Kamis, November 23, 2023

Urgensi Kesepadanan Hijab Materi dan Rohani

Islam merupakan agama yang selalu memberikan hal terbaik bagi pemeluknya. salah satunya mengenai masalah hijab, pada zaman jahiliyah dahulu manusia terbisa untuk tidak menutupi auratnya. Kemudian Islam datang menyempurnakan aturan manusia dalam berpakaian. Yaitu dengan diwajibkannya memakai hijab yang bertujuan memberikan kehormatan bagi pemeluknya dalam berpakaian.

Bagi seorang wanita muslimah, hijab yang hakiki adalah menutup seluruh anggota tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangan, dan tidak menghias dirinya dengan dandanan yang dapat menjerumuskannya kepada fitnah ketika keluar rumah. Dengan demikian terdapat dua bentuk hijab dalam hijab hakiki yakni hijab materi yaitu menutup seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, dan juga hijab rohani dimana sosok wanita sebagai manusia di tengah-tengah masyarakat, tidak berusaha tampil dengan dandanan yang menarik perhatian sebagaimana yang tertera dalam surah al-Nur ayat 31. Namun di zaman sekarang banyak yang beralasan untuk meninggalkan hijab dengan mengatakan bahwa pendidikan dan belajar sudah cukup sebagai jaminan untuk menciptakan hijab rohani yang membuat pria dan wanita tidak memerlukan hijab materi yang pelaksanaannya diharuskan oleh Islam dan banyak pula wanita yang memakai jilbab dengan tidak bersandarkan kepada kaidah komitmen keagamaan, yang mengharuskan adanya keterbukaan (patuh) terhadap perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya yang jauh dari kecenderungan-kecenderungan diri dan perubahan-perubahan situasi sosial. Bagi mereka, jilbab sekadar sebuah tradisi di antara tradisi-tradisi lain. 


Kita juga menemukan sebagian orang tua-meskipun mereka yang religius-membenarkan di depan anak-anak perempuan mereka keharusan memakai jilbab, tetapi mereka hanya menganggap bahwa pencopotan jilbab merupakan aib yang berakibat kepada ancaman kritikan orang terhadap anak-anak perempuan mereka, dan itu merusak kehormatan ayah, keluarga, dan sebagainya, bukan sebagai kewajiban seorang pemeluk Islam. Para orang tua itu menanamkan pada benak anak-anak gadis bahwa masalah jilbab berhubungan dengan adat-istiadat dan tidak berkaitan dengan komitmen keagamaan dan dengan ketakwaan. Oleh karena itu, terkadang kita menemukan para pemudi yang rajin melakukan salat, puasa, dan terikat dengan pelbagai hukum syariat, tetapi mereka tidak peduli dengan jilbab mereka, dengan alasan bahwa jilbab termasuk adat yang sudah usang, dan tidak ada kaitannya dengan agama. 

Oleh karena itu, sistem pendidikan merupakan salah satu faktor yang bertanggung jawab atas respon para wanita terhadap ajakan untuk mencopot jilbab. Oleh karena itu, sistem pendidikan dalam aspek ini harus menggunakan komponen-komponen agama yang menjadikan pemikiran wanita terhadap jilbab sama dengan pemikirannya terhadap salat dan puasa, bukan sekedar keadaan darurat yang diharuskan oleh adat dan budaya sosial, atau di wajibkan oleh situasi-situasi insidetial atau keluarga, dan ia bukan termasuk masalah aib dan sebagainya.

Bila kita perhatikan, pada zaman sekarang ini banyak orang yang melakukan berbagai macam hal hanya bersandarkan kepada pengendalian internal manusia dalam mengekang diri dan menjaga masyarakat. Penyimpangan-penyimpangan yang ada dalam suatu masyarakat yang membolehkan kebebasan seksual dan menganggap bahwa kansekuen terhadap akhlak adalah pilihan yang bersifat pribadi, jauh lebih banyak dari penyimpangan-penyimpangan yang terdapat pada masyarakat yang memakai hijab. Itu dikarenakan manusia terpengaruh secara psikologis dan perasaan dengan keadaan eksternalnya.


Islam melihat hijab sebagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, di mana ia memperhatikan dua dimensinya, baik materi maupun rohani dengan pertimbangan adanya interaksi yang erat di antara keduanya. Dari satu sisi, Islam menganjurkan dengan sangat agar wanita konsekuen terhadap hijab rohani yang mencegahnya dari penyimpangan dan kemerosotan akhlak dan perilaku, karena sifat hijab ini dengan sendirinya akan mendatangkan kekebalan diri terhadap segala hal yang mengancam wanita dari penyelewengan atau dekadensi moral dan lain-lain. 


"Kekebalan" inilah yang tersembunyi di balik ketentuan hijab materi dalam syariat Islam. Dari sisi lain, Islam menuntut adanya sikap konsekuen terhadap hijab materi dengan pertimbangan bahwa jilbab merupakan bentuk tindakan preventif yang melindungi pria dan wanita dari pengaruh keadaan-keadaan yang dapat mendatangkan hal negatif terhadap spiritualitas manusia dan moralitasnya .Karena itu, meninggalkan hijab materi berarti sebuah ancaman atas hijab rohani, karena ia akan menyebabkan datangnya situasi-situasi yang mendorong kegoncangan hijab rohani dan kelemahannya, dan kemudian akan menyeretnya kepada penyimpangan dan keterpurukan. Hendaklah kedua bentuk hijab itu disejajarkan. Dengan pertimbangan ini, maka hijab bukanlah termasuk masalah individual saja, tetapi juga menyangkut masalah sosial, sebab setiap hal yang dengan sendirinya dapat menjaga individu dari keadaan terperosok dan menyimpang, maka ia juga dapat menjaga masyarakat. 

Sebaliknya, setiap hal yang menggiring individu kepada penyimpangan dan kemerosotan, maka ia juga dapat mengancam masyarakat, karena masyarakat merupakan kumpulan dari individu-individu dan sistem norma dan prinsip serta hukum yang mengatur hubungan di antara sesama mereka. Di samping itu, meninggalkan hijab baik materi maupun rohani merupakan unsur pembangkit naluri seksual secara langsung karena adanya gambar nyata darinya atau gambar imajinatif. la mengingatkan manusia dengan seks dan segala organnya, yang menjadikannya terangsang ke arah yang diharamkan.

Jangan Hidup Tertidur

Rasulullah Saw. Bersabda: “Ada dua nikmat yang didalam keduanya kebanyakan manusia berada dalam kerugian, yaitu kesehatan dan kesenggangan”.
Sesuai dengan judul yang tertera di atas mari kita garis bawahi kalimat kesenggangan dalam hadits tersebut. Benar, coba kita lihat, dari tengah-tengah masalah pengangguran akan lahir beribu-ribu orang yang bermental rendah, virus-virus kehancuran dan kebinasaan akan berkembang biak di dalamnya. Apalagi sekarang ini banyak orang yang mengalami kebimbangan dalam kehidupan ini tanpa ada harapan dan tanpa ada misi yang ingin diraih. Hal ini terjadi diakibatkan motivasi hidup yang menipis dan jarang melakukan kontemplasi. Kita bisa menyebutnya seperti orang yang sedang tertidur. Meraka tidak menyadari betapa kebahagiaan itu tidak akan datang selain dari diri kita sendiri. Namun untuk meraihnya, kita harus memiliki usaha yang terangkum dalam kualitas hidup diri kita sendiri, yaitu keberanian, giat dan rajin, kejujuran, tidak egois, suka bekerjasama dan memiliki hati nurani yang hidup. kesemuanya membutuhkan peran aktif jasmani dan rohani kita. Dan kita perlu mengingat hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah menjadi SADAR.
Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Bermalasan bukanlah hal yang menguntungkan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Kesadaran akan berharganya waktu senggang merupakan salah satu modal utama. Banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut sampai musibah atau peristiwa-peristiwa pahit menimpanya. Kita tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Kita tidak melakukannya. kita baru sadar pentingnya kesehatan kalau kita sakit. Kita baru sadar pentingnya olahraga kalau kadar kolesterol kita mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Seorang pelajar baru menyadari betapa pentingnya berusaha dalam ujian, setelah hasil ujiannya jelek. Kita melupakan kewajiban kita sebagai hamba Allah Swt. selama kita hidup dan kita baru akan menyadarinya setelah kematian menjemput kita.
Pelajaran tersebut nampaknya begitu mahal, kita bisa saja menyadarkan diri kita dengan mendengarkan dan mengambil pelajaran dari pengalaman yang pernah dialami oleh orang lain. Bagaimana menurut pendapat anda, bila yang hilang itu adalah umur tanpa manfaat, sedang anda sendiri tidak menyadarinya? Apakah untuk itu manusia diciptakan?. Kita sebaiknya berkaca pada firman Allah Swt.: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka maha tinggi Allah, raja yang sebenarnya (al-Mu’minûn [23]:115-116).
Dari ayat tersebut nampaknya kita harus cepat menyadari tiga hal berikut, siapa diri kita, dari mana kita berasal dan kepada siapa kita akan kembali. Bagi kita seorang muslim sudah sepatutnya mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan di atas lalu kemudiaan merealisasikannya dalam bentuk ibadah kepada Allah Swt. sehingga tidak ada alasan untuk hidup sambil tertidur. Terutama bagi seorang wanita yang merupakan bagian dari komunitas dunia. Seorang wanita seharusnya menyadari betul peran yang dimainkannya dalam kehidupan ini. Peran seorang wanita menurut tingkatan umurnya dibagi menjadi tiga fase, yakni, fase sebagai seorang anak, istri dan ibu. Ketiganya membutuhkan perhatian besar melihat pengaruh yang dimiliki oleh seorang wanita. Ketiga fase tersebut nampaknya mempunyai kaitan yang kuat satu sama lain. Misalnya pada fase pertama, disanalah pembentukan karakter dimulai, apapun karakter yang terbentuk dalam fase tersebut akan berpengaruh pada fase berikutnya terutama bagi fase ketiga yakni fase seorang ibu. Dengan demikian secara tidak langsung seorang ibu mempunyai efek yang sangat besar terhadap pembentukan jati diri seorang anak. Demikian menurut konteks peranan wanita dalam kehidupan. Belum lagi melihat kewajibannya sebagai hamba Allah Swt. Dari sini kita bisa melihat berapa besar peranan kita sebagai seorang wanita muslimah.
Untuk melaksanakan segala hal yang menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang muslimah kita mesti bersikap optimis dan mempunyai motivasi yang kuat serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. kapanpun dan dimanapun kita berada. Ada sebuah ungkapan menarik dari penulis buku As’adu-Imroatin fil ‘Alam, Dr. ‘Âidh Abdullah al-Qarni, MA., “Wahai orang yang sengsara, kau telah mati sebelum datang kematian. Bila engkau menginginkan kehidupan, maka berharaplah kepada-Nya”. Yang berarti, Bila kita mengenali Allah diwaktu lapang kita, maka Allah akan mengenali kita di waktu kita sempit. Kemudian beliau memberikan contoh berdasarkan kisah Nabi Yunus a.s. beliau berdoa dalam firman Allah Swt. Ketika beliau terhimpit dalam perut ikan paus“ maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim” (al-anbiyâ’ [21]:87). Seketika itu pula Allah menjawab doa beliau dengan firman-Nya “maka kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman” (al-anbiyâ’ [21]:88). Sudah saatnya kita menyadarkan diri kita dari tidur panjang kita selama ini, tinggalakan kelalaian masa lalu kita, namun bukan berarti kita meninggalkan pelajaran yang terkandung di dalamnya.

Selasa, Agustus 11, 2015

Blog Kadaluarsa ini, Berusaha Eksis Kembali

Bismillahirrahmaanirrahim...
Ibarat makanan, blog saya ini bisa dikatakan kadaluarsa. Sebab pemiliknya yang sok sibuk ini sudah tidak pernah menyentuhnya lagi. Meskipun kadang suka merepost ulang demi menjaga eksistensi.
Tiga tahun belakangan ini saya memang sedang menyibukkan diri berkiprah di dunia pendidikan. Dari mulai mengajar di sekolah yang dipimpin orang lain, hingga kini sedang belajar menjadi pemimpin di sebuah sekolah di bilangan Bekasi Utara. Tugas yang berat ini, bagi seorang junior seperti saya memang membutuhkan tenaga dan fikiran ektra untuk dapat memajukan sekolah yang saya pimpin sehingga membuat saya selalu absen untuk sekedar sharing dengan teman-teman blogger. Saya sungguh merindukan saat-saat menghabiskan waktu hanya sekedar melayout blogger saya ini hingga memposting tulisan yang mungkin bagi sebagian orang itu tidak penting. Tetapi yang terpenting bagi saya adalah dapat terus menjaga eksistensi dan bisa sedikit sharing pengetahuan dan pengalaman. 
Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah proses kepuasan diri, jika di lihat dari pengorbanan dan perjuangannya. Dalam perjalanannya, saya sudah banyak mengucurkan air mata, keringat, tenaga dan materi. Tapi semua itu dapat terbalaskan dengan kepuasan bathin saat mendapatkan arti dan makna dari sebuah pengorbanan hidup demi terealisasinya cita-cita murni seorang yang ingin mengabdi pada Agama dan bangsanya. Ibarat menyeruput secangkir cokelat panas, di bekunya puncak Fashlu as-Syita (musim dingin) di Kairo sana.
Pengorbanan yang saya bicarakan di sini bukan hanya tentang kerasnya kehidupan, tetapi juga tentang bagaimana seorang Al-Fakir ila rahmatillah seperti saya ini ingin ikut serta mencerdaskan anak bangsa mulai dari NOL.
To be continued....


Jumat, Agustus 17, 2012

P e n g h a p u s

Jika kita salah dalam menggoreskan sesuatu di kertas, apa yang kita lakukan??

Menghapus. Ya menghapus. Dengan karet penghapus atau dengan tipe-x? Bisa dua-duanya. Jika kita menghapus dengan karet penghapus, apakah tulisan yang salah itu masih ada? Tidak. Jika kita menggunakan tipe-x, apakah tulisan yang salah itu masih ada? Ya, masih, hanya tertutup dengan tipe-x.

Demikianlah kita memaafkan kesalahan orang lain. Jika kita memaafkan kesalahan orang lain dengan ‘karet penghapus’ maka kita memaafkan dan melupakan kesalahan orang tersebut. Namun bila kita menghapusnya dengan tipe-x, itu artinya kita masih menyimpan kesalahan orang tersebut dalam hati kita.

Teman-teman, bulan Ramadhan telah memasuki hari-hari penghujungnya. Saya sebagai manusia yang lemah dan tidak sempurna mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah saya lakukan pada kalian semua. Hapuskanlah kesalahanku dengan karet penghapus sehingga kesalahanku tidak lagi kalian simpan di hati. Mohon maaf lahir batin. Semoga kita kembali kepada kebersihan diri, kesucian hati, kejernihan jiwa.

Selamat hari raya Idul Fitri 1433 H.


Selasa, Agustus 14, 2012

M e n t a r i - k u

Hangat dengan sesuatu yang secara material tak terjangkau. Tapi tak disini. Di hati. Pelan-pelan mencuri waktu. Mengendap-endap mencari senyum. Dua musim berganti. Tingkahmu masih sama. Rasa yang berlebihkah? Entah. Sama-sama tak ingin tergesa menarik ucap.
Ajari aku bertutur, Imam Sujudku. Kenalkan aku pada hangat duniamu. Setelah itu, aku tunjukan keramahan duniaku.
Duhai Imam Sujudku, apa yang ada dalam benakmu kala aku menangis bahagia karenamu dan kau selalu tawarkan bahumu?
Lalu, kau bangunkan aku dengan sentuhan lembutmu. Seringkali kau mengaku tak tidur. Apakah kau tahu kehadiranmu lebih hangat dari secangkir kopi dan mentari pagi?

Sabtu, April 14, 2012

...Aku sadar...

Cangkir teh yang tadi ku isi penuh kini kosong setelah kau meminumnya pagi tadi, seperti ruangan ini, kamar kita. Aku terduduk di sisi kamar sambil memandangi cangkir tehmu. Aku selalu merasa kehilangan saat kau tidak di sisiku, lelakiku. Kau yang sudah 3 bulan ini masuk ke dalam hidupku. Ah, aku sadar, aku memang kadang sedikit kekanak-kanakan, ada rasa ingin selalu di manja, ingin selalu ada di sisimu. Tapi aku sadar, kau mepunyai banyak tugas dan kewajiban. Semoga Allah selalu melindungimu di setiap langkahmu. I Love You My husband.

Salam cinta dariku,
U'r wife

Kamis, Maret 10, 2011

Bagaimana Anda Memperlakukan Al-Qur'an?

Al-Qur'an memperkenalkan dirinya sebagai "Kitab yang tiada keraguan didalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa" (Q.S.Al-Baqarah [2]:2). Artinya, kitab suci Al-Qur'an merupakan petunjuk dan pegangan hidup kita. Persoalannya sekarang, bagaimana sebenarnya kita memperlakukan Al-Qur'an dalam hidup kita?

Tentang Putih, Tidakkah kau Lupa

Sudut itu berupa putih dikelilingi cermin yang tersengat mentari, seperti lintasan purnama. Saat itu yang kutanyakan bukan tentang hitam, tapi luka yang tak terbaca oleh sunggingan senyum paksa bersama hujan. Kau tahu di mana Syurga?, kau ingat saat itu kita bersama-sama menerjemahkannya menurut pemahaman kita masing-masing, di tengah debur ombak yang membelai jilbab pich dan violet yang kita kenakan.



Boleh kutanya tentang tulisan kaca yang kau buat? Saat putih memadu di kelopak kuntum tulip yang tersusun rapi di meja marmer. Kini, saat kau ketuk kembali iramanya membuncah seperti pecahan gelas yang kembali terlempar. Kau seperti menghilang. Aku lupa, untuk siapa senyum ini. Lorong moksa ada di hadapan kita, kawan. Gumpalan mungkin sopan mengaduh, mencinta damai.

*Putih mulai mengebiri hitam. Ya, warna yang paling aku cinta. Warna yang tak pernah sanggup investasi apapun. Tak ada yang meracuni warna hitam. Jika pun ada, justru lebur bersamanya. Namun, ketika putih hadir, keduanya tegas memberi tahu identitasnya masing-masing.

Putih dan tulip telah menerjemah persahabatan kita. Semoga maknanya takkan luntur.

Bukan Tentang Mendung

Sebenarnya ini bukan tentang mendung, hanya menerjemahkan rasa yang tidak terungkap oleh lidah. Ini juga bukan tentang kematian, karena saya sangat tahu bahwa setiap yang hidup pasti akan mati, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya yang suci "tiap-tiap jiwa (yang bernyawa) akan merasakan kematian" (Q.S. Ali Imran [3]:185).

Minggu, Februari 27, 2011

Nagmii....

Bintangku...
Ku mohon jangan kau berdiri di tempat yang tak bisa kulihat!
Kau tahu, di sini ada banyak tanya. Ya di sini, di ruang hatiku. Tentang sinarmu.
Aku tak peduli pada ruangmu karena ku yakin seiring berjalannya waktu, kau akan menemuiku dengan izin-Nya. Karena kau ada di sini, di garis takdirku.
Aku bulan yang merindu cahayamu, berharap sinarmu menemani di setiap jengkal sunyi.


Teruntuk bintangku...

Sabtu, Januari 01, 2011

Tangisnya Membuatku Iba

Pagi itu seperti biasa saya membuka jendela pagi, menyapa gagah dan dermawannya sang matahari yang tiada hentinya menerangi hari, rintik hujan tak menghalangi sinarnya, membuat pagi semakin sejuk. 

Hari itu berjalan seperti biasa. Saya kembali melangkahkan kaki menuju sebuah tempat yang mempertemukan saya dengan wajah-wajah lugu yang menanti siraman cahaya, cahaya untuk membuka jendela dunia. Disana terlihat ada semangat, cita-cita dan harapan. Begitu indah dan menyentuh. Namun diantara wajah-wajah itu ada satu wajah yang menutupi ketiga hal indah itu dengan kegalauan dan penat. saya mencoba untuk mengungkap apa yang disembunyikannya, saya belai kerudung kecilnya, dia menatap saya dengan tatapan penuh iba membuat saya ingin segera meraih jemari mungilnya. berharap dapat sedikit mengurangi luka yang ia simpan. "Ibu guru, besok aku tidak bisa lagi melihat ibu" ucapnya dengan linangan air mata. 

Pilihan

Pilihan. Ya, ia laksana air yang terus mengalir menyusuri hamparan bumi. Laksana agkasa yang dengan birunya menaungi semesta. Ia selalu hadir dalam setiap desah nafas manusia. Karena ia adalah bagian dari kehidupan. Ia adalah bunga dari perjalanan hidup. Sebuah pilihan adalah hakikat kehidupan. Tak banyak yang paham akan makna pilihan; sebanyak yang tahu. Tapi, sebuah pilihan selalu hadir, suka atau tidak, kita kehendaki atau tidak. Dia terus menemani kita dalam mencari arti kehidupan dan makna kematian. Ia ibarat siang dan malam yang terus berganti hingga Sang Penguasa jagat raya ini menghendaki hilangnya proses ini dari peradaban dunia yang fana ini.
 
Hidup adalah pilihan. Berjalan adalah pilihan. Diampun adalah pilihan. Tak terelakan lagi. Kita hidup diantara pilihan. Kita bekerja adalah pilihan. Berlaku jujur adalah pilihan, Kita belajarpun adalah sebuah pilihan. Ya, kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Sampai pada saat kita ingin menyempurnakan Din pun, hati kita, pikiran kita akan dihadapkan pada sebuah pilihan. Pilihan hidup.

Jumat, Desember 31, 2010

Ku Maafkan...

Hari ini kulihat jalinan rantai itu menguat. Di sana ada keindahan meski jauh di lubuk hati ada luka yang terkulum bersama isak, sulit terpecahkan.
Entah, aku belum mampu mengungkapnya. Aku ingin berguna untuk sekedar mengurai tawanya.
Berharap rantai-rantai itu mengikis walau hanya untuk sejengkal dosa.

Ada makna di sana, tertoreh bersama satu, dua bahkan tiga kegundahan.
Aku sudah sedikit bisa menjadi lebih tegar karenanya. Bukan saja untuk luka yang bersarang, aku menjadi sedikit lebih berani mengurai salah dan menjemput kata maaf.

Kita memang bukan Malaikat.

Sabtu, Juni 26, 2010

Aku, Kamu.

Aku ada, kaupun ada.
Aku pribadiku, engkau pribadimu.
Maha karya indah yang Tuhan cipta, bingkisan yang terbungkus indah dalam wujud yang bernama manusia.
Namun lihat dan bukalah apa yang tersimpan didalamnya?
Kotoran hitam yang membusuk ataukah mutiara berbinar.
Aku berdiri di sini, kaupun begitu.
Kita ada di sini, dalam waktu yang sama dan kita berpijak di bumi Tuhan yang sama.
Haruskah ada dendam??

Senin, Oktober 26, 2009

Kasyfu At-Taqdiraat (Bagian ke-II) Thanks God...


Hari ini saya pergi ke kuliah, menemui Ablah (Miss.) Hana  di Qism Khirrijaat (Bagian Urusan Ijazah) untuk memastikan keadaan kasyfu at-taqdiraat (transkip nilai) saya yang tak kunjung selesai. Sesampainya di sana saya menjumpai temen-teman satu fakultas sedang mengantri untuk mengambilnya. Alhamdulillah, tenyata transkip nilai kami sudah bisa di ambil. Akhirnya... setelah satu bulan menunggu, si kasyfu at-taqdiraat keluar juga. Mereka bilang transkip nilai sudah bisa diambil sejak hari kamis kemarin. Ternyata saya ketinggalan informasi. Memang akhir-akhir ini saya sibuk mempersiapkan ujian level terakhir kursus bahasa arab yang tinggal beberapa hari lagi, belum lagi mempersiapkan dan merancang hasta karya sebagai syarat kelulusan saya di markaz nil. Semoga semua berjalan sesuai target, amin.

Saya berada di urutan ke empat di jajaran antrian. Satu jam sudah berlalu, tetapi Ablah Hana belum membuka pintu ruangan, dia masih sibuk membenahi berkas-berkas transkip nilai. Beberapa menit kemudian Ablah Amal (petugas yang mengurus ijazah sementara), keluar menghampiri Dzoriefah, teman saya yang berada di urutan pertama antrian, dia sedang membaca al-Quran sehingga tidak menyadari kalau Ablah Hana menegurnya. "Ismik eyh ya habibty?" (nama kamu siapa?), tanya Ablah Hana. "Ana? ana Dzoriefah ya Ablah", jawabnya kaget. "Shoutik jamiel awi ya habibty, ta'aly istamirry qiroatik bi janib maktaby" (suaramu bagus banget. Kemarilah, teruskan bacaanmu di dekat meja kerja saya), pintanya.

Tiga puluh menit berlalu pintu ruanganpun dibuka. Dzoriefah menghentikan bacaannya dan pamit untuk menjumpai Ablah Hana. Namun Ablah Hana masih saja repot dengan berkas-berkas transkip semua fakultas yang bertumpuk di atas meja kerjanya dan dia mengatakan akan memuai kerjanya ba'da nush sa'ah (setengah jam lagi). Fuih.... Seperti inilah administrasi di kampus kami. Namun itu bukan masalah lagi bagi kami, itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Walaupun demikian, Sumbangsi yang diberikan Al-Azhar untuk kami begitu besar, terutama ilmu pengetahuan yang kami dapat  di bangku kuliah secara gratis, belum lagi beasiswa bulanan yang membantu sebagian mahasiswa untuk meringankan biaya hidup sehari-hari di sini, untuk itu kami harus banyak bersyukur.

Tiba-tiba Ablah Amal memanggil Dzoriefah, kali ini bukan menyuruhnya membaca al-Quran di samping meja kerjanya, tetapi ia bersedia membantu Ablah Hana untuk membagikan transkip nilai kami. Thanks God. "Ahsyan qiro'atik wa shoutik ya dzorirfah, sa usa'iduki wa jamielatik ". (karena bacaan al-Qur'anmu dan suaramu Dzoriefah, aku bersedia membantumu dan teman-temanmu), Ablah Amal menjelaskan. Alhamdulillah, jika tidak demikian saya tidak tahu harus menunggu berapa jam lagi. Saya tidak sempat menduga, biasanya mereka tidak mau mengerjakan urusan yang bukan tugas mereka, namun karena bacaan al-Quran Ablah Amal bersedia membantu kami. Sekali lagi kami harus kembali bersyukur, Alhamdulillah.

Kamis, Oktober 22, 2009

Tahukan Anda

Selamat pagi semua....
"Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi ku nyalakan kompi, membersihkan ruang kecilku.... :D"
Udara di Mesir lagi gajebo (baca, ga jelas bo!) banget nih. Kalau bahasa masisirnya ghoir mu'tadil. Terang aja, kadang panas, kadang merasa kedinginan, cuappe dweh
Ngomong-ngomong soal udara, engga sengaja nemuin artikel yang judulnya "kapankah payung ditemukan?" (ga nyambung ya, bodo amat, hihi) siapa tahu kebanyakan kita ada yang belum tahu, makanya saya posting di sini. Selamat membaca...

Bagi kita tampaknya wajar saja untuk memakai payung saat hujan. Tapi sebenarnya payung tidak diciptakan sebagai perlindungan terhadap hujan. Mulanya digunakan untuk melindungi diri dari panas matahari.
 
Tidak diketahui siapa yang pertama kali menciptakan payung, tapi payung sudah digunakan sejak zaman dahulu kala. Mungkin orang Cina yang pertama kali menggunakannya, pada abad kesebelas sebelum Masehi.

Kita tahu bahwa payung digunakakan oleh bangsa Mesir kuno dan Babilonia sebagai pelindung dari panas matahari. Dan ada hal aneh yang berhubungan dengan penggunaan ini, payung menjadi simbol kehormatan dan otoritas. Di Timur Jauh pada jaman kuno, payung hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan atau bagi para pejabat tinggi.

Di Eropa, orang Yunani adalah yang pertama kali menggunakan payung sebagai pelindung dari Matahari. Dan payung menjadi umum di Yunani kuno. Tapi konon orang pertama yang menggunakan payung sebagai pelindung dari hujan adalah orang Romawi kuno.

Pada Abad Pertengahan, penggunaan payung bisa dikatakan lenyap.Kemudian muncul lagi di Italia pada akhir abad keenambelas. Dan sekali lagi dianggap sebagai simbol kekuasaan dan otoritas. Pada tahun 1680, payung muncul di Perancis, dan kemudian di Inggris.

Pada abad kedelapan belas, payung digunakan pada waktu hujan hampir di seluruh Eropa. Payung tidak banyak berubah dalam gayanya selama masa ini, walaupun memang menjadi lebih ringan. Baru pada abad keduapuluh payung wanita mulai dibuat dalam berbagai warna.



Rabu, Oktober 21, 2009

Untukmu Sahabat...




Ada beberapa hal yang belum sempat saya tuliskan di sini. Tahun 2005 yang lalu saat saya resmi menjadi mahasiswi di universitas Al-Azhar, Kairo saya berjumpa dengan dua orang teman satu fakultas yang hingga  saat ini menjadi sahabat terdekat saya. Mereka teman belajar saya, kuliah, curhat, tukar fikiran, diskusi hal-hal yang menarik tentang kehidupan, hang out at the weekend, tawa bareng, sedih bareng, pokoknya they're my best friend in this world deh. Orang-orang selalu bilang kalau kami tidak bisa dipisahkan, kami memang akrab dan kompak. Tapi engga tau kenapa, makna itu seakan memudar dan yang menyedihkan hal itu terjadi di hari-hari terakhir saya berada di sini. Persahabatan kami sedang diuji, akhir-akhir ini kami jarang kumpul di akhir pekan, nongkrong di kafe sambil membicarakan planning masa depan, berbagi cerita tentang hal-hal yang mewarnai hari-hari sibuk kami saat kuliah atau sekedar ngobrol santai sambil main UNO (childish kurang kerjaan). 

Kami memang berbeda, kami mempunyai gaya hidup, aktifitas dan interest yang berbeda. Tapi itu bukan masalah, justru itu yang membuat persahabatan kami lebih berwarna. Banyak hal yang telah saya alami bersama mereka, hal-hal menjengkelkan, menyedihkan, mengharukan, menyenangkan sampai pada hal yang memalukan, secara si taow emang rada gokil jail dan si izrut pendiem pemalu lebih tepatnya, engga heran kalau si taow sering banget ngerjain dia, paling sering sey pas kita abis makan bareng di restaurant indonesia pasti si izrut yang disuruh bayar ke kasir, secara dia ogah engga mau, emang dasar pemalu cuma bayar doang malu. Kalau lagi kaya gini kangen banget pengen kumpul bareng lagi.

Belakangan ini kami memang seringkali sibuk dengan urusan masing-masing, maklumlah udah pada gede makanya jadi jarang banget ketemu dan saat ada kesalahfahaman sedikit jadi sering suudzon gitu. Well, sudah seharusnya kita saling mengerti satu sama lain. Suudzon emang sering banget ngebuat segalanya berantakan. Hal itu takkan pernah menghapus makna persahabatan kita. Maafkan dan lupakan, cukup sudah. Apapun yang terjadi you're always my best friend i ever had. Good Luck untuk semua urusan kalian.

Sahabat,
Setiap untai kataku adalah doa yang takkan pernah luntur
berharap semua akan baik-baik saja
Sahabat,
Setelah kita gores bersama tinta perjuangan ini 
aku percaya maknanya takkan memudar
Terima kasih telah banyak membantuku mengenal lebih banyak tentang hidup.
 
Ku tulis ini untuk kalian, who know me inside out, thanks for being here for me, we may be different, but you're the best friends i ever had.

Selasa, Oktober 20, 2009

The things that make me happy


Habis pulang dari kursus enaknya minum teh hangat sambil buka-buka blog. Hampir sebulan engga jengukin si blog, kangen juga rasanya. Hari ini berjalan seperti biasa, ga ada yang istimewa, bangun pagi-pagi, mandi, rapi-rapi, nunggu bus, kursus selama 3 jam (saat kuliah belum kelar sih biasanya langsung ke kuliah). Sejak kuliah selesai 3 bulan yang lalu, hal yang di prioritaskan juga berganti, nyelesain level kursus, ngurus-ngurus ijazah dan cari oleh-oleh untuk keluarga. Dan bulan ini level kursus hampir tuntas, O, senangnya....saat yang saya nantikan akan segera tiba, Pulaaaaaaaaaaaaaaaang :) wait me Bekasiku tercinta, hehehe. Hi fi untuk sejenak mari singkirkan lupakan kata "pulang" dalam pikiranmu.

Hari ini kita akan berbicara mengenai hal yang membuat kita happy. What makes me happy?? sebenarnya pengen nyenengin diri aja, bosen juga nungguin ijazah yang belum juga selesai. OK, What makes you happy fi?
- Keliling dunia, wah.........
- Ada di rumah, gobrol-ngobrol di halaman rumah bareng bokap, nyokap dan ade-ade sambil bercanda-canda dan makan bakso.
- Berada di tepi pantai, tiduran di atas pasir sambil dengerin suara ombak.
- Bisa renang, menyelam, melihat indahnya dasar laut sambil ngambilin mutiara-mutiaranya, di jual deh. he9x.
- Berada di puncak gunung, melihat ke segala penjuru dunia sambil berteriak, hentikan peperangan dan segala pertikaian, aku muak mendengar dan menyaksikan itu semua.
- Berada di bawah menara eiffle, indah....
- Makan rujak bareng temen-temen sambil nangis-nangis kepedesan.... wahhh seruuuu...
- Ketemu Andrea Hirata duduk-duduk sambil ngobrol-ngobrol santai.
- Ditelpon temen-temen MI, Tsanawiyah dan Aliyah, i miss them.
- Curhat dan ngobrol bareng Ati, miss you so much friend. 
- Nonton comedy romance ketawa-tawa diselingi haru untuk sebuah kata, "cinta." Mellow deh, hihihi. 
- Ngerti Matematika, Fisika dan semua pelajaran yang ga lepas dari hitung-hitungan.
Indahnya...............

Jumat, Oktober 02, 2009

Where's Happiness??

I'm not afraid  of anything,
i just to know that i can breath
I don't need much of anything,
but suddenly, suddenly....
i'm small and the world is big,

all around me is fast moving
surrounded by so many thing,
suddenly, suddenly....
i'm young and i'm free,
but i get tired and i get weak
i get lost and i can't sleep
but suddenly, suddenly...
How does it feel to be different from me 
are we the same??
(avril Lavign)



Ney lagu kok mellow banget ya.
Kita seringkali berfikir bahwa orang lain, sahabat, teman, kenalan dan tetangga lebih bahagia dibandingkan diri kita sendiri. Mereka memiliki apa yang tidak kita punya. 
Tanpa disadari kita memang selalu tertarik untuk melihat orang yang berada di atas kita. Dan itu membuat kita selalu terpukul.

Kita selalu berfikir segala apa yang telah kita usahakan, tidak pernah membuahkan hasil yang kita inginkan. Segalanya seperti sia-sia belaka. Kita selalu merasa di sana, di tempat orang lain, lebih baik dan lebih bahagia. Sebab itulah kita selalu berputus asa sebelum berusaha.
Tapi  pernahkah kita berfikir bahwa mereka di sana juga melihat ke arah kita dan berfikir kita lebih bahagia, mereka melihat kebahagiaan ada di sini, milik kita. Mereka hanya melihat hal yang menyenangkan tanpa mengenal kekecewaan yang kita hadapi.
Hidup bahagia adalah seni yang sangat mengagumkan. Percayalah, kebahagiaan bukan terletak di sana, tetapi dia ada di sini, di dalam hati kita.
Where's Happiness??? Inside our mind.


(Arba' wa Nush, saat kebahagiaan terasa hilang. God, give me strength in this life)


Selasa, September 29, 2009

I've Been Waiting 4 U My Kasyfu At-Taqdiraat..... (Bagian I)


270909.

Hari ini, saya harus ke kampus untuk memastikan apakah kasyfu at-taqdiraat (transkip nilai ijazah) saya sudah bisa diambil atau masih belum lengkap. Saya bersiap-siap dengan penuh harap, agar kasyfu at-taqdiraat sudah bisa saya ambil, karena waktu saya mencoba untuk mengambilnya lima hari sebelum lebaran yang lalu, bagian pengurusan ijazah mengatakan bahwa kasyfu at-taqdiraat untuk jurusan Syariah Islamiyah (Islamic Law) baru bisa diambil seminggu setelah lebaran. Dan hari inilah waktu yang dijanjikan. Niatnya, kalau sudah bisa diambil saya akan langsung ke Kulliyyah at-Thibb untuk mendapatkan legalisir syahadah (Ijazah) sementara dan itu tadi, kasyfu at-taqdiraat. Karena jika belum ada kasyfu at-taqdiraat, saya belum bisa mendapatkan legalisir apalagi syahadah asli. Saya ingin sekali cepat-cepat menyelesaikan urusan ini, karena saya sudah ingin sekali kembali ke Indonesia. O, God, Sahhil kulla Umuuri.

Dengan langkah penuh semangat saya langsung mendatangi Ablah Hana di ruang qismu al-khirrijaat (bagian imigrasi).  
Ablah Hanna    : Inti 'aayizah eyh ya habibti (kamu mau apa?) sapa beliau tanpa basa-basi,  
Saya              : haakhudz kasyfu at-taqdiraat ya ablah, nazalat? (Miss Hanna, saya ingin mengambil daftar nilai ijazah saya, sudah bisa saya ambil?) jawab saya.
Ablah Hana   : Lissah yaa habibti, ahsyan natijah sanah tsaniyah lissah maugud liyya (Belum, karena nilai-nilai tingkat dua belum ada di saya).  jawab Ablah Hanna dengan penuh penyesalan.
Saya                : Imta ya Ablah (Kapan bisa saya ambil?)
Ablah Hana  : Ana musy 'arfah, mumkin bukroh aw ba'da bukroh aw ba'da ushbuu' (saya belum tau, bisa jadi besok, lusa atau seminggu lagi), Jawabnya. Sebuah jawaban yang membosankan. Rasanya saya sudah sangat akrab dengan kata-kata itu.

Saya               : Ya Ablah, Misy mumkin law bukroh, ahsyan sa usaafir ilaa baladi (Miss, ga mungkin ya klo besok, saya mau pulang ke Indonesia nih?).
Ablah Hana      : Ana ba'ullik musy 'arfah bi dhobth, 'ammily at-taukiil (saya bilang saya belum tau pasti, kamu wakilkan saja) sarannya.

O God....., kecewa sekali diriku.... Dan bukan hanya saya, semua teman-teman satu fakultas juga merasakannya. Karena hal ini kami harus menunda-nunda terus waktu kepulangan kami ke tanah air. Padahal udah kangen banget nih sama bonyok dan ade-ade. 
Memang sih bisa saja saya wakilkan urusan ini kepada teman saya dan sebenarnya nita dan izza sudah siap untuk mengurusnya. Tapi setelah saya pikir-pikir, mengurusnya sendiri saja ribetnya minta ampun apalagi kalau diwakilkan, sungkan jika harus merepotkan orang lain. Jadi saya bertekad untuk menahan rasa kangen ini, hiks :(. 
Meskipun demikian, saya dan teman-teman terus mencoba untuk mendapatkan kepastian dengan tidak henti-hentinya mendesak Ablah Hana untuk secepatnya mengurus transkip nilai kami.

 O, Kasyfu at-Taqdiraat, I have been waiting for you....:(. 




Hehe... sekalian narsis ah... ckckckck :D
saya dan teman-teman satu fakultas (Islamic Law) di depan kampus Al-Azhar li al-banaat, Kairo.
Saya mengenakan baju dan jilbab kuning :)