mahasiswa indonesia. Tidak seperti daerah Gamee, Bawwabaat dan sekitarnya yang dijuluki sebagai Ardh Indunisy (kampung orang Indonesia) karena mayoritas kita tinggal di sana. Meski demikian, saya jadi merasa benar-benar tinggal di Mesir, karena jarang sekali saya menemukan orang se-negara asal di sini. Hehehe, menghibur diri, bilang aja sepi :). Saya tinggal di dekat terminal bus, Alhamdulillah, ini memudahkan saya untuk berangkat kekuliah, karena banyak sekali bus angkutan jurusan kuliah dan engga mesti berdesak-desakan dengan mahasiswa indonesia lainnya yang saling berebutan  bus yang terbatas di Hayyul Asyir sana, aman.


Udah lama banget saya engga keluar rumah pagi-pagi buta, sejak libur kuliah tepatnya, males. Dan kemarin, tanggal 24 September akhirnya saya keluar pagi-pagi juga karena salah seorang teman saya ada yang  balik ke Indonesia dengan menggunakan jasa penerbangan singapore airlines yang jadwal penerbangannya pagi.  O, God...  indahnya pagi. he9x.. dasar ga penting cuma pengen eksis aja... ckckckckck :D.

Ini dia suasana pagi di Tabbah permai, indah.

Selasa, September 22, 2009

LEBARAN....

Kalau bukan karena lebaran, mungkin kita akan banyak berapologi untuk ketidakhadiran kita dalam silaturrahim yang mengikat kebersamaan dan kasih sayang (Meisya).

Sudah kesekian kali saya merayakan hari raya di Mesir, sebuah tempat yang saat ini terasa berat untuk saya tinggalkan karena sebentar lagi saya akan kembali ke tanah air, rasa takut sudah pasti ada, takut jika bekal ilmu yang saya dapat belum cukup. Lebai. Namun kerinduan pada orang tua dan keluarga mengalahkan segalanya. Ala kulli hal, saya minta doa dari temen-temen Blogers semua agar perjalanan urusan syahadah/Ijazah saya mudah dan lancar, Amin.... Thanks be 4 .

Kata meninggalkan kini akan hadir lagi dalam episode hidup saya, berat. Berat karena harus berpisah lagi dengan orang-orang yang saya kasihi, teman-teman satu almamater yang telah saya anggap sebagai keluarga, para senior yang telah banyak berbagi pengalaman, dan mengajarkan berbagai macam hal, sahabat yang selalu ada dalam segala suasana. I'll miss them .

Moment lebaran adalah moment yang selalu saya rindukan, tempat segala dosa dan kealfaan diberikan ruang untuk dimaafkan. Saat dimana setiap orang berharap mendapatkan kesucian hati. Dan bagi saya yang masih berada jauh dari orang tua dan keluarga di Indonesia, lebaran adalah saat yang tepat untuk sedikit mengobati kerinduan saya pada mereka. Terlebih moment ini bisa mengumpulkan keluarga saya di Mesir yakni keluarga almamater saya, IKPMA tanpa ada yang absent satu orang pun. Sebab kalau bukan karena lebaran, mungkin akan banyak apologi untuk ketidakhadiran dalam silaturrahim yang mengikat kebersamaan dan kasih sayang. Setidaknya lebaran akan membuat kami terlihat lebih kompak dan akrab, saat alfa dan salah mudah untuk dimaafkan setelah satu tahun saling bersinggungan satu sama lain dalam satu wadah yang menaungi kami di Mesir tercinta ini. Guys, IKPMA selalu merindukan kita.


Senin, Desember 01, 2008

The Cutest thing

Miss You Myspace Comments


My Supermom n' Superdad .


Begini kalau lagi libur kuliah dan engga punya acara, bawaannya bete terus. apalagi temen2 satu flat pada engga ada di rumah.... beteeeeeeeeeeeeeeee, Lebai. O, Mesir... saat-saat kaya gini U always make me sad.

Jadi kangen sama ayah sama ummi, biasanya kalau lagi liburan seperti ini, ayah sering mengajak kami ke bunderan Bekasi, jalan-jalan sambil menikmati malam dan makan. Di sana ada banyak aneka makanan, ada mie ayam (makanan favorit saya), nasi goreng, bakso, bubur ayam, roti bakar, sate, lontong sayur, soto, es campur, es buah, bajigur, etc. Pokoknya lengkap, semua makanan favorit semua anggota keluarga tersedia, mupeng :(.

Setelah itu, biasanya ayah, fiki & fairuz (dua adik laki-laki saya) main badminton, saya, ibu saya dan fafaz (adik perempuan saya) hanya menonton saja sambil menikmati pop ice coklat kesukaan kami bertiga, Indah.
Oh, tidak..... air mata saya keluar.

Kalau gini, rasanya ingin punya doraemon dan pinjam pintu ajaibnya, biar langsung bisa ada di Bekasi, tempat tinggal saya.







Rabu, November 26, 2008

Pelangi Itu...

Pagi pertama awal musim dingin di Kairo 08 Oktober 2005.

Angin dan debu adalah gambar hidup di luar jendela yang saya intip pagi itu.  Saya lupa dengan apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya asing di Negeri ini. Jendela kaca buram oleh embun musim dingin. Saya tulis dengan jari saya disana, "semoga sukses" dengan bahasa inggris. Inilah keputusan yang akhirnya saya pilih. Sebuah pilihan yang cukup lama  saya pertimbangkan sejak hari kelulusan dari Attaqwa saat ayah mendengar pengumuman nilai dan melihat serta memperhatikan isi raport nilai saya. Begitulah kebiasaan ayah saat hari kenaikan kelas, hingga hari kelulusan saya dari pesantren itu. Awalnya saya merasa ini adalah sebuah permohonan yang ayah inginkan dari saya. Permohonan yang begitu berat untuk  saya penuhi. Mungkin begitu juga bagi ayah sendiri terutama ibu. Karena saya tahu saat kalimat itu terucap, ada duka yang tersimpan di balik wajah hangat ayah. Hingga akhirnya saya menyadari inilah jalan yang harus saya ambil untuk masa depan saya. Karena saya begitu faham, sejak dahulu Ayahlah yang lebih tau siapa diri saya, saya tahu ayah tidak pernah menuntut dan mengatur saya sesuai dengan keinginannya semata. Ayah, nanda akan selalu menghormati keputusan dan keinginan ayah. Tak apa jika ayah bebankan harapan-harapan ayah dipundak nanda, nanda akan berusaha mencapainya, itulah jawaban yang keluar dari mulut saya saat itu. Karena bagi saya semua yang ayah atur adalah yang terbaik untuk saya. Hingga akhirnya kalimat yang menyakitkan itu hadir juga “Meninggalkan”. Tentunya kalimat itu sudah tidak asing lagi  bagi saya. Saat harus pergi meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah kepondok pesantren dan kini harus pergi ke luar negri. Tepat tanggal 06 Oktober 2008, ayah, ummi dan keluarga melepas kepergian saya ke negri yang asing ini, Mesir.

Saat tiba, saya tidak merasa sangat sendiri, karena tiba-tiba  saya merasa dekat dengan setiap orang baru yang saya temui. Kecuali penduduk asli.
saya bertemu dengan teman-teman saya, Tuhan memperkenalkan saya dengan mereka satu persatu. Si Anu dari kota ini, dan seterusnya. Ada yang menjengkelkan, menyenangkan, mengagumkam, mengerikan dan ….  Layaknya pelangi di musim kemarau, mereka pelangi itu. Sampai akhirnya  saya mendapatkan seorang sahabat baik yang hingga saat ini menjadi sahabat dekat saya, Mihmidati & Nita.   

Saya sangat menghargai setiap detik, hari yang saya lewati. Sebegitu sangat berharganya, sehingga saya tidak mau kehilangan setiap ingatan dari hari yang saya lewati. Saya catat diam-diam. Kekaguman saya pada Negeri ini, kejengkelan saya pada sistem administrasi di Kampus, rasa hormat saya pada para penulis Mesir yang produktif juga pekerja keras yang sering saya dapati di Bus, di pinggir jalan, metro, kios-kios, terutama di pasar. Tak ada satupun yang saya lewatkan dengan tanpa mencatat. Menyimpannya sebagai pelajaran. Juga tentang teman-teman dan sahabat saya yang memberi banyak hal yang sangat berarti.

Terima kasih banyak ayah, ini semua berkat ridho dan doamu. Juga untukmu ummi, yang telah mengizinkan & merelakan nanda untuk mencari ilmu di sini, walau dengan cucuran air matamu. Aku sungguh merindukan kalian.

Minggu, November 09, 2008

Catatan Simple buat Si Simple

Wah, udah seminggu ney bolos kuliah. jadi ngerasa mengkhianati my Parents, ayah & Ummi tercinta EMMMMUACCCHHH…. (dalem banget non :(, hiks...hiks...) tapi mom, dad..., I have a reason. The reason is..... Tajdid Minhah :D.


Satu minggu yang lalu, "Kemana aja loe V, Wari gini loe belom tajdid minhah" si Nopenk mulai ngeledek sambil nyikut2 tangan Izrut dan maenin mata, "seharusnya nie ya V, loe yang bantuin kita jadi guide, kita kan baru balik dari Indo, eh malah elo yang ngerepotin kita". Gw tau mereka pasti dah nyari cara buat ngelekin gw. Gw Cuma bisa nyengir kuda :D "Cully deh non, lagian sey loe berdua kelamaan di indo, gw nungguin loe pada, gw kan temen yang paling setia nungguin loe berdua. Liat tuh temen2 yang lain, dah pada ninggalin elo" wekekekek (geli juga, pengen ketawa waktu ngucapin kata2 itu, itu kan cuma alesan gw aja, gw males, lagian selama ini kan temen tajdid minhah gw cuma mereka berdua". "itu mah alasan V aja, bilang aja V males. lagian selama ini cuma kita kan temen tajdid minhah V" timpal Izrut dengan nada ngeledek juga. "waahhh”, mata gw terbelalak, “tau juga si Izrut isi hati gw, engga percuma loe jadi best friend gw”. "tapi kan gw.....", "Udah, jangan nyari alesan lagi, yang penting besok jangan lupa jam 9 teng! harus udah ada di depan Murokib" "Duh.... bisa molor dikit ga ya? jam 9.30 kek...." rengek hati gw, hiks...hiks... :( gw kan lagi dispen sholat, mana ada jadwal nge-date lagi malem ini sama blog gw tercinta. Tapi gw ga berani komentar, cuma bisa pasrah… gw yakin mereka ga bakal ngasih dispensasi atas alasan gw di atas. Ya iya….lah JeLL, masa ya iya donk! Batas akhir tajdid minhah kan udah tinggal 2 hari lagi, twing…twing… twing… nyesel gw, kemana aja loe V kemaren2:((???.
Sepertinya gw harus cari cara biar bisa bangun pagi2 besok, tanpa mesti ninggalin jadwal nge-date gw ma si ruang makna. Ting…ting…ting… ada bola lampu di atas kepala gw, gw punya ide, gw harus ngumpulin semua jam beker yang ada di kamar gw dan harus diletakkin di deket kuping gw. Ampun deh nie kompi dictionarynya otomatis abiz. Gw dari tadi harus ngecek lagi kata “bisa” Cuappe dweh… Lanjut, alhamdulillah gw punya jam beker yang bunyinya kedengeran ke seantero ruangan, itu kata teh Erna, anehnya gw ga pernah denger tuh suara, ckckckckckkc. Tapi kali ini gw yakin gw bakal bangun pas tuh beker bunyi. Semua butuh keyakinan jeLL. Karna hidup itu seperti apa yang kita fikirkan. tuh ada di banner blog gw. Gw percaya aja ma tuh kalimat, gimana engga, setiap gw mikirin dan mengkhayal sesuatu, baik yang lucu, nyebelin, nyenengin, pasti bakal kejadian. Beruntung gw pas mikirin hal2 yang nyenengin. Lah, pas yang malu2in, ancriiiiiitttt.
Abis nge-date ma blog tercinta gw, kira2 jam 3 pagi, akhirnya hal yang gw takutin terjadi juga, tanpa sadar gw mikirin dan mengkhayal hal2 lucu tapi nyebelin. Terang aja nyebelin, yang gw pikirin tuh, terlambatnya gw. Gw ngebayangin gimana tampang si nopenk dan izrut. Bisa bayangin ga sih loe tampang mereka. Wakakakakakak…. Mata melotot, muka merah padam, ada dua tanduk merah di atas kepala mereka, dua-duanya sama-sama megang 2 jilid kitab Fathul Baary, terus…. terus… terus… Gilaa gw dikejar2 dan mau dipukul pake tuh buku. Wakakakakakk…. “ kenapa V tawa geli banget” “Eh, teteh udah bangun?” “Iya nih teteh harus ke wisma pagi2, jadwal syutingnya pagi” “wah kebetulan, klo mau berangkat bangunin V ya teh” “ Insya Allah” jawab teteh. Udah ah gw mau tidur dulu…..
Kreekeeekkk….. suara pintu tuh. “K ‘IrV ada telpon” “Ya Ampyun…. Tidaksz…. dah jam 9” ………… oh Mom…….. V terlambat bangun………



Sekarang nie ya......
- Positif thinking.
- Jangan sering begadang, ga baik buat kesehatan. atur jadwal nge-date ma si blog, usahakan siang or malem jam 7-an kek.

Selamat mencoba......









Rabu, Oktober 29, 2008

Catatan mini seorang fakir

Sekedar catatan:
Catatan mini seorang fakir

Awal musim dingin. Arba wa Nush, 28 Oktober 2008
Hari ini saya bangun lebih awal dari biasanya, tepat jam 3.00 pagi. saya tidak mau membiarkan kesempatan ini terlewatkan begitu saja, saya langsung berwhudu, bersimpuh sujud mengharapkan ampunan dan karunia-Nya. Tak lupa saya raih Al-quran mungil pemberian adik saya dan membacanya sambil sedikit mencermati isi kandungannya semampuk saya. Hati saya terenyuh, betapa selama ini saya sangat jauh dari-Nya. Saya lupa untuk berterima kasih kepada-Nya. Padahal di dalam setiap hari-hari yang saya lewati ada saat di mana saya merasa sangat kaya raya atas apa yang  saya miliki, tawa, ketulusan, cinta, kasih sayang, kejujuran, itulah semua kekayaan saya.

Tuhan menghujani saya dengan Rahmat teragung-Nya. Maafkan hamba Tuhan, hamba sangat miskin, fakir kemampuan. Kemampuan untuk berterima kasih, kemampuan membalas seluruh kebaikan-Mu kepada hamba, atau sekedar memberi beberapa kalimat indah untuk-Mu, sungguh hamba sangat fakir.

Sangat beruntung, Tuhan maha kaya, tidak butuh apapun dari hambanya, apalagi hamba semacam saya. Dan untuk inipun saya masih terlambat bersukur “Segala puji hanya untuk-Mu, Tuhanku. Maafkan atas kefakiran hamba”.

Tak terasa sepotong cahaya menyelinap dari balik jendela kamar saya saat tirai kabut membuka panggung bumi.  Saya langsung membuka jendela kamar, udara dingin langsung menerpa wajah saya, menggigil. Saya nikmati wangi embun yang membasahi dedaunan di tambah kicau burung yang gembira menyambut pagi. Meskipun demikian saya memberanikan diri keluar rumah, ada sesuatu yang harus saya beli.

Dingin. Kehidupan di mulai lagi, bus-bus telah memenuhi terminal yang terletak di depan apartemen tempat tinggal saya. Saya tidak tahu apa yang sudah Allah rencanakan untuk hidup saya hari ini. Setelah kemarin, lusa, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu dan bertahun-tahun yang lalu, kesedihan, kesenangan, kekecewaan, rindu, sepi, bahagia dan segala macam rasa telah mewarnai hari-hari saya. Namun demikian, ada satu rasa yang akrab dengan hari-hari saya kini “Rindu”. Dia sseakan tidak mau melewati hari-hari saya. Saya mulai akrab dengannya sejak tiga tahun yang lalu, saat saya memilih untuk melanjutkan kuliah di Kairo, Mesir. Keputusan inilah yang membuat saya kini jauh dari orang-orang yang sangat mencintai saya dan sangat  saya cintai. Sejak saat itu saya merasa kesepian. Meninggalkan adalah hal yang menyakitkan. Tuhan, ku harap hariku ini lebih baik dari hari sebelumnya.

Sambl memperhatikan setiap suara dan gerak kehidupan, disana  saya melihat ada berjuta rasa. Di sana saya melihat nenek tua sedang duduk di atas batu besar yang tergeletak tepat di belakang kios penjual makanan di tengah-tengah terminal. Dia terlihat lelah, ada kerut duka yang menyelimuti wajahnya. Sepertinya dia sedang menunggu bis. Ada sekantung ‘Isy besar di sisi kanannya. Baju hitam yang ia kenakan terlihat begitu lusuh, menandakan hidupnya begitu berat. Ditambah lagi ada bocah cilik disisi kirinya yang sedang merengek sambil menarik-narik baju nenek tua itu, sepertinya dia menginginkan sesuatu, entahlah, apakah ia kedinginan??? dia terlihat hanya mengenakan sehelai baju lusuh dan kotor, wajahnya pucat. Tapi nenek tua itu diam saja tanpa menggubrisnya. Ada bapak tua berjas rapi menghampiri nenek tua itu, diberikannya syal dan jaket miliknya untuk bocah cilik tadi, “Alhamdulillah” batink saya. Betapa saya harus banyak bersyukur.

Setelah itu saya mengalihkan pandangan menerobos jalan raya, di sana terlihat ada anak laki-laki berusia kira-kira tujuh tahun sedang berkeliling apartemen dengan sepuluh bahkan dua puluh ‘Isy di atas kepalanya, sambil berteriak menjajakan ‘Isy-nya. Tuhan, betapa berat hidup ini untuknya. Tapi tidak sedikitpun raut sedih di wajahnya. Senyuman di wajahnya menandakan dia sangat bahagia, entahlah, apakah ia menyembunyikannya???. Saya kembali harus bersyukur.

Tidak terasa sudah hampir jam 7.30 saya harus bersiap-siap untuk kuliah. Setelah siap, saya berangkat menuju terminal, sbelum sampai di sana saya melihat penjaga apartemen tempat saya tinggal, dia terlihat lelah, saya rasa dia belum tidur sejak semalam, matanya terlihat merah, saya menyapanya dan melanjutkan langkah. Sambil menunggu bus, saya mampir sebentar kekios makanan untuk membeli pulsa, di situ saya melihat ada seorang wanita berbadan gemuk sedang memilih makanan, dia tidak berjilbab, ada kalung emas besar di lehernya dan gelang besar di pergelangan tangannya, seakan membuat langkahnya bertambah berat. Polesan make-upnya membuat mata saya silau, apa ini hidup bahagia???.