Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 26, 2009

Kasyfu At-Taqdiraat (Bagian ke-II) Thanks God...


Hari ini saya pergi ke kuliah, menemui Ablah (Miss.) Hana  di Qism Khirrijaat (Bagian Urusan Ijazah) untuk memastikan keadaan kasyfu at-taqdiraat (transkip nilai) saya yang tak kunjung selesai. Sesampainya di sana saya menjumpai temen-teman satu fakultas sedang mengantri untuk mengambilnya. Alhamdulillah, tenyata transkip nilai kami sudah bisa di ambil. Akhirnya... setelah satu bulan menunggu, si kasyfu at-taqdiraat keluar juga. Mereka bilang transkip nilai sudah bisa diambil sejak hari kamis kemarin. Ternyata saya ketinggalan informasi. Memang akhir-akhir ini saya sibuk mempersiapkan ujian level terakhir kursus bahasa arab yang tinggal beberapa hari lagi, belum lagi mempersiapkan dan merancang hasta karya sebagai syarat kelulusan saya di markaz nil. Semoga semua berjalan sesuai target, amin.

Saya berada di urutan ke empat di jajaran antrian. Satu jam sudah berlalu, tetapi Ablah Hana belum membuka pintu ruangan, dia masih sibuk membenahi berkas-berkas transkip nilai. Beberapa menit kemudian Ablah Amal (petugas yang mengurus ijazah sementara), keluar menghampiri Dzoriefah, teman saya yang berada di urutan pertama antrian, dia sedang membaca al-Quran sehingga tidak menyadari kalau Ablah Hana menegurnya. "Ismik eyh ya habibty?" (nama kamu siapa?), tanya Ablah Hana. "Ana? ana Dzoriefah ya Ablah", jawabnya kaget. "Shoutik jamiel awi ya habibty, ta'aly istamirry qiroatik bi janib maktaby" (suaramu bagus banget. Kemarilah, teruskan bacaanmu di dekat meja kerja saya), pintanya.

Tiga puluh menit berlalu pintu ruanganpun dibuka. Dzoriefah menghentikan bacaannya dan pamit untuk menjumpai Ablah Hana. Namun Ablah Hana masih saja repot dengan berkas-berkas transkip semua fakultas yang bertumpuk di atas meja kerjanya dan dia mengatakan akan memuai kerjanya ba'da nush sa'ah (setengah jam lagi). Fuih.... Seperti inilah administrasi di kampus kami. Namun itu bukan masalah lagi bagi kami, itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Walaupun demikian, Sumbangsi yang diberikan Al-Azhar untuk kami begitu besar, terutama ilmu pengetahuan yang kami dapat  di bangku kuliah secara gratis, belum lagi beasiswa bulanan yang membantu sebagian mahasiswa untuk meringankan biaya hidup sehari-hari di sini, untuk itu kami harus banyak bersyukur.

Tiba-tiba Ablah Amal memanggil Dzoriefah, kali ini bukan menyuruhnya membaca al-Quran di samping meja kerjanya, tetapi ia bersedia membantu Ablah Hana untuk membagikan transkip nilai kami. Thanks God. "Ahsyan qiro'atik wa shoutik ya dzorirfah, sa usa'iduki wa jamielatik ". (karena bacaan al-Qur'anmu dan suaramu Dzoriefah, aku bersedia membantumu dan teman-temanmu), Ablah Amal menjelaskan. Alhamdulillah, jika tidak demikian saya tidak tahu harus menunggu berapa jam lagi. Saya tidak sempat menduga, biasanya mereka tidak mau mengerjakan urusan yang bukan tugas mereka, namun karena bacaan al-Quran Ablah Amal bersedia membantu kami. Sekali lagi kami harus kembali bersyukur, Alhamdulillah.

Selasa, September 29, 2009

I've Been Waiting 4 U My Kasyfu At-Taqdiraat..... (Bagian I)


270909.

Hari ini, saya harus ke kampus untuk memastikan apakah kasyfu at-taqdiraat (transkip nilai ijazah) saya sudah bisa diambil atau masih belum lengkap. Saya bersiap-siap dengan penuh harap, agar kasyfu at-taqdiraat sudah bisa saya ambil, karena waktu saya mencoba untuk mengambilnya lima hari sebelum lebaran yang lalu, bagian pengurusan ijazah mengatakan bahwa kasyfu at-taqdiraat untuk jurusan Syariah Islamiyah (Islamic Law) baru bisa diambil seminggu setelah lebaran. Dan hari inilah waktu yang dijanjikan. Niatnya, kalau sudah bisa diambil saya akan langsung ke Kulliyyah at-Thibb untuk mendapatkan legalisir syahadah (Ijazah) sementara dan itu tadi, kasyfu at-taqdiraat. Karena jika belum ada kasyfu at-taqdiraat, saya belum bisa mendapatkan legalisir apalagi syahadah asli. Saya ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan urusan ini, karena saya sudah ingin sekali kembali ke Indonesia. O, God, Sahhil kulla Umuuri.

Dengan langkah penuh semangat saya langsung mendatangi Ablah Hana di ruang qismu al-khirrijaat (bagian imigrasi).  
Ablah Hanna    : Inti 'aayizah eyh ya habibti (kamu mau apa?) sapa beliau tanpa basa-basi,  
Saya              : haakhudz kasyfu at-taqdiraat ya ablah, nazalat? (Miss Hanna, saya ingin mengambil daftar nilai ijazah saya, sudah bisa saya ambil?) jawab saya.
Ablah Hana   : Lissah yaa habibti, ahsyan natijah sanah tsaniyah lissah maugud liyya (Belum, karena nilai-nilai tingkat dua belum ada di saya).  jawab Ablah Hanna dengan penuh penyesalan.
Saya                : Imta ya Ablah (Kapan bisa saya ambil?)
Ablah Hana  : Ana musy 'arfah, mumkin bukroh aw ba'da bukroh aw ba'da ushbuu' (saya belum tau, bisa jadi besok, lusa atau seminggu lagi), Jawabnya. Sebuah jawaban yang membosankan. Rasanya saya sudah sangat akrab dengan kata-kata itu.

Saya               : Ya Ablah, Misy mumkin law bukroh, ahsyan sa usaafir ilaa baladi (Miss, ga mungkin ya klo besok, saya mau pulang ke Indonesia nih?).
Ablah Hana      : Ana ba'ullik musy 'arfah bi dhobth, 'ammily at-taukiil (saya bilang saya belum tau pasti, kamu wakilkan saja) sarannya.

O God....., kecewa sekali diriku.... Dan bukan hanya saya, semua teman-teman satu fakultas juga merasakannya. Karena hal ini kami harus menunda-nunda terus waktu kepulangan kami ke tanah air. Padahal udah kangen banget nih sama bonyok dan ade-ade. 
Memang sih bisa saja saya wakilkan urusan ini kepada teman saya dan sebenarnya nita dan izza sudah siap untuk mengurusnya. Tapi setelah saya pikir-pikir, mengurusnya sendiri saja ribetnya minta ampun apalagi kalau diwakilkan, sungkan jika harus merepotkan orang lain. Jadi saya bertekad untuk menahan rasa kangen ini, hiks :(. 
Meskipun demikian, saya dan teman-teman terus mencoba untuk mendapatkan kepastian dengan tidak henti-hentinya mendesak Ablah Hana untuk secepatnya mengurus transkip nilai kami.

 O, Kasyfu at-Taqdiraat, I have been waiting for you....:(. 




Hehe... sekalian narsis ah... ckckckck :D
saya dan teman-teman satu fakultas (Islamic Law) di depan kampus Al-Azhar li al-banaat, Kairo.
Saya mengenakan baju dan jilbab kuning :)

Minggu, September 27, 2009

My Another Beloved Home

Rumah adalah tempat dimana terdapat anggota keluarga. Ada ayah, ummi dan ade-ade. Tempat dimana saya menemukan kehangatan, kenyamanan, cinta, kasih sayang, rasa aman dan perlindungan. Rumah saya biasa saja, sederhana, tapi kaya akan rasa. Ayah saya adalah seorang pecinta tanaman, ayah menyulap halaman rumah menjadi kebun yang asri. Tempat favorit keluarga untuk sekedar ngopi sambil ngobrol-ngobrol santai di sore dan malam hari, nyaman. Love those moment. Ummi adalah koki handal. Tidak heran kalau ayah enggan makan jika bukan ummi yang memasak, romantis. Itulah salah satu dari ribuan hal yang membuat saya dan ade-ade betah dirumah. O mom, dad, its so beautiful and makes me wanna cry, thanks.

Di sini, negri para nabi, saya juga menemukan sebuah tempat yang layak saya sebut rumah, tempat saya melepas penat setelah seharian penuh melakukan aktivitas kuliah dan beberapa organisasi di luar kuliah. Di sini saya menemukan kenyamanan, meski tidak sehangat rumah tercinta saya di Bekasi sana.  Di sini juga banyak canda, tawa, keceriaan dan berbagai macam rasa yang membuat hidup saya di rantau ini lebih berwarna. Apalagi sejak ade-ade satu almamater saya datang ke sini dan kebetulan flat mereka berada di lantai dasar apartemen saya, tambah seru aja. Meski tak jarang terdapat pula rasa mumet, but thats not important.


Rumah saya di sini terletak di kawasan Hayyul 'Asyir tepatnya daerah Tabbah. Hanya ada beberapa flat saja yang di tempati oleh mahasiswa indonesia. Tidak seperti daerah Gamee, Bawwabaat dan sekitarnya yang dijuluki sebagai Ardh Indunisy (kampung orang Indonesia) karena mayoritas kita tinggal di sana. Meski demikian, saya jadi merasa benar-benar tinggal di Mesir, karena jarang sekali saya menemukan orang se-negara asal di sini. Hehehe, menghibur diri, bilang aja sepi :). Saya tinggal di dekat terminal bus, Alhamdulillah, ini memudahkan saya untuk berangkat kekuliah, karena banyak sekali bus angkutan jurusan kuliah dan engga mesti berdesak-desakan dengan mahasiswa indonesia lainnya yang saling berebutan  bus yang terbatas di Hayyul Asyir sana, aman.


Udah lama banget saya engga keluar rumah pagi-pagi buta, sejak libur kuliah tepatnya, males. Dan kemarin, tanggal 24 September akhirnya saya keluar pagi-pagi juga karena salah seorang teman saya ada yang  balik ke Indonesia dengan menggunakan jasa penerbangan singapore airlines yang jadwal penerbangannya pagi.  O, God...  indahnya pagi. he9x.. dasar ga penting cuma pengen eksis aja... ckckckckck :D.

Ini dia suasana pagi di Tabbah permai, indah.

Selasa, September 22, 2009

LEBARAN....

Kalau bukan karena lebaran, mungkin kita akan banyak berapologi untuk ketidakhadiran kita dalam silaturrahim yang mengikat kebersamaan dan kasih sayang (Meisya).

Sudah kesekian kali saya merayakan hari raya di Mesir, sebuah tempat yang saat ini terasa berat untuk saya tinggalkan karena sebentar lagi saya akan kembali ke tanah air, rasa takut sudah pasti ada, takut jika bekal ilmu yang saya dapat belum cukup. Lebai. Namun kerinduan pada orang tua dan keluarga mengalahkan segalanya. Ala kulli hal, saya minta doa dari temen-temen Blogers semua agar perjalanan urusan syahadah/Ijazah saya mudah dan lancar, Amin.... Thanks be 4 .

Kata meninggalkan kini akan hadir lagi dalam episode hidup saya, berat. Berat karena harus berpisah lagi dengan orang-orang yang saya kasihi, teman-teman satu almamater yang telah saya anggap sebagai keluarga, para senior yang telah banyak berbagi pengalaman, dan mengajarkan berbagai macam hal, sahabat yang selalu ada dalam segala suasana. I'll miss them .

Moment lebaran adalah moment yang selalu saya rindukan, tempat segala dosa dan kealfaan diberikan ruang untuk dimaafkan. Saat dimana setiap orang berharap mendapatkan kesucian hati. Dan bagi saya yang masih berada jauh dari orang tua dan keluarga di Indonesia, lebaran adalah saat yang tepat untuk sedikit mengobati kerinduan saya pada mereka. Terlebih moment ini bisa mengumpulkan keluarga saya di Mesir yakni keluarga almamater saya, IKPMA tanpa ada yang absent satu orang pun. Sebab kalau bukan karena lebaran, mungkin akan banyak apologi untuk ketidakhadiran dalam silaturrahim yang mengikat kebersamaan dan kasih sayang. Setidaknya lebaran akan membuat kami terlihat lebih kompak dan akrab, saat alfa dan salah mudah untuk dimaafkan setelah satu tahun saling bersinggungan satu sama lain dalam satu wadah yang menaungi kami di Mesir tercinta ini. Guys, IKPMA selalu merindukan kita.


Kamis, November 27, 2008

Terima Kasih Ibu Meutia Hatta............

 
Salam, Fhie dimohon dateng sekarang juga ke rumahku, Ibu Meutia Hatta mendadak bersedia untuk mengadakan dialog sore ini, kita harus segera mempersiapkan acara” begitu kira2 isi sms Aprina (Ketua WIHDAH) siang itu. Sore ini???? “Bagaimana bisa mempersiapkan acara hanya dalam waktu 3 jam?” batin saya. Tanpa fikir panjang  saya langsung cabut dari depan komputer menuju hamam, rapi2, sholat dzuhur dan langsung bergegas ke rumah Aprina. Sesampainya di sana beberapa teman DP telah hadir. Sebelumnya kami memang meminta beliau untuk dapat bertatap muka langsung dengan mahasiswi Indonesia Kairo guna sedikit berbagi pengalaman dan informasi-informasi penting terkait dengan masalah pemberdayaan perempuan Indonesia. Akhirnya permintaan itu dikabulkan juga, tapi waktunya….. Mendadak banget. Ini adalah sebuah hadiah dari beliau untuk kami, dengan waktu beliau yang begitu padat, beliau masih memberikan kami kesempatan untuk bertemu dan berdialog. Terima kasih Tuhan. Oleh karenanya kami tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kami langsung mengundang para tokoh mahasiswi, ketua keputrian kekelurgaan dan almamater dan pers via telpon dan undangan umum bagi seluruh mahasiswi Indonesia Kairo melalui milist & offline messages.  Akhirnya acara dapat diatur rapih ditambah bantuan dari bapak KBRI dan Ibu Yuli Yasin, MA.
Mengingat minimnya informasi mengenai kondisi dan peran wanita Indonesia sekarang ini bagi mahasiswi Indonesia Mesir, maka tema yang kami angkat dalam pertemuan berharga tersebut adalah "OPTIMALISASI PERAN WANITA MASA KINI” acara  di gelar di Auditorium Konsuler KBRI Kairo tanggal 24 November 2008 kemarin. Acara dimulai pada pukul 20.00-21.30 dimoderatori oleh tokoh mahasiswi Ustadzah Yuli Yasin, MA.. alhamdulillah, peserta yang hadir cukup banyak sekitar 60 orang dan acarapun berlangsung khidmat karena antusias peserta yang begitu tinggi. Banyak hal yang beliau sampaikan dalam kesempatan singkat tersebut. Diantaranya mengenai pemberdayaan perempuan hingga harapan Negara kepada mahasiswi Indonesia khususnya yang belajar di luar negri. Dibawah ini beberapa point penting yang dikemukakan oleh beliau:

Diantara hal-hal yang perlu diperhatikan oleh wanita Indonesia adalah :

Kesehatan
Dalam poin ini beliau menyorot mengenai angka kematian ibu hamil saat melahirkan. Di Indonesia angka kematian ibu tercatat sangat besar sekali, diantara penyebab terbesarnya adalah “anemia” (impikasi dari tenaga yang di pakai untuk mendukung tugas dari suami/stamina yang tidak bagus ketika hamil dan melahirkan). Dan salah satu penyebab tertinggi lainnya adalah:
-              Terlambat (mengetahui bahaya, mencari pertolongan dan mendapat pertolongan).
-              Terlalu (muda, tua, sering, banyak)
Oleh sebab itu, penting bagi seorang wanita untuk memelihara kesehatannya sejak dini, melihat tugas yang diemban nantinya begitu besar, baik perannya sebagai seorang istri meskipun kesetaraan diharuskan di sana, juga sebagai seorang Ibu yang dituntut untuk membentuk anak-anak yang diharapkan agama dan bangsa.  Hiks…Hiks… Hidup sehat!!!!!! Chayo…!

Ekonomi
Dalam hal inipun perempuan tidak boleh ketinggalan, melihat kreatifitas dan inisiatif wanita yang tidak kalah dengan laki-laki. Begitu juga dengan management perempuan yang sebenarnya lebih baik dalam pengelolaan hal-hal yang bersifat teknis (keuangan, misalanya). Satu kasus menceritakan, pihak laki-laki dan perempuan mendapatkan supplay dana masing-masing sekian dolar dalam jumlah yang sama. Namun dalam janga waktu tertentu  di nyatakan laki-laki bangkrut. Sebab, sistem management yang di gunakan oleh mereka tidak sebaik perempuan. (Cie..cie… jadi ikut bangga J)

Politik
PENTING, karena banyak sekali ketertinggalan peremuan Indonesia yang berkontribusi dalam area parlemen.
Dalam hal ini nyali perempuan tidak sebesar laki-laki. Sebab, adanya penempatan perempuan dalam posisi nomer dua sangat mempengaruhi kondisi psikologi mereka. (yuk kita perjuangkan hal itu J!!!, semangat!)

Pendidikan :
Patriarki; salah satu sebab lemahnya pendidikan perempuan di Indonesia. Sebab, adanya stigma negative bahwa perempuan mempunyai tugas yang berbeda dari laki-laki. Stigma negative tersebut harus segera dihapuskan sebab akan memperlambat pemberdayaan perempuan Indonesia.
Dalam hal ini beliau menambahkan, sebenarnya seorang suami yang mempunyai istri yang berpendidikan akan lebih bahagia dan lebih terbantu dibanding  mempunyai istri yang tidak berpendidikan sama sekali. Apalagi di zaman sekarang ini yang segalanya menuntut kecakapan kerja dan lain sebagainya.


Adapun hal-hal yang harus diperhatikan oleh mahasiswi untuk saat ini adalah sebagai berikut

-          Di Mesir, sebenarnya banyak sekali sumber-sumber untuk menggali nilai-nilai Islam. Untuk itulah hendaknya para mahasiswi juga bekerja keras dalam mengeksploitasinya, guna di manfaatkan untuk kepentingan bangsa, Negara dan agama.
-          Hargai waktu.
-          Banyak baca
-          Organisasi juga baik, hanya saja management waktu juga harus di perhatikan.

Begitulah kira2 pesan yang beliau sampaikan pada akhir dialog setelah sebelumnya beberapa pertanyaan dilontarkan dan beliau jawab dengan singkat dan tepat mengingat waktu telah menunjukkan pukul 21.30 dan acara harus segera di akhiri.

Rabu, November 26, 2008

Pelangi Itu...

Pagi pertama awal musim dingin di Kairo 08 Oktober 2005.

Angin dan debu adalah gambar hidup di luar jendela yang saya intip pagi itu.  Saya lupa dengan apa yang saya rasakan saat itu, yang pasti saya asing di Negeri ini. Jendela kaca buram oleh embun musim dingin. Saya tulis dengan jari saya disana, "semoga sukses" dengan bahasa inggris. Inilah keputusan yang akhirnya saya pilih. Sebuah pilihan yang cukup lama  saya pertimbangkan sejak hari kelulusan dari Attaqwa saat ayah mendengar pengumuman nilai dan melihat serta memperhatikan isi raport nilai saya. Begitulah kebiasaan ayah saat hari kenaikan kelas, hingga hari kelulusan saya dari pesantren itu. Awalnya saya merasa ini adalah sebuah permohonan yang ayah inginkan dari saya. Permohonan yang begitu berat untuk  saya penuhi. Mungkin begitu juga bagi ayah sendiri terutama ibu. Karena saya tahu saat kalimat itu terucap, ada duka yang tersimpan di balik wajah hangat ayah. Hingga akhirnya saya menyadari inilah jalan yang harus saya ambil untuk masa depan saya. Karena saya begitu faham, sejak dahulu Ayahlah yang lebih tau siapa diri saya, saya tahu ayah tidak pernah menuntut dan mengatur saya sesuai dengan keinginannya semata. Ayah, nanda akan selalu menghormati keputusan dan keinginan ayah. Tak apa jika ayah bebankan harapan-harapan ayah dipundak nanda, nanda akan berusaha mencapainya, itulah jawaban yang keluar dari mulut saya saat itu. Karena bagi saya semua yang ayah atur adalah yang terbaik untuk saya. Hingga akhirnya kalimat yang menyakitkan itu hadir juga “Meninggalkan”. Tentunya kalimat itu sudah tidak asing lagi  bagi saya. Saat harus pergi meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah kepondok pesantren dan kini harus pergi ke luar negri. Tepat tanggal 06 Oktober 2008, ayah, ummi dan keluarga melepas kepergian saya ke negri yang asing ini, Mesir.

Saat tiba, saya tidak merasa sangat sendiri, karena tiba-tiba  saya merasa dekat dengan setiap orang baru yang saya temui. Kecuali penduduk asli.
saya bertemu dengan teman-teman saya, Tuhan memperkenalkan saya dengan mereka satu persatu. Si Anu dari kota ini, dan seterusnya. Ada yang menjengkelkan, menyenangkan, mengagumkam, mengerikan dan ….  Layaknya pelangi di musim kemarau, mereka pelangi itu. Sampai akhirnya  saya mendapatkan seorang sahabat baik yang hingga saat ini menjadi sahabat dekat saya, Mihmidati & Nita.   

Saya sangat menghargai setiap detik, hari yang saya lewati. Sebegitu sangat berharganya, sehingga saya tidak mau kehilangan setiap ingatan dari hari yang saya lewati. Saya catat diam-diam. Kekaguman saya pada Negeri ini, kejengkelan saya pada sistem administrasi di Kampus, rasa hormat saya pada para penulis Mesir yang produktif juga pekerja keras yang sering saya dapati di Bus, di pinggir jalan, metro, kios-kios, terutama di pasar. Tak ada satupun yang saya lewatkan dengan tanpa mencatat. Menyimpannya sebagai pelajaran. Juga tentang teman-teman dan sahabat saya yang memberi banyak hal yang sangat berarti.

Terima kasih banyak ayah, ini semua berkat ridho dan doamu. Juga untukmu ummi, yang telah mengizinkan & merelakan nanda untuk mencari ilmu di sini, walau dengan cucuran air matamu. Aku sungguh merindukan kalian.

Rabu, Oktober 29, 2008

Catatan mini seorang fakir

Sekedar catatan:
Catatan mini seorang fakir

Awal musim dingin. Arba wa Nush, 28 Oktober 2008
Hari ini saya bangun lebih awal dari biasanya, tepat jam 3.00 pagi. saya tidak mau membiarkan kesempatan ini terlewatkan begitu saja, saya langsung berwhudu, bersimpuh sujud mengharapkan ampunan dan karunia-Nya. Tak lupa saya raih Al-quran mungil pemberian adik saya dan membacanya sambil sedikit mencermati isi kandungannya semampuk saya. Hati saya terenyuh, betapa selama ini saya sangat jauh dari-Nya. Saya lupa untuk berterima kasih kepada-Nya. Padahal di dalam setiap hari-hari yang saya lewati ada saat di mana saya merasa sangat kaya raya atas apa yang  saya miliki, tawa, ketulusan, cinta, kasih sayang, kejujuran, itulah semua kekayaan saya.

Tuhan menghujani saya dengan Rahmat teragung-Nya. Maafkan hamba Tuhan, hamba sangat miskin, fakir kemampuan. Kemampuan untuk berterima kasih, kemampuan membalas seluruh kebaikan-Mu kepada hamba, atau sekedar memberi beberapa kalimat indah untuk-Mu, sungguh hamba sangat fakir.

Sangat beruntung, Tuhan maha kaya, tidak butuh apapun dari hambanya, apalagi hamba semacam saya. Dan untuk inipun saya masih terlambat bersukur “Segala puji hanya untuk-Mu, Tuhanku. Maafkan atas kefakiran hamba”.

Tak terasa sepotong cahaya menyelinap dari balik jendela kamar saya saat tirai kabut membuka panggung bumi.  Saya langsung membuka jendela kamar, udara dingin langsung menerpa wajah saya, menggigil. Saya nikmati wangi embun yang membasahi dedaunan di tambah kicau burung yang gembira menyambut pagi. Meskipun demikian saya memberanikan diri keluar rumah, ada sesuatu yang harus saya beli.

Dingin. Kehidupan di mulai lagi, bus-bus telah memenuhi terminal yang terletak di depan apartemen tempat tinggal saya. Saya tidak tahu apa yang sudah Allah rencanakan untuk hidup saya hari ini. Setelah kemarin, lusa, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu dan bertahun-tahun yang lalu, kesedihan, kesenangan, kekecewaan, rindu, sepi, bahagia dan segala macam rasa telah mewarnai hari-hari saya. Namun demikian, ada satu rasa yang akrab dengan hari-hari saya kini “Rindu”. Dia sseakan tidak mau melewati hari-hari saya. Saya mulai akrab dengannya sejak tiga tahun yang lalu, saat saya memilih untuk melanjutkan kuliah di Kairo, Mesir. Keputusan inilah yang membuat saya kini jauh dari orang-orang yang sangat mencintai saya dan sangat  saya cintai. Sejak saat itu saya merasa kesepian. Meninggalkan adalah hal yang menyakitkan. Tuhan, ku harap hariku ini lebih baik dari hari sebelumnya.

Sambl memperhatikan setiap suara dan gerak kehidupan, disana  saya melihat ada berjuta rasa. Di sana saya melihat nenek tua sedang duduk di atas batu besar yang tergeletak tepat di belakang kios penjual makanan di tengah-tengah terminal. Dia terlihat lelah, ada kerut duka yang menyelimuti wajahnya. Sepertinya dia sedang menunggu bis. Ada sekantung ‘Isy besar di sisi kanannya. Baju hitam yang ia kenakan terlihat begitu lusuh, menandakan hidupnya begitu berat. Ditambah lagi ada bocah cilik disisi kirinya yang sedang merengek sambil menarik-narik baju nenek tua itu, sepertinya dia menginginkan sesuatu, entahlah, apakah ia kedinginan??? dia terlihat hanya mengenakan sehelai baju lusuh dan kotor, wajahnya pucat. Tapi nenek tua itu diam saja tanpa menggubrisnya. Ada bapak tua berjas rapi menghampiri nenek tua itu, diberikannya syal dan jaket miliknya untuk bocah cilik tadi, “Alhamdulillah” batink saya. Betapa saya harus banyak bersyukur.

Setelah itu saya mengalihkan pandangan menerobos jalan raya, di sana terlihat ada anak laki-laki berusia kira-kira tujuh tahun sedang berkeliling apartemen dengan sepuluh bahkan dua puluh ‘Isy di atas kepalanya, sambil berteriak menjajakan ‘Isy-nya. Tuhan, betapa berat hidup ini untuknya. Tapi tidak sedikitpun raut sedih di wajahnya. Senyuman di wajahnya menandakan dia sangat bahagia, entahlah, apakah ia menyembunyikannya???. Saya kembali harus bersyukur.

Tidak terasa sudah hampir jam 7.30 saya harus bersiap-siap untuk kuliah. Setelah siap, saya berangkat menuju terminal, sbelum sampai di sana saya melihat penjaga apartemen tempat saya tinggal, dia terlihat lelah, saya rasa dia belum tidur sejak semalam, matanya terlihat merah, saya menyapanya dan melanjutkan langkah. Sambil menunggu bus, saya mampir sebentar kekios makanan untuk membeli pulsa, di situ saya melihat ada seorang wanita berbadan gemuk sedang memilih makanan, dia tidak berjilbab, ada kalung emas besar di lehernya dan gelang besar di pergelangan tangannya, seakan membuat langkahnya bertambah berat. Polesan make-upnya membuat mata saya silau, apa ini hidup bahagia???.